
Setalah beberapa bulan yang lalu lima orang yang sudah bersahabat dari kecil itu akhirnya kembali. Kembali bersahabat dengan baik.
Kini malah semakin dekat, Anugrah tak lagi meresahkan Cintia yang memiliki perasaan untuk Keanu. Ia lebih percaya kalau Cintia yang sudah merelakan.
Anugrah tengah mencocokan harga dagangan yang baru masuk dengan harga yang di kirim oleh orang konveksi nya. "Lah, kok naik seribu." Gerutu nya kesal. Karena dengan ini, ia jadi harus menaikan harga jualan nya juga.
Ia tengah duduk sila dengan satu buku tulis, satu pensil, satu penghapus dan satu ponsel di teras rumahnya.
Mamak tengah mengantar rujak pesanan tetangganya, bapak tengah menunggu tungku di belakang. Karena tengah di pakai untuk menghangatkan nasi, mamak tidak mau menghangatkan di kompor, irit gas katanya.
Hari ini lagi sepi kata mamak, jadi rujak nya sampai sore hari masih ada. Untung nya sore ini ada yang borong, karena tetangganya kedatangan tamu dari kota.
Tak lama dari mengantar rujak pesanan yang lumayan banyak, mamak sudah kembali.
"Masih di sini, kamu Nu?" Tanya mamak. Mamak masuk ke dalam tak menunggu jawaban dari sang anak.
Anugrah hanya mendongak sebentar dan menunduk lagi, sesekali ia menaruh ujung jilbab segi empat nya ke belakang agar tak menghalangi tulisan-tulisan yang tengah ia cocokkan.
__ADS_1
Sampai langit yang biru dengan awan putih berubah warna menjadi jingga Anugrah tak menyadari nya, dirinya masih tetap sibuk di teras. Sampai terdengar suara adzan Magrib, dan seketika itu ia mendongak. Menajamkan telinga untuk mendengar.
"Nduk, ayo ke Musala, jadi anak TK nya buat besok lagi." Ujar bapak Yudi yang sudah siap dengan sarung, baju Koko dan tengah menyampirkan sajadah di bahunya.
Bapak memang suka menyebut kalau Anugrah anak TK, saat memegang buku. Karena yang Anugrah pakai selalu pensil bukan pulpen. Padahal alasan Anugrah pakai pensil, supaya mudah untuk menghapusnya jika salah.
Belum di jawab oleh sang putri, bapak sudah jalan. Anugrah menutup bukunya, dan membawa masuk. Ia berpapasan dengan Mamak yang sudah cantik dengan mukenah nya, di depan kamarnya.
"Tunggu, Mak! Jangan di tinggal!" Teriaknya pada mamak.
Mamak menunggu di depan pintu dengan kunci di tangan nya. Dan begitu anaknya sudah keluar dengan memakai mukenah, mamak dengan sigap menutup pintu dan menguncinya.
"Suaranya, aku kenal," ucap Anugrah.
Ia hapal betul itu suara siapa, tapi apa iya?
Sampai di Musala ia langsung masuk karena sudah wudhu di rumah, ia langsung menggelar sajadah nya di samping mamak.
__ADS_1
Sebelum orang tengah duduk dengan mikrofon di depan sana Iqomah ia segerakan untuk salat sunah terlebih dahulu.
Dan begitu selesai, dan salat Maghrib di laksanakan.
Dan setelah selesai semua, termasuk berdoa kini tiba saatnya anak-anak ngaji, Anugrah dapat melihat seseorang yang masih duduk sila menghadap ke depan itu membalik badannya.
Senyum terbit di antara keduanya, dari senyum tipis sampai senyum lebar memperlihatkan gigi mereka.
Bahu Anugrah bahkan sedikit terguncang karena saking senangnya bisa melihat wajah orang itu secara nyata.
Walaupun dari jarak beberapa meter ia dapat melihat kebahagiaan juga di sana.
Keanu memberi kode untuk keluar, Anugrah pun pamit pada Mamaknya untuk keluar sebentar.
Setelah mendapat izin, mereka berdua keluar bergantian. Anugrah di iringi godaan cieeee-cieee dari anak-anak dan orang yang berjamaah di Musala. Termasuk Mas Syarif.
"Tungguin!" Teriak Anugrah, begitu ia sudah di jalan. Sedang Keanu yang sudah jalan di depannya membalik badannya dan tersenyum.
__ADS_1
Berdiri diam menunggu perempuan yang mengejarnya dengan mengangkat ujung mukenah nya.