Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Najib dan Widya


__ADS_3

"Astaghfirullah." seseorang membuat dirinya terkejut.


Bagaimana tidak? ia sedang memilih buah lalu mengambil nya, tiba-tiba ada seseorang juga mengambil buah itu.


"Ah maaf, saya tidak sengaja." Orang tersebut kembali menarik tangannya, saat tak sengaja bersentuhan dengan wanita itu.


"Tidak apa-apa." Widya menoleh ke arah orang itu, ia kembali terkejut ternyata itu adalah ustadz nya di pesantren.


"Us-ustadz."


"Widya kan?"


"Iya, ustadz."


"Kenapa kamu seperti melihat hantu, saya ini tampan loh," ucapnya narsis.


"Iya, memang tampan," lirih nya.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya nya. Padahal, ia mendengar yang dikatakan Widya.


"Tidak ada ustadz."


Suara seseorang mengalihkan perhatian mereka, dan langsung menoleh.


"Widya, apa sudah selesai memilih buahnya? kenapa lama sekali?" Ibu Widya menyusul anaknya itu, karena tak kunjung datang ke ibunya, ia sampai selesai berbelanja barang-barang untuk di dapur, ternyata anaknya ini masih saja di depan buah-buahan.


"Udah kok bu."

__ADS_1


"Eh ustadz Najib," sapa nya.


"Iya ibu," angguknya sopan.


"Kesini dengan siapa ustadz? oh janjian sama Widya yah?" ustadz hanya menatap bingung kearah ibu Widya sambil tersenyum.


"Ibu, kita hanya gak sengaja ketemu disini."


"Owalah, kirain janjian kalian, ibu senang kalau ustadz dengan anak saya." Ustadz Najib lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya Widya.


"Ibu apaan sih, Widya malu," bisiknya.


Widya ingin sekali menghilang dari hadapan ustadz Najib, ia malu untuk sekedar melihat wajah ustadz nya itu.


"Ustadz, maafkan ibu saya," ia merasa tidak enak.


"Ya ampun senyuman mu melemahkan ku" batin Widya


"Iya, ibu tau ustadz Najib tampan, tidak perlu diliatin sampai seperti itu," ucapnya menyenggol lengan Widya.


Widya kembali menunduk gara-gara ucapan ibunya.


"Punya ibu gini amat bikin malu aku terus"


Ustadz Najib terkekeh, melihat Widya yang salah tingkah kepergok ibunya yang sedang menatapnya.


"Maaf ibu dan Widya, saya permisi dulu assalamu'alaikum," ucapnya setelah menaruh buah di troli belanja nya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."


Widya melihat ustadz Najib, telah berjalan mencari sesuatu meninggalkan mereka.


"Ibu, kenapa blak-blakan seperti itu, Widya kan malu," menutup wajahnya.


"Lah, kamu tau malu juga toh wid? lagian sok kalem segala, biasanya juga lebih dari ibu."


"Jaga image bu, depan orang tampan mah beda." Mereka tidak tau saja, padahal ustadz Najib juga lebih sok kalem.


"Yayaya ibu juga pernah muda, jadi ngerti lah biar keliatan cewek yang kalem adem, padahal mah asem."


"Itu mah ibu yang asem," ucapnya tertawa.


Lalu berlari meninggalkan ibunya


"Eh dasar anak ini, ibunya sendiri di katain asem, sini kamu." Ibu Widya juga mengejar anak nakalnya ini.


Di sebelah tempat mereka, sebenarnya ustadz Najib belum pergi, ia masih melihat interaksi ibu dan anak itu, ia mendengar percakapan mereka, ia sangat rindu sosok seorang ibu yang bisa ia ajak ngobrol dan tertawa bersama.


"Ternyata Widya cantik juga, ceria dan dekat dengan ibunya." Itu mampu membuat seorang ustadz Najib mengagumi sosok Widya saat ini, dirinya seorang yatim piatu sejak ia masih kecil, ia tinggal di pondok yang sudah dianggap anaknya sendiri oleh abah dan ummi.


Baru tahun lalu ia pindah ke rumahnya sendiri dari hasil kerjanya, ia tidak mau terus-menerus menumpang, walaupun tidak apa-apa tinggal di pondok, namun tetap saja ia memilih untuk mempunyai rumah sendiri.


Supaya ketika menikah nanti ia sudah mempunyai tempat tinggal untuk ia tempati bersama istrinya.


Selalu dukung othor bebu sayang.

__ADS_1


__ADS_2