Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Abyan ke luar kota


__ADS_3

"Mas Aby beneran gak ajak Arumi?" Tanya Arumi yang sedang menatap Abyan bersiap.


"Hanya tiga hari sayang, mas disana bukan jalan-jalan tapi mengisi acara."


"Maka dari itu mas, bukannya banyak istri dari pengisi acara ikut?"


Abyan mendekati Arumi yang terus saja ingin ikut dengannya ke luar kota.


"Kamu tunggu mas dirumah ya, sayang? Tiga hari itu tidak lama."


Arumi memeluk Abyan, ia sudah mengeluarkan air matanya karena tidak di izinkan ikut. Abyan mengelus kepala Arumi sambil mengecupnya.


"Kenapa jadi manja gini, biasanya malu untuk sekedar meluk mas."


"Kenapa? Arumi gak boleh meluk mas Aby?" Arumi melepas pelukannya dan semakin menangis.


"Bukan tidak boleh sayang, jangan nangis lagi ya. Cuma kamu mood nya sekarang cepat berubah dalam hitungan detik, mas jadi heran."


"Arumi juga gak ngerti, mas. Arumi hanya ingin selalu dekat."


Abyan mencubit hidung istrinya itu. "Sudah pandai menggombal."


"Gak ada gombal, ini dari keinginan hati mungil Arumi." Abyan terkekeh mendengar penuturan dari Arumi.


Ponsel Abyan berdering.


"Assalamu'alaikum jib."


"Wa'alaikum salam."


"Kenapa jib?" Tanya Abyan sambil mengelus kepala Arumi.


"Cepat keluar! Aku sudah di depan rumah mertua kamu, kita sudah waktunya berangkat."


"Sebentar, kamu tunggu dulu saya sudah siap."


"Baiklah lebih cepat, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Mereka mengakhiri sambungan telepon nya.


"Mas harus berangkat sekarang sayang, Najib sudah ada di depan."


Mata Arumi kembali berkaca-kaca. "Mas yakin tidak memerlukan Arumi disana?" Tanya Arumi.

__ADS_1


"Mas sudah terbiasa dengan Najib, mas bisa menyiapkan keperluan mas disana."


"Ayo antar mas keluar." Abyan mengambil tas punggung nya, hanya sedikit yang ia bawa. Tidak seperti wanita yang bisa satu koper, tas make up dan di tambah lagi tas selempang.


"Tidak mau, mas saja yang keluar." Arumi menghadap ke arah lain agar dirinya tidak melihat Abyan.


"Yasudah, cium tangan disini saja kalau tidak mau antar ke depan." Abyan mengulurkan tangan nya agar Arumi menciumnya. Namun Arumi mengabaikan tangannya, dengan terpaksa Abyan menarik lagi tangannya dan hanya mencium kening Arumi lembut.


"Sayang, mas berangkat ya? Kamu baik-baik disini, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Jawab nya tanpa melihat ke arah Abyan.


Abyan hanya menghembuskan nafasnya pelan sambil tersenyum, lalu dirinya keluar untuk turun. Karena Najib sudah menunggu nya.


Setelah Abyan keluar Arumi menoleh, dan ikut beranjak.


"Ayah, bunda. Abyan izin berangkat dengan Najib, mohon do'a restunya agar selamat sampai tujuan dan kembali kesini lagi tanpa kurang satu apapun."


"Iya by, kamu hati-hati yah."


"Istri kamu mana? Kenapa dia tidak mengantar kamu pergi."


"Arumi di kamar bun, dia-


"Kenapa kamu tidak mengantar suami kamu keluar?"


Arumi yang tadi nya tenang kembali berkaca-kaca saat menatap Abyan. "Mas Aby."


Abyan mendekati istrinya itu, sangat aneh menurutnya. "Kalau kamu tidak mau mengantar juga tidak apa, do'ain mas selamat sampai tujuan ya sayang."


Arumi memeluk Abyan seakan tidak ingin suaminya itu pergi.


"Sudah dalam mode manja pada orang yang tepat."


"Assalamu'alaikum," ucap Najib yang menyusul Abyan, karena tak kunjung keluar dari rumah.


"Wa'alaikum salam." Semua menatap Najib yang baru saja masuk, tapi tidak dengan Arumi yang setia memeluk suaminya.


"Ada ustadz Najib."


"Iya, karena saya sejak tadi menunggu Abyan tapi lama sekali, jadi saya menyusulnya."


"Saya akan berangkat jib, tunggu diluar saja!"

__ADS_1


"Ning Arumi lucu sekali, seperti anak kecil yang belum di beliin balon." Ucap Najib terkekeh. Namun terhenti saat Abyan menatap tajam ke arahnya.


"Sayang, mas berangkat ya."


"Zy," panggil ayah membuat Arumi melepaskan pelukannya.


"Mas hati-hati disana ya, maaf Arumi tidak bisa mengantar sampai bandara."


"Tidak masalah. Kamu juga hati-hati disini, mas akan pulang tiga hari lagi." Arumi mengangguk.


"Ayo by!"


"Mas berangkat ya." Abyan mengecup lagi kening Arumi, membuat Najib langsung berbalik.


Arumi mencium tangan Abyan yang tadi sempat ia abaikan. "Hati-hati mas."


"Ayah, bunda. Abyan pamit, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Saya juga pamit pergi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Mereka mengantar Abyan dan Najib ke luar rumah, sampai masuk ke dalam mobil dan melaju menjauh dari pekarangan rumah.


"Zy cuti hari ini, mau istirahat aja capek juga nangis terus."


"Kamu akting aja zy?"


"Bukan akting bun, tapi gak tahu kenapa sedih aja gitu." Setelah mengatakan nya, Arumi masuk ke dalam untuk istirahat.


"Kenapa zy jadi aneh."


"Ayah juga berpikir begitu bun, tapi dia marah kemarin saat Abyan menanyakan dia aneh."


"Bunda harus memastikan sesuatu."


"Apa bun?"


"Kepo ya andah," ujar bunda Faza dan masuk setelahnya.


"Iyah terserah kamuh." Ayah mengikuti gaya bicara Arumi dan bunda Faza. Lalu ikut masuk ke dalam rumahnya untuk berangkat kerja.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2