Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Tanda ikatan


__ADS_3

Farid datang menemui abah di ndalem, ia juga sekalian ingin menemui Almira.


"Saya kesini untuk memberikan ini." Farid memberikan kotak kecil berwarna merah, ia menyerahkan nya pada abah.


"Ini apa nak Farid?"


"Ini pemberian dari saya untuk Almira, karena sewaktu saya kesini tempo hari tidak membawa apapun, dan sampai terkejut ternyata Almira memilih saya. Maka kali ini saya membawa cincin sebagai tanda bahwa Almira sudah ada ikatan dengan saya, Abah." Abah memberikan nya pada ummi, beliau lalu membukanya dan menyerahkan nya pada Almira.


Almira tersenyum menatap cincin yang di pasangkan ummi ke jari manisnya. Sekarang dirinya sudah terikat dengan Farid, lelaki yang ia pilih teman kakak nya. Berprofesi sebagai dokter di rumah sakit milik keluarga nya.


"Apa nak Farid benar-benar menginginkannya Almira untuk di jadikan pendamping hidup nak Farid?" Tanya abah membuat Almira menatap abahnya.


"Kenapa abah? Apa saya terlihat berpura-pura?"


"Tidak. Abah hanya ingin tahu, karena nak Farid ini seorang dokter, sedangkan Almira hanya sebagai guru disini belum kerja di luar."


"Abah, ummi. Saya yang seorang dokter, karena saya juga yang akan menjadi pemimpin rumah tangga. Saya tidak mempermasalahkan jika calon istri saya hanya seorang guru ataupun pengangguran, karena saya hanya mencari pasangan hidup, bukan untuk bertanding masalah profesi."


Mendengar jawaban Farid, Almira tersenyum. Abah juga seperti itu dengan ummi, mereka hanya menginginkan suami yang baik untuk putrinya. Akhirnya mereka menemukan menantu yang mungkin bisa menjaga putri satu-satunya mereka. Tidak mungkin anak laki-laki mereka selalu bisa menjaga Almira, apalagi sudah punya pasangan masing-masing, dan sudah memiliki buah hati.

__ADS_1


...******...


"Kamu datang ke kampus nanti ya pi," Widya menelepon suaminya.


"Iya, kalau sudah selesai kerja. Soalnya pulang sore kayaknya."


"Gak apa sih, Widya kan bawa mobil sendiri, jadi kalau kamu gak datang juga gak apa." Ucap Widya membuat Najib mengernyit heran.


"Terus, kalau kamu sudah bawa mobil ngapain minta jemput sama aku sih mi?" Tanya Najib.


"Biar ada yang ngawal aku aja gitu dari belakang, kalau misalnya aku ada yang ngawal, apalagi yang ngawal aku suami sendiri 'kan seru pi." Ucapnya Widya sambil tertawa.


"Kamu sebenarnya mau di kawal, atau mau bareng aku aja? Kalau cuma mau di kawal, biar aku sewa polisi biar ngawal kamu sampai ke rumah."


"Kenapa tertawa?"


"Lagian aku cuma bercanda, tapi kamu malah serius."


"Kalau kamu benar ingin di kawal demi keselamatan kamu, aku siap bayar polisi biar ngawal kamu sampai ke rumah." Ucapnya demi keselamatan istrinya, ia siap membayar polisi untuk mengantar Widya selamat sampai tujuan.

__ADS_1


"Tidak perlu pi, tadi aku hanya bercanda dan hanya ingin tanya kamu lagi apa? Terus udah makan atau belum, tapi aku basa basi minta jemput."


"Kamu ya, bisa aja buat aku takut. Kalau ada apa-apa nanti aku gak percaya sama kamu gimana?"


"Makanya nanya sampai akhir, dan selesaikan pembicaraan pi, biar tahu benar atau gak nya."


"Iya mi, aku tutup dulu telepon nya ya? Aku mau lanjut kerja."


"Iya pi semangat kerja nya."


"Kamu juga biar jadi pengacara sesuai dengan yang kamu impikan."


"Iya pi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Mereka memutuskan sambungan telepon nya. Widya langsung masuk lagi ke kelas, dan Najib juga kembali dengan pekerjaan nya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2