
Dua bulan sudah berlalu, Zahra dan Yusuf menjadi keluarga yang utuh dan bahagia. Yusuf benar-benar berubah dan mengikhlaskan Arumi untuk Abyan, Zahra merasa bersalah dengan kedua sahabatnya yang dulu sempat meninggalkan mereka, tapi untungnya mereka masih mau memaafkan Zahra.
"Anak kita sudah berusia delapan bulan, hampir sembilan bulan ya mi." Ucap Zahra sambil menggendong anaknya. Zaniara putri Yusuf, nama anak mereka berdua.
"Feer sudah berusia sembilan bulan Ra kalau kamu lupa, anak kita selisih seminggu." Jawab Arumi.
"Cocok emang yang cowok lebih tua, Zaniara cewek lebih muda. Kalau mau dijodohkan pas banget mi." Widya mendengar itu memanyunkan bibirnya, karena dia yang berniat menjodohkan anaknya dengan Feer.
"Ini kenapa lagi? Kenapa mukanya gitu." Zahra melihat Widya yang langsung berubah.
"Iya gitu Ra, soalnya aku yang mau jodohin anak aku sama Feer, eh ternyata keluarnya juga cowok."
"Bersyukur anak kamu selamat dan sehat Wid, siapa tahu malah berjodoh sama anaknya Zahra."
"Sudah ada dua cowok yang ngantri, kamu luar biasa nak." Zahra mengacungkan jempolnya untuk anaknya.
"Bukan ngantri Ra, cuma siapa tahu salah satu dari anak aku dan Arumi berjodoh."
"Sama aja Wid, mau anak kamu atau Arumi, aku sama Yusuf tetap menerima pinangannya." Jawab Zahra tertawa.
"Masih kecil Ra, gimana sih main nerima aja. Mereka berhak memilih, jangan seperti aku dulu walaupun pada akhirnya tetap suka juga." Karena Arumi di jodohkan dengan Abyan oleh orang tuanya, laki-laki dingin yang ia kenal sekarang sudah menghangat.
"Iya mi, aku cuma bercanda kok. Tapi kalau beneran juga gak apa."
Widya hanya menggelengkan kepalanya, "sama aja dong Ra."
__ADS_1
"Umma," panggil Abyan. Mereka semua menoleh saat Abyan datang.
"Appa nya Feer jemput nak."
"Assalamu'alaikum, appa lupa."
"Wa'alaikum salam."
"Mas Najib dimana Gus? Kenapa gak bareng?" Tanya Widya.
"Saya memang mau jemput Feer dan umma nya lebih dulu, Najib menyusul sebentar lagi."
"Duduk dulu Gus, sekalian nunggu yang lain di jemput baru pulang juga." Zahra menyuruh Abyan untuk duduk, tapi hanya berdiri saja menatap Arumi dan Feer.
"Salah Ra, harusnya suruh Arumi tadi." Widya berbisik pada Zahra, dan Zahra mengangguk setuju.
"Sini, biar Feer sama appa." Abyan mengambil Zafeer dari gendongan Arumi.
Tak lama Najib datang bersama Yusuf.
"Kok kamu bareng Yusuf, Pi?" Tanya Widya yang melihat suaminya masuk bersama Yusuf.
"Tadi ketemu di luar sekalian sambil ngobrol-ngobrol." Jawab Najib langsung menghampiri anak dan istrinya, Yusuf juga sama langsung menggendong anaknya.
"Ayo kita pulang, sudah sore." Ajak Abyan pada Arumi.
__ADS_1
"Baru juga sampai by, kenapa buru-buru? Kita kan searah."
"Saya pulang kerumah, bukan ke pesantren." Arumi juga mengerti jika suaminya sudah tidak nyaman disana, sejak kedatangan Yusuf.
"Aku pulang dulu ya Wid, Ra. Takut terlalu sore sampai di rumah." Widya dan Zahra mengangguk setuju, mereka tidak berani dengan Abyan. Yusuf hanya menggendong anaknya, ia tahu kalau Abyan tidak suka, Yusuf pernah minta maaf, tapi walau bagaimanapun kejadian itu membuat Arumi ketakutan seperti dulu dan membuat Abyan marah.
Setelah Abyan dan Arumi keluar, Najib menatap Yusuf.
"Saya minta maaf atas Abyan, dia memang seperti itu walaupun sudah memaafkan tapi jika masalah Arumi pasti beda."
"Tidak apa ustadz, saya paham sama Gus Abyan. Semuanya juga karena saya awalnya." Zahra mengelus tangan Yusuf.
"Udah gak apa, nanti Gus Aby juga akan tahu kalau Yusuf sudah berubah." Widya menenangkan semuanya.
"Kita pulang juga, mereka juga belum mandi." Tunjuk Najib pada dua bayi. Lagian istrinya ngada-ngada, anak umur dua bulan dibawa nongki di cafe.
Mereka pulang karena anaknya belum mandi, Najib dan Widya pulang ke rumahnya, rencananya malam hari baru ke pesantren. Semua anak ummi dan abah masih sempat dan sering ke pesantren di usahakan setiap hari.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1