
Arumi selesai sekitar pukul 05:00pm praktek bedah organ, karena Arumi memilih menjadi dokter bedah, ia harus siap dengan rasa jijik pada darah dan organ manusia.
Awalnya Arumi ingin masuk hubungan internasional, namun setelah ia menimbang, akhirnya dokter bedah, jadi sekarang dirinya harus siap menjalani dengan apa yang di pilih dari awal.
"Arumi, kamu mau bareng aku aja gak? motor kamu simpan aja disini, gak bakal hilang kok," ucap teman Arumi.
Ketika keluar dari kampus, sekarang berada di area parkir.
"Gak apa sin, aku juga mau ke pesantren, ada jadwal mengajar."
"Emang kamu gak capek apa? mending langsung pulang aja mi."
"Capek sih, tapi sepertinya tetap harus kesana, soalnya bunda sama ayah aku ada disana."
"Yaudah, hati-hati ya kamu bawa motor nya, aku duluan."
"Iya kamu juga, makasih ya udah nawarin bareng," ucapku tersenyum. Sindi juga tersenyum ke arah ku, lalu ia masuk ke dalam mobilnya, melambaikan tangannya dari dalam saat akan melajukan mobilnya.
"Bismillah Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbina lamunqolibuun."
Artinya:
“Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”
__ADS_1
Arumi melajukan motornya, ia bingung ingin menuju kemana? jika langsung kerumah ia takut di tunggu ayah dan bundanya di pesantren, tapi jika dirinya ke pesantren, dia bingung juga takut di tanyakan tentang lamaran. Ia terus berpikir ingin menuju kemana, sampai tidak menyadari lampu merah yang sudah berubah jadi warna hijau itu, Arumi tetap bergelut dengan pikiran nya hingga klakson motor dan mobil mengagetkan nya.
Tinn tinn.....
Suara klakson yang berkali-kali di bunyikan di belakang Arumi.
"Gimana sih neng, kalau sudah lampu hijau jalan dong, jangan malah melamun."
"Astaghfirullah, maaf pak."
"Lain kali kalau mau melamun, jangan di jalan mbak," Ucap lagi bapak-bapak yang lain.
Arumi langsung melajukan motornya kesamping jalan, setelah melewati lampu hijau itu, untuk sekedar menenangkan diri nya dari keterkejutan omelan bapak-bapak.
Kring.. kring..
"Assalamu'alaikum zy," ucap nya setelah Arumi mengangkat panggilan nya.
Arumi terlihat mengatur nafasnya, yang masih belum stabil sebelum menjawab.
"Zy halo," panggil ayah karena Arumi belum ada suara nya terdengar.
"Wa'alaikum salam, iya ayah?"
__ADS_1
"Kenapa lama, untuk menjawab salam ayah?"
"Ini udah zy jawab."
"Kamu lagi dimana memangnya?"
"Lagi di jalan ayah."
"Kenapa bisa mengangkat telepon ayah kalau di jalan? kamu sama siapa?" tanya ayah membuat banyak suara bertanya di dalam telpon.
"Emm zy-
"Zy kamu dimana? sama siapa? kapan sampainya?" bunda mengambil telepon ayah.
"Satu-satu dong bun, zy lagi di tepi jalan, ini mau segera sampai, nanti zy cerita."
"Apa perlu gus Abyan bunda suruh jemput kamu?" Arumi langsung melotot mendengar nya.
"Tidak perlu bunda, zy akan segera sampai, bunda tunggu aja disitu assalamu'alaikum." Tanpa mendengar apa jawaban bunda, Arumi langsung memutuskan panggilan telepon nya.
"Harus segera sampai kalo gini, nanti bisa-bisa bunda makin aneh-aneh," ucapnya. Lalu melajukan motornya kembali untuk menuju pesantren, kali ini tidak perlu bingung lagi akan kemana.
Kalau aku sih minta jemput aja zy, gak apa lah yang penting sama gus Abyan 🤭.
__ADS_1
Bersambung 💃💃💃
Call me chinggu or bebu