
Semua orang berkumpul di ruang tamu, namun dokter Kevin dan Mira belum juga timbul.
"Bukannya sudah selesai shalat isya', apa mereka langsung tidur dan lupa kalau ada kita disini, mi?" Tanya Najib.
"Tunggu sebentar, ummi panggil dulu. Tadi soalnya Mira bilang sambil nunggu kalian mau beresin kamar nya dulu, besok mereka akan pindah 'kan? Jadi beresin beberapa baju yang akan dibawa."
"Biar Arumi aja yang panggil, ummi duduk aja." Arumi tersenyum dan menuju kamar Mira dan dokter Kevin.
"Mira, dokter Kevin, sudah ditunggu diluar sama yang lain, kalian belum tidur 'kan?" Tanya Arumi sambil mengetuk pintu pelan.
Mira membuka pintu dan melihat Arumi langsung tersenyum.
"Maaf mbak, tadi Mira milih baju yang mau dibawa sama yang masih ditinggal disini." Mira ingin menutup pintunya, namun dokter Kevin juga mau keluar.
"Dokter Arumi dari tadi?" Tanya dokter Kevin.
"Saya sudah dari selesai shalat isya', makanya saya kesini nyusul kalian karena belum keluar. Kata mas Najib takutnya kalian ketiduran, jadi lupa kalau ada yang lain datang."
"Kalau udah mas Najib, pasti pikiran nya sudah kemana-mana. Saya duluan dok," ucap dokter Kevin mau lebih dulu ke ruang tamu. Arumi dan Mira mengangguk, dan juga berjalan di belakangnya.
"Pasti mateng nih sama mas Najib, jadi malu mau ke depan mbak." Mira walaupun hanya berkemas di dalam kamarnya jadi malu untuk keluar.
"Biasa aja mir, mas Najib juga bercanda aja. Tapi emang kita jadi malu." Mira dan Arumi menuju ruang tamu yang sudah penuh dengan keluarganya. Untung saja tempat duduk disana cukup untuk mereka, karena dua tempat di jadikan satu di ruang tamu ndalem.
Arumi kembali duduk di dekat Abyan dan Feer, sedangkan Mira duduk di dekat Kevin.
__ADS_1
"Akhirnya datang juga, mas kira kamu sudah tidur mir karena gak timbul-timbul sama Kevin."
"Mira lagi beresin baju mas, besok kalau jadi Mira nginap di rumah dokter Kevin, biar gak ribet mau beresin lagi pas pagi-pagi." Semua orang saling menatap karena Mira masih tidak mengubah panggilan nya pada dokter Kevin.
"Dokter Kevin? Harusnya sayang dong, atau beb." Widya menyenggol lengan Najib.
"Kamu gimana sih Pi, orang masih canggung nikah baru kemarin. Tapi kalau boleh mbak kasih saran benar juga yang dikatakan mas Najib." Sebenarnya tidak ada bedanya pasutri ini.
"Mira belum tahu mau panggil apa, mbak." Mira melirik ummi yang tadi pagi sudah memberi saran agar tidak memanggil suaminya dengan profesi nya.
"Abah juga tidak suka anak Abah memanggil suaminya dengan panggilan profesi nya, panggil saja seperti kamu manggil mas kamu yang lain. Atau bisa juga yang mungkin sudah kamu siapkan." Mira menggelengkan kepalanya, karena memang belum ada persiapan untuk memanggil dokter Kevin itu apa.
"Apa kamu besok mau pindah ke rumah dokter Kevin?" Tanya Affan.
"Mira mau tinggal disana bisa juga sementara waktu, karena bisa aja Mira gak betah." Mira melirik dokter Kevin, ia juga takut jika tidak betah di rumah mertuanya, lebih baik dibicarakan dari sekarang.
"Saya juga ikut saja dokter mau tinggal dimana." Semua saudara nya bingung dengan mereka.
"Kalau kalian bingung, sebaiknya shalat dulu minta petunjuk. Kalau boleh mas beri saran kalian tinggal di rumah sendiri, tapi untuk sekarang beberapa hari menginap dulu di rumah orang tua dokter Kevin." Abyan juga seperti itu dulu, tapi karena sudah ada persiapan rumahnya sudah siap, ia bisa langsung menempati nya dengan Arumi. Berbeda dengan dokter Kevin yang belum membeli rumah.
"Saya juga sudah lihat-lihat rumah mas, cuma untuk sementara memang orang tua saya menyuruh saya dan Mira tinggal di rumah dulu. Pelan-pelan biar Mira juga ikut melihat rumah yang cocok untuk kita tempati nanti, kalau saya yang cocok tapi Mira gak suka dan gak nyaman dengan rumahnya gak enak juga kata papa dan mama."
"Kalau gitu biar mas aja yang lihat rumahnya," timpal Najib.
"Memangnya mas Najib istrinya dokter Kevin? Sampai mau ikut lihat-lihat rumah nya."
__ADS_1
"Mas Najib dan mas Aby akan lihat juga nanti, kalau kurang cocok dengan mereka biar kita yang desain lagi." Mereka lupa kalau Najib dan Abyan adalah desain interior dan arsitek.
"Oh iya juga, mas Aby dan mas Najib seorang tukang bedah rumah." Ucap Almira membuat Arumi dan Widya tertawa, ditambah oleh Laila dan Mira. Affan dan dokter Kevin juga ikut tertawa, karena profesi kakak iparnya di ubah oleh Almira.
"Bedain dong Al, antara tukang dan perancang." Najib melihat Abyan yang biasa saja.
"Iya hampir sama mas, bukannya tentang rumah juga?" Almira sebenarnya hanya pura-pura tidak tahu, walaupun awalnya memang ia lupa kakaknya seorang desain interior dan arsitek.
"Iya in aja." Jawab Najib yang pasrah.
Almira tertawa mendengar ucapan Najib, ia puas mengerjai kakaknya.
"Bukannya disini sudah sangat lengkap, dirumah ini ummi dan abah sudah sukses mendidik kita semua. Al senang dengan keluarga kita yang dengan profesi berbeda-beda, sepertinya Faeya harus jadi polisi, terus Feer jadi pilot, dan Fatih jadi tentara nya, Filla jadi designer. Keren kalau semua profesi dimiliki anak-anak."
"Iya sih, bagus juga mimpi kamu Al." Najib bukan mengaminkan, ia malah memuji impian Almira
"Aamiin, semoga mereka bisa mengejar cita-cita mereka."
"Aamiin..."
Semua sudah selesai, sekitar jam sepuluh, mereka kembali ke rumah masing-masing. Mira dan dokter Kevin juga sudah selesai, tinggal mereka menanyakan Mina akan kuliah dimana, dan akan mengambil jurusan apa.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
__ADS_1
IG : @istimariellaahmad98
See you...