
"BUNDA," teriak Arumi mencari bunda nya.
"Bunda di dapur," jawab bunda Faza.
Arumi berjalan ke dapur untuk menemui bunda nya.
"Lagi ngapain sih bun?" tanya Arumi yang sudah jelas mengetahui, bunda nya sedang apa, tapi tetap saja bertanya.
"Bunda lagi nyangkul zy," jawab bunda sembarang.
"Ih bunda, zy kan nanya lagi apa di dapur? malah di bilang nyangkul sih," ucapnya mengerucutkan bibirnya.
"Tuh bibirnya mau bunda potong aja nih, sekalian di masak."
"Bunda jahat banget coba."
"Lagian udah tau bunda ngapain, masih ditanya lagi apa di dapur."
"Iya kan basa basi bun, siapa tau cuma main."
"Main perang-perangan nih, bantu bunda aja masak, bunda hari ini mau masak banyak," ujarnya tanpa melihat ke Arumi.
"Ada acara apa sih bun? kenapa harus masak banyak? nanti mubadzir loh."
"Udah tinggal bantuin aja, noh kupas kentang nya, biar gak orang nya aja yang kayak kentang." Bunda menunjuk kentang di depannya.
"Masa kayak kentang sih bun? berarti bunda ratu kentang dong," timpal Arumi disertai gelak tawa.
"Buru bantu aja."
__ADS_1
"Baiklah nyonya Faza, saya akan melakukan tugas saya," jawab Arumi memeluk bunda nya manja.
"Silahkan ning Arumi zyakana, pekerjaan anda telah menanti." Bunda sengaja menyebut ning agar Arumi langsung mengerjakan tugas nya mengupas kentang.
Orang kalau merajuk, biasanya kerja lebih cepat.
"Jangan ada ning nya bun, panggil seperti biasa aja, panggil Arumi itu zy," ucap Arumi merengek.
"Sebenarnya kalau dilihat dari tingkah laku, belum cocok dengan panggilan ning, apalagi jadi istri, manja terus lagi."
"Zy kan manja cuma sama bunda." Arumi kembali menyender di bahu bunda nya.
"Ada apa ini manja-manja di dapur?" tanya ayah yang baru datang kerja.
"Ayah, zy cuma pengen manja sama bunda, tapi malah gak di bolehin," adu nya pada ayah.
"Yah belajar dari sekarang zy, biar nanti gak manja sama suami," jawab ayah.
"Lah malah melow gini, ayah kan cuma mengingatkan kalau nanti kamu jauh dari ayah dan bunda, tidak selalu bergantung ke Abyan."
"Kamu anak bunda dan ayah satu-satunya, kami tidak ingin kamu sedih nantinya, kamu harus kuat zy, pernikahan selalu banyak rintangan yang harus dilewati."
"Zy ngerti yah, bun, zy cuma ngerasa cepat sekali waktu berlalu, gak bisa manja seperti dulu lagi sama ayah dan bunda."
"Bukan gak bisa zy, cuma kurangi dari sekarang," ucap ayah memeluk kedua wanita nya itu.
"Lah kan jadi lupa kupas kentang, gara-gara melow gini." Bunda melepas pelukannya mengingat anak nya itu belum mengupas kentang.
slurrrrppp
__ADS_1
Arumi menarik cairan di hidung nya.
"Ih zy jorok banget deh, sana buang terus cuci tangan, jangan lupakan tugas yang memang harus di kerjakan."
"Ayah juga mau mandi dulu, mau siap-siap."
"Akan segera di kerjakan permaisuri," ucap Arumi membungkuk lalu pergi untuk membuang ing us nya.
"Anak itu terlalu sering nonton drama kolosal, jadi kayak orang korea gitu," ucap bunda memandang Arumi yang berjalan ke kamar mandi.
"Bagus dong bun, tanda hormat membungkuk pada orang yang lebih tua, tua banget malahan," jawab ayah.
Ayah menoleh ke arah bunda Faza yang sudah memicingkan matanya, seperti akan menerkam mangsanya.
"Maksud ayah, bunda tua banget? iya?"
"Bangunin singa tidur" batin ayah siap-siap kabur.
"Ayah mandi dulu bun, baru pulang kerja, masak yang enak ya." Ayah sudah berlari menuju kamar nya, menghindari omelan sang istri.
"AYAH," teriak bunda Faza.
Arumi yang melihat itu terkikik, begitupun dengan ayah yang baru masuk kamar.
Jangan lupa selalu dukung aku yah teman.
see you later
Annyeong.
__ADS_1
Bersambung 💃💃💃