Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Laki-laki dan perempuan setara


__ADS_3

Hari dimana yang di tunggu oleh Najib dan Widya, sudah waktunya anak mereka yang sudah lama di nanti akan lahir. Mereka sudah ada di rumah sakit, karena Widya merasa pembukaan pertama sejak dari rumah. Menunggu saat-saat buah hati mereka akan melihat dunia, ummi dan abah juga ada disana menunggu kelahiran cucunya.


"Pi, perut ku mules lagi deh." Widya merasa perutnya kembali mules, ummi menyarankan agar Najib cepat memencet tombol di brankar supaya dokter cepat periksa lagi keadaan Widya.


Tring... Tringg....


"Aby nelpon," ucap Abah.


"Angkat aja bah, bukannya dia sudah tahu Najib dan Widya di rumah sakit ini."


Abah segera mengangkat telepon dari Abyan.


"Assalamu'alaikum, Abah dan ummi dimana?" Tanyanya.


"Wa'alaikum salam, ada apa? Kamu kesini dengan Zafeer? Abah dan ummi menunggu Widya akan segera melahirkan."


"Iya bah, sama Arumi juga. Almira juga akan melahirkan sekarang, tadi Farid ngabarin Aby, katanya menuju rumah sakit juga." Abyan mengabari bahwa adiknya akan segera tiba di rumah sakit yang sama seperti Widya.


"Masyaa Allah Alhamdulillah, iya Abah dan ummi menunggu disini."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Abyan menutup telepon nya.


"Ada apa bah? Kenapa seperti menyebut Zafeer, dia sakit? Tapi Masyaa Allah? Ummi bingung." Ummi khawatir cucunya kenapa-napa, tapi ucapan suaminya membingungkan.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Aby hanya bilang kalau Al juga akan melahirkan. Akhirnya Al juga akan melahirkan selama penantian sepuluh bulan." Abah bersyukur karena Almira akan segera melahirkan di usia kandungan sepuluh bulan.


"Ya Allah, akhirnya. Ternyata mau barengan sama sepupunya." Najib dan Widya juga ikut bahagia, namun melupakan memencet tombol memanggil dokter.


"Shhhh, sakit lagi perutnya." Ummi dan abah juga Najib sadar dengan Widya yang merasa sakit.


"Ya Allah nak, kamu sudah panggil dokter?"


"Astaghfirullah," ucapnya langsung memencet tombol itu, hingga beberapa saat rombongan sudah tiba di ruangan Widya.


Ummi dan abah segera keluar, sambil menunggu putri nya tiba. Dokter memeriksa Widya, sudah pembukaan tujuh, masih menunggu pembukaan sempurna untuk melahirkan.


Najib keluar saat Widya kembali merasa tenang, ia menghampiri ummi dan abah diluar.


"Apa Almira sudah tiba? Bagaimana keadaan nya sekarang?" Najib juga khawatir dengan keadaan adiknya yang akan melahirkan.


"Iya ummi, tolong Abah dan ummi doakan kelancaran persalinan Widya dengan selamat." Najib meminta doa dari kedua orang tuanya,. Ia memegang tangan keduanya. Najib dan Almira yang lebih dekat dengan Abah dan ummi, berbeda dengan Affan apalagi Abyan.


"Kamu tidak perlu memintanya, Abah dan ummi selalu mendoakan yang terbaik untuk putra putri kami." Abah tersenyum menatap Najib, mereka tidak pernah membedakan antara anak kandung dan angkat.


"Terimakasih, Najib masuk dulu untuk menemani Widya di dalam." Mereka mengangguk dan tersenyum, Najib segera kembali melihat istrinya apakah sudah akan melahirkan atau belum.


Beberapa menit kemudian Farid dan Almira sudah sampai, Almira sudah berbaring di brankar dorong.


Tak lama di belakangnya Arumi datang bersama Abyan yang menggendong Zafeer, Laila dan Affan menggenggam tangan Afila. Melihat Abah dan ummi yang khawatir dengan putri dan menantu nya, mereka menghampiri nya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap mereka.


"Wa'alaikum salam." Abah dan ummi menoleh dan langsung menyambut Zafeer dan Afila untuk di gendongnya. Namun untuk Afila hanya di peluknya, karena Afila sudah cukup berat untuk mereka gendong. Usia yang hampir lima tahun, membuat Mbah Kakung dan Mbah uti nya tidak kuat mengangkat nya.


"Afila sebentar lagi punya adik, tiga sekaligus dengan Feer." Ucapnya yang sudah sangat pandai berbicara.


"Iya, adik kamu ada tiga. Pintar banget, kamu tahu dari siapa nak?"


"Dari ummi nya Fila, katanya Fila harus sayang sama mereka dan menjaga mereka. Tapi menurut Abi, yang menjadi pemimpin dan menjaga itu bukan perempuan, tapi laki-laki." Laila langsung menatap tajam suaminya, padahal menurutnya laki-laki dan perempuan sama saja, jadi sebagai kakak tertua Afila harus menjaga adik-adiknya.


"Abi hanya berkata lebih cocoknya seperti itu, tapi berhubung Afila yang paling tua, jadi harus menjaga dan melindungi adiknya." Affan segera memberitahu sebelum istrinya salah paham lagi, Afila sangat cerdas apalagi hanya mengingat perkataan Abi nya yang sangat jelas.


"Mas Affan mau Feer yang jaga? Padahal Feer masih kecil." Membuat Affan dan Abyan saling pandang.


"Bukan gitu mi," jawabnya sambil memainkan alis pada Abyan. Arumi sengaja ingin melihat Laila marah dan Affan minta maaf. Laki-laki dingin yang sudah bucin dengan istri nya.


"Iya mi, karena Afila yang tertua jadi dia harus menyayangi adik-adik nya. Perempuan setara dengan laki-laki, dan bisa saja lebih. Jadi hanya untuk menjaga dan melindungi tidak perlu laki-laki." Ucap Laila membuat Arumi tersenyum menatap Affan. Abyan juga ikut tersenyum melihat istrinya merasa lucu saat ingin melihat wajah Affan yang takut Laila marah.


Ummi dan abah juga tersenyum dengan keakraban mereka semua.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2