
Sekitar jam tujuh pagi, Abyan melihat dari ranjangnya, Arumi yang masih berkemas di kamarnya menggunakan baju rumah dari tadi subuh.
"Sayang," panggil Abyan membuat Arumi menoleh. Arumi membiasakan dirinya di panggil sayang, walaupun wajahnya sudah merona malu.
"Ada apa mas? apa kamu butuh sesuatu?" tanya nya mendekati Abyan.
Abyan menggeleng, "Mas tidak butuh apa-apa."
Arumi mengernyit bingung, "Lalu, kenapa mas panggil Arumi?"
"Kenapa seperti nya kamu tidak siap-siap, bukankah harusnya pagi ini kamu ke kampus?"
"Arumi gak ke kampus mas."
"Kenapa gak ke kampus?"
"Mas Aby sedang sakit, Arumi tidak mau meninggalkan mas Aby sendirian di rumah. Gimana kalau mas butuh apa-apa? gak ada Arumi di rumah."
Abyan tersenyum mengusap wajah Arumi yang sedikit berkeringat, "Mas tidak apa di tinggal, mas sudah sehat sayang."
Arumi menggelengkan kepalanya, "Arumi istri mas Aby, sama seperti mas Aby waktu merawat Arumi yang sedang sakit. Mas rela gak ngajar karena temani Arumi di rumah."
"Kalau gitu, sekarang kamu disini aja temani mas. Tidak perlu bersih-bersih terus, mas yang capek lihatnya."
"Arumi gak nyuruh mas perhatiin, Arumi nyuruh mas Aby itu istirahat."
"Arumi mau bersih-bersih di depan mas, mumpung lagi gak ke kampus," sambungnya lagi hendak berdiri, namun tangannya di tahan Abyan.
"Besok mas akan minta pekerja rumah tangga sama ummi, kamu tidak perlu capek-capek berkemas dan bersihin rumah ini lagi."
"Jangan mas! Arumi masih mampu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri."
"Mas juga mampu membayar pekerja rumah, mas gak mau kamu kecapekan."
"Hanya mengerjakan tugas rumah tangga, Arumi mampu mas. Apalagi selalu bersamamu sampai ke jannah nya Allah, mau di mampu-mampu in."
Abyan terkekeh, "di mampu-mampu in, walaupun gak mampu?"
Arumi mengangguk polos, membuat Abyan gemas dengan istrinya itu.
Abyan mencubit hidung Arumi, membuat Arumi mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Mas Aby."
"Na'am ya zaujatii?"
Hati Arumi berbunga-bunga mendengar ucapan Abyan.
"Kenapa sekarang pintar sekali berkata manis." Arumi mencubit pelan lengan Abyan.
"Mas hanya berkata manis sama kamu, sayang." Abyan menarik hidung Arumi kuat, sampai hidung Arumi memerah.
"Mas Aby, sakit." Arumi mengusap hidungnya yang terasa panas.
"Ya Allah, sayang. Maafin mas," Abyan menarik Arumi ke pelukannya sambil mengelus pundaknya.
"Yang sakit itu hidung Arumi, mas. Bukan pundak yang sakit," Arumi melepas pelukannya.
"Mas usap hidungnya nanti makin sakit, karena gemas sama hidung kamu yang kecil mancung. Makanya mas usap pundak kamu biar sedikit reda."
"Mas mau makan lagi gak? Arumi bawa kesini ya, sekaligus minum obat."
"Kita keluar aja, mas bisa jalan."
"Kenapa? mas juga masih mampu buat gendong kamu." Seperti biasa Abyan langsung menggendong Arumi.
"Mas..." Pekik Arumi.
"Apa sayang? mas disini, kenapa teriak?"
"Turunin Arumi, mas masih sakit." Arumi mencoba untuk turun dari gendongan Abyan.
"Mas hanya demam sebentar, tidak terus-terusan." Arumi mengalungkan tangannya di leher Abyan, menatap wajah tampan Abyan sambil tersenyum.
"Apa suami kamu ini sangat tampan? sampai kamu tidak berhenti menatap mas."
"Cepat turunkan Arumi mas," Arumi mengalihkan ucapannya.
Abyan menurunkan Arumi, karena sudah sampai di meja makan.
"Mas makan bubur lagi ya," Arumi mengambilkan bubur yang subuh tadi ia buat.
"Mas gak mau bubur."
__ADS_1
"Maunya apa?" Arumi menoleh.
"Maunya kamu selalu bersama mas," ucap Abyan.
"Gombal."
Abyan menghampiri istrinya itu, mencium rambutnya dari belakang.
"Mas tidak pernah gombal, itu hanya harapan dan doa mas untuk kita."
"Aamiin ya Allah, semoga kita selalu bersama."
"Ayo mas, Arumi juga mau makan bubur."
"Sebentar sayang, kenapa rambut kamu wangi sekali."
"Padahal keramas pakai lumpur."
"Hah? beneran?" Abyan melepaskan pelukannya. Membuat Arumi terkekeh menjauh darinya.
"Lagian disuruh lepas malah makin erat, masa iya pakai lumpur, shampo lah mas."
"Kamu yah, mas kira beneran." Abyan mengikuti Arumi sambil mengacak rambut istrinya itu.
"Sekarang makan dulu."
"Kenapa hanya semangkuk?"
Arumi mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Abyan, "Arumi kira kita akan semangkuk berdua, tapi kamu gak suka kayanya kalau berbagi."
"Jangan kan semangkuk berdua, dari mulut kamu saja mas akan makan."
"Memangnya, mas gak jijik?" tanya Arumi.
"Rasulullah segelas berdua dengan istrinya, kenapa mas harus jijik dengan istri mas sendiri."
Arumi tersenyum malu, wajah putihnya kini sudah seperti tomat mendengar ucapan Abyan.
Sudah mulai hangat-hangat nya nih hubungan, Mungkin sebentar lagi akan panas-panas nya guys.
Yuhuuuh selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
__ADS_1