
"Sayang, bagaimana jika kamu bunda dan ayah masukkan ke pesantren tempat kak zy dulu mondok." Ucap bunda saat bersama Anisa.
"Apa Anisa nakal bun? Bunda sama ayah gak suka ya Anisa dirumah ini?" Tanya Anisa menatap kedua orang tua baru nya. Karena ia sudah di adopsi oleh orang tua Arumi.
"Apa yang kamu katakan nak, bunda dan ayah hanya ingin kamu belajar disana, bukan gak suka kamu tinggal disini." Jawab bunda Faza tidak ingin anak bungsu nya sedih.
"Ayah dan bunda akan selalu menemui kamu disana, kak zy juga sering kesana, karena mertua kak zy yang mempunyai pondok."
"Jadi, kak zy menantu dari yang punya pondok, yah?" Tanya nya membuat ayah dan bunda mengangguk.
"Wah, berarti kak zy istri nya gus? Hebat banget, Anisa mau nanti punya suami seperti mas Aby." Ucapnya dengan nada riangnya.
"Kamu itu masih kecil harus belajar dulu, jangan mikir sudah mau menikah dan punya suami seperti ipar kamu."
"Cita-cita yang baik dimulai dari sejak dini bun, kalau nanti ketika besar cita-cita Anisa berubah, semoga yang lebih baik lagi dari mas Aby."
"Bagus Anisa, ayah setuju sama kamu. Tapi sekarang harus belajar lebih giat lagi dan memperbaiki diri. Belajar dimulai dari berpakaian yang tertutup dulu."
"Anisa mau kok kalau Anisa berpenampilan seperti kak zy, karena terlihat anggun dan cantik."
"Anak ayah keduanya sangat cantik," ucap ayah tersenyum mengelus rambut Anisa.
"Ada tapi nya gak yah?"
"Tapi apanya?"
__ADS_1
"Anak ayah keduanya sangat cantik, tapi lebih cantik bunda." Anisa terkekeh menatap orang tua barunya itu secara bergantian.
Begitu pula dengan ayah dan bunda yang ikut terkekeh, mereka bahagia saat Arumi menikah dan ikut suaminya rumah nya terasa sepi. Tapi kali ini ada Anisa yang membuat mereka seperti kembali ke zaman, dimana Arumi yang masih sekolah di bangku sekolah dasar.
"Assalamu'alaikum, ada apa nih?" Salam Arumi masuk saja saat mendengar orang tua dan adiknya tertawa di dalam rumahnya.
"Wa'alaikum salam, kamu sudah pulang zy?"
"Iya ayah, sekalian tadi bareng Widya." Arumi pulang bersama Widya, ia sudah mengabari suaminya jika akan pulang kerumah orang tuanya bersama Widya.
"Widya nya mana?" Tanya bunda yang tidak melihat Widya. Arumi sambil mencium tangan orang tuanya dan duduk di samping Anisa, membuat nya berada di tengah-tengah.
"Tadi Widya mau buru-buru kerumah nya, titip salam aja buat bunda dan ayah."
"Oh, 'alaiki wa'alaihas salam." Jawab mereka.
"Lagi bicara apa sih?" Tanya Arumi yang melihat mereka bergantian.
"Kak zy, gimana sih cara dapat suami yang seperti mas Aby?" Tanya Anisa membuat orang tuanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Memangnya kamu mau, punya suami seperti mas Aby?"
"Tentu, kalau Anisa besar nanti, Anisa akan cari calon suami yang seperti mas Aby."
"Iya dek, seperti apapun yang kamu inginkan, yang terpenting kamu harus belajar dulu yang rajin."
"Ayah tadi sama bunda juga bilang sama Anisa, kalau sebaiknya ke pesantren." Ucap ayah Salman. Namun Arumi melihat wajah adiknya itu seperti sedih, mungkin ia baru merasa bahagia mempunyai keluarga baru yang lengkap, tapi sudah akan pergi lagi.
__ADS_1
"Apa sebaiknya nunggu Anisa masuk tsanawiyah? Sekarang kan masih SD, jadi sekitar satu tahun lebih baru lulus."
"Kamu masih mau tinggal di rumah dulu 'kan dek?" Anisa menatap Arumi, ia mengangguk.
"Lain kali kalau kamu tidak suka, bilang ya? Jangan sedih gitu, bunda sama ayah kan gak tahu kamu maunya gimana."
Anisa menatap orang tuanya bergantian, ia hanya malu untuk menolak. Apalagi dirinya bukan siapa-siapa sebelumnya.
"Kamu tidak perlu sungkan untuk meminta ataupun menolak, bunda dan ayah tidak masalah jika kamu itu mau manja. Kak zy yang sudah sebesar ini saja masih manja."
"Itu karena zy saat bersama kalian tetap menjadi anak kecil, dan sekarang zy punya adik yang seumuran." Arumi memeluk Anisa.
"Eh tolong, jangan lupakan perut buncit itu. Jangan samakan dengan anak umur sepuluh tahun, anda ini sudah berkepala dua."
"Bagus berkepala dua, dari pada bermuka dua bun. Iya kan, yah?" Canda Arumi membuat semuanya tertawa.
"Iya."
Ayah dan bunda Faza memeluk kedua anaknya itu, kini Anisa merasakan keluarga yang utuh dan bahagia. Tanpa harus memikirkan lagi apa yang akan di makan malam nanti dan esok hari. Dirinya kini menginginkan apapun akan terpenuhi, tidak seperti dulu waktu dirinya yang harus mencari nafkah disaat ibunya sedang sakit. Anisa harus berhenti sekolah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama ibunya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang baru.
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1