
Acara 40 hari kelahiran Zafeer, diadakan meriah di pondok pesantren dengan mengundang anak-anak panti asuhan dan anak jalanan. Arumi tersenyum dan menangis bahagia, karena melihat anak-anak yang ikut serta mendoakan Zafeer.
"Umma, kamu gak apa?" Tanya Abyan melirik istrinya yang meneteskan air mata.
"Umma gak apa, cuma bahagia aja." Tersenyum melihat Abyan sambil ingin mengelap air matanya, namun susah karena sedang menggendong baby Zafeer. Abyan mengambil Zafeer dari gendongan Arumi, setelah itu mengelap dengan tangan kirinya.
Huuuuuu.....
Sorak dari para santri membuat Arumi tersipu malu, dan Abyan hanya tersenyum melihat itu. Ia yakin saat ini pipi istrinya sudah merah tomat.
"Umma pasti sedang malu, lihatlah umma sedang menunduk dan mencoba menyembunyikan wajahnya." Ucapnya pada Zafeer.
"Kamu apaan sih mas," jawabnya membuat teman-teman di sebelahnya juga ikut tersenyum walaupun tidak mendengar dengan yang di ucapkan Abyan, namun mereka yakin Abyan sedang menggoda istrinya. Terlihat dari wajah Abyan yang tersenyum, sedangkan Arumi terus menunduk.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau memberikan ujian memang untuk membuat mereka semakin dekat seperti ini. Abah bangga dengan semua putra dan putri abah, mereka mendapatkan pasangan yang terus berada disamping mereka, walaupun dalam keadaan yang harusnya diakhiri."
"Abah, mereka akan hidup bahagia. Seperti kita juga yang akan hidup bahagia melihat menantu dan cucu." Ummi mendengar ucapan suaminya, sebenarnya sekarang ia merasa sunyi saat hanya berdua dengan abah, namun tidak ia katakan pada anak-anak nya, karena mereka sudah memiliki kehidupan yang baru dengan istrinya di rumah sendiri.
"Apa kita juga butuh liburan, ummi?" Tanya nya di dengar oleh Najib.
"Ummi dan abah akan liburan kemana? Biar Najib yang akan siapkan semuanya. Kalian berdua pasti sangat senang, biarkan untuk sementara kami yang mengurus pondok, lupakan perasaan tidak enak abah." Ummi dan abah saling pandang, memang mereka mungkin membutuhkan liburan, tapi bersama seluruh keluarga dan menantu.
__ADS_1
"Kamu selalu saja mendengar ucapan orang tua, sesuai dengan telinga besarmu." Najib hanya tertawa dengan semua kata-kata abah.
"Najib sebentar lagi juga akan menjadi orang tua, tentu semakin kuat pendengaran Najib untuk orang sekitar." Ummi memeluk Najib, memang bukan anak kandungnya, namun kasih sayang yang mereka berikan sama rata seperti anaknya sendiri.
"Kamu dan Almira akan menjadi orang tua seperti Affan dan Abyan, dan kami sudah sangat semakin tua. Ummi ingat waktu kamu dan Al berlari di ndalem, sekarang kalian sudah sama-sama dewasa dan mempunyai pasangan, dan sebentar lagi akan memiliki anak." Ummi meneteskan air matanya, mengingat dirinya juga tak lagi muda. Tidak mungkin selamanya ia akan selalu bersama cucu dan anak mantunya.
"Apa yang ummi katakan. Mas Affan, Najib, Abyan dan Almira, kita selalu jadi anak kecil ummi. Ummi dan abah selalu tampan dan cantik, hanya umur saja yang menua." Orang-orang disana terharu dengan ucapan Najib, ustadz yang kocak ternyata bisa juga berkata manis pada orang tuanya.
"Widya pasti bangga sama kamu nak," ucap ummi membuat Widya tersenyum.
"Jadi ummi dan abah tidak bangga dengan Najib?"
"Bangga juga, tapi lebih bangga Widya. Karena kamu sangat pandai berkata-kata manis, itu suatu kebanggaan tersendiri untuknya sebagai seorang istri." Ummi Dalilah meneteskan air matanya lagi, ia tidak sanggup untuk banyak berkata-kata. Najib mengusap air mata itu, tidak akan ia biarkan orang tua yang merawatnya sedari kecil menangis di hadapan nya.
"Ummi menangis bahagia nak, melihat kenakalan kamu saat kecil. Menggoda adik kamu hingga dia menangis, dan kamu juga yang merasa bersalah dan meminta maaf. Ummi dan abah selalu mengingat semua perkembangan putra putri kami. Abyan sangat pendiam saat kecil, hingga membuat ummi mengira bahwa dia mengidap penyakit. Sedangkan mas Affan ada di dua sifat yang kalian miliki, dan memang yang paling cengeng dan manja adalah kamu." Ummi bercerita dan memberitahu semua orang, bahwa dirinya selalu mengingat perkembangan anak-anak nya.
"Untuk yang terakhir itu ummi pasti salah, karena Almira yang cengeng dan manja." Najib tidak terima dengan yang diucapkan ummi Dalilah.
"Mas Najib memang lebih cengeng dari Al." Almira menyetujui ucapan ummi nya.
"Kamu selalu seperti itu, wanita memang tidak mau mengakui-
__ADS_1
Ucapnya terhenti melirik ummi Dalilah ada di dekat nya.
"Mengakui apa? Mas juga lihat itu, kamu sering menangis jika Al tidak mau main lagi sama kamu."
"Memang seperti itu adanya jib, paling manja dengan ummi. Lihatlah nak, om kamu tidak mengakuinya."
"Kamu pasti tidak memperhatikan itu 'kan by? Mas Affan dan Al pasti salah."
"Abah dan ummi selalu melihat perkembangan kalian, jadi tidak mungkin kami salah dengan itu. Kami juga membuat video dokumentasi beberapa kali, jadi kalian bisa menonton nya nanti."
"Ummi," rengeknya dengan suara kecil. Jika sudah abah yang mengatakan nya, mereka tentu percaya dan tidak akan membantah lagi.
"Lihat saja tingkahnya, sudah mau punya anak masih manja dengan ummi."
"Najib boleh manja dengan abah?" Tanya Najib membuat semua orang saling pandang.
"Hahaha, kamu sudah cukup manja dengan ummi, jangan nambah lagi pada abah." Jawabnya tertawa membuat seisi ruangan ikut menertawai Najib.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
__ADS_1
IG : @istimariellaahmad98
See you...