
Arumi di turuti semua yang ia inginkan, dari mertua serta iparnya yang selalu memberikan apapun yang di mintanya. Abyan hanya bisa menghela nafas walaupun ia tidak mau memberikannya, ia mencoba menerima semua permintaan istrinya yang terbilang aneh. Abyan juga sudah menuruti permintaan istrinya yang meminta profesornya memasak. Dengan senang hati profesor Arumi menuruti. Bukan karena teman atau mahasiswa nya yang meminta, namun sebagai pendekatan diri dengan Almira. Haha, Abyan tidak mengetahui tentang temannya yang menginginkan adiknya. Hanya ingin menuruti apa yang di inginkan istrinya, sebisa mungkin mengerti dengan ibu hamil yang akan tiba-tiba meminta macam-macam.
"Mas, hari ini Arumi tidak ke kampus."
"Kenapa? Bukannya kamu tidak pernah mengambil cuti, kecuali sedang sakit?" Abyan memicingkan matanya mencari jawaban, karena istrinya terbilang mahasiswa yang rajin.
"Hanya ingin diam disini, Arumi merasa malas keluar."
Hah? Malas? Istrinya kali ini mengatakan malas?
"Kenapa tiba-tiba? Maksud mas kenapa gak suka keluar?" Tanya Abyan yang takut istrinya tersinggung.
"Namanya juga malas mas, kenapa malah bertanya kenapa? Arumi bingung harus menjawab apa." Sudah terlihat sekarang sifat malas nya muncul, Arumi yang hanya rebahan di ranjang.
Abyan baru sadar, ummi nya yang berpesan agar tidak membuat istrinya tersinggung atau merasa tidak nyaman.
"Mas Aby kalau mau berangkat ke kampus, langsung aja ya? Arumi tidak mau mengantar ke depan, soalnya malas sekali rasanya berjalan keluar."
Lagi-lagi istrinya mengatakan malas?
"Hari ini mas juga malas ke kampus."
"Mas Aby tidak perlu ikut-ikutan malas, cukup Arumi aja." Santai sekali istrinya itu berucap, Abyan hanya bisa membuka mulutnya lebar.
"Tutup mulutnya, nanti banyak yang masuk."
Haep anggap saja bunyi Abyan yang menutup mulut, hahaha.
"Kenapa mas tidak boleh malas? Tapi kalau kamu boleh?"
"Arumi wanita, sedangkan mas laki-laki. Bukannya mas sebagai pemimpin yang harus memberi nafkah."
"Mas kerja, tapi tidak ke kampus hari ini. Mas ada kerja di luar dengan Najib, ada pembangunan proyek baru."
"Iya, memang harus begitu. Lagi pula kalau mas tidak bekerja, mau makan apa istri dengan calon anaknya ini." Arumi sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Abyan melihat itu mendekat, dan juga ikut mengelus perut istrinya.
"Kalian tidak akan melarat, atau sampai kelaparan insyaa Allah. Appa akan tetap bekerja untuk masa depan anak-anak kita nanti."
"Sombong yah? Jika seandainya yang mas punya saat ini diambil, apa mas akan marah atau menyesal? Karena sudah bangga dengan yang di dapat saat ini."
Abyan berhenti mengelus perut Arumi, dan menatap wajah sang istri dengan jelas.
"Mas tidak sombong, kalau bangga? Tentu saja mas bangga dengan yang di capai mas saat ini. Ini semua berkat doa orang tua mas sampai sejauh ini, mas bisa melewati semuanya, juga bersama Najib yang mengikuti jejak mas sebagai arsitek."
"Arumi juga harus bangga mempunyai suami seperti mas Aby." Arumi bangun dan mendudukkan dirinya, lalu memeluk Abyan.
__ADS_1
"Mas juga bangga mempunyai istri seperti kamu. Cantiknya masyaa Allah, pintar nya juga tidak di ragukan lagi menurut profesor yang memasak makanan untuk kamu."
"Masyaa Allah, jangan terlalu memuji Arumi. Jadi malu untuk menatap wajah mas Aby." Arumi menundukkan wajahnya karena malu di puji oleh suaminya.
Abyan mengangkat dagu Arumi dengan jarinya. "Kenapa malah menunduk? Apa kamu malu dengan suami mu yang sering memuji mu?" Arumi hanya mengangguk.
"Sebenarnya bukan hanya pujian, tapi memang itu semua benar ada di diri kamu."
"Baiklah, sikap malu juga sebagian dari iman bukan? Walaupun mas sering berkata manis, tapi itu selalu membuat Arumi malu dengan yang mas katakan."
Tok tok "Abyan, ayo kalau mau berangkat! Sudah waktunya kita jalan sekarang."
"Iya, tunggu diluar."
"Bukannya aku sudah menunggu diluar? Siapa yang mau masuk?" Gerutu Najib dari luar, dan pergi menjauh dari depan kamar abang nya.
"Mas harus segera berangkat, sudah waktunya bekerja."
"Berangkat aja sana, siapa yang menahan mas untuk tetap disini?" Jawab Arumi.
Abyan juga berpikir begitu, istrinya memang tidak menahannya.
"Yasudah, mas akan berangkat, jangan kangen!"
"Ih, suamiku alay sekali."
"Terus kenapa belum bergerak? Masih disini aja."
"Takut nya kamu masih merindukan mas."
"Sana mas, kerja." Arumi mendorong pelan tubuh suaminya agar cepat berangkat.
"Ayo antar mas keluar!" Abyan mengajak Arumi untuk mengantarnya keluar.
"Baiklah, ayo keluar." Arumi bersiap turun dari ranjang di bantu oleh Abyan.
"Tidak perlu diantar, sayang. Mas hanya bercanda supaya kamu juga bergerak."
"Tidak masalah, Arumi akan tetap mengantar mas keluar." Arumi mengambil khimarnya untuk mengantar Abyan keluar.
Mereka keluar dari kamarnya, diluar sudah di tunggu keluarga nya. "Apa yang di lakukan sudah siang begini masih dikamar?" Tanya Najib langsung di pukul lengan nya oleh Widya.
"Tidak melakukan apapun, hanya mas Aby ingin diantar."
"Manja sekali suami kamu, ning."
__ADS_1
"Jangan manja teriak manja, kamu sendiri seperti itu bi."
"Malah di bilang, itu kan cuma kita berdua yang tahu mi." Bisik Najib pada istrinya.
"Tidak perlu malu mas, Widya tidak mengatakannya pun sudah terlihat dari sikap mas Najib."
"Betul sayang, kalau masalah manja Najib saingan dengan Almira."
"Beda, masa aku di samakan dengan gadis manja itu."
"Kalian berdua sama saja, berebut ummi jika bersama." Ucap abah yang ikut menimpali.
"Kalau sudah abah yang mengatakan, Arumi sangat percaya."
Najib hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jika abah nya yang berkata tidak mungkin ia membantahnya.
...******...
"Assalamu'alaikum, selamat sore." Ucap seseorang yang baru saja datang ke pondok pesantren.
Ummi, Almira, Laila, Widya serta Arumi menoleh ke arah seseorang yang baru saja datang.
"Wa'alaikum salam"
Mereka bingung, kenapa ada seorang wanita yang tidak di kenalnya ke ndalem.
"Maaf, cari siapa ya?" Tanya ummi yang penasaran dengan wanita itu.
"Perkenalkan nama saya Naila, saya mencari dosen Abyan."
"Ada perlu apa mencari suami saya?" Tanya Arumi
"Saya hanya mencari nya, tentu saja ada yang ingin di bicarakan berdua dengan bapak Abyan." Arumi yang emosinya tidak stabil, berdiri dari duduknya hendak menghampiri wanita itu, tapi Widya serta iparnya mencegah nya.
"Kalau kamu datang kesini hanya ingin mencari masalah, saya hanya mengharap kamu pergi dari sini."
"Tidak perlu diusir, saya hanya ingin menemui pak Abyan, jika tidak ada saya juga akan segera pergi dari sini."
"Silahkan."
Tanpa kembali mengucap salam, wanita itu pergi dari ndalem.
Semua orang menatap Arumi yang terlihat tengah menatap kosong, Arumi syok bisa-bisanya ada seorang wanita mencari suaminya dan hanya ingin mengobrol berdua.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
__ADS_1
See you...