Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Transferan


__ADS_3

"Arumi," panggil Widya.


Arumi menoleh, "kenapa Wid?"


"Kamu mau kemana?" tanya nya melihat Arumi yang berjalan bukan menuju ke kelas.


"Aku mau bayar uang semester, mau minta kerenggangan waktu."


Widya terkejut dengan Arumi, yang menurut nya Arumi mampu membayar uang semester. Kenapa sekarang malah minta waktu, untuk membayar uang semester.


"Kenapa kamu gak langsung bayar aja."


"Uang aku kemarin gak cukup, jadi aku belum bisa bayar sekarang."


"Bisa jadi sekarang bertambah. Lagian tinggal minta sama ayah atau bunda, pasti langsung dikirim."


"Mau bertambah dari mana? aku aja gak kerja. Mau minta kayak dulu gak enak, aku udah berkeluarga."


"Kalau gitu, minta sama gus Abyan dong mi," ucap Widya. Harusnya Arumi minta pada Abyan, karena sekarang sudah menjadi tanggung jawab Abyan.


Arumi menggeleng pelan, "aku malu mau minta mas Aby Wid, minjam kamu dulu gimana?"


"Uang aku juga gak cukup, untuk bayar uang semester kamu mi."


"Bayar separuhnya dulu boleh gak sih? aku ada, tapi hanya 10jt."


"10jt itu untuk bayar 2x semester aku mi."


"Kita tanya dulu boleh apa gak?"


"Yaudah, ayo."


Arumi dan Widya berjalan menuju tempat untuk membayangkan uang semester.


"Permisi mbak, saya Arumi mau bayar uang semester."


"Sebentar"


"Atas nama Arumi zyakana ramadhani?"


"Iya, mbak."


"Total uang semester yang harus anda bayar, 17,500jt."


"Saya boleh-


"Kamu cek dulu handphone kamu, siapa tau kan kamu lupa, kalau duit kamu beneran bertambah."


Arumi membuka handphone nya, untuk segera membayar dengan mengecek handphone nya terlebih dahulu. Namun ia terkejut dengan nominal yang tertera di layar telepon nya.

__ADS_1


"Kamu kenapa mi? uang nya beneran gak cukup? aku bilang juga apa, mending minta sama sua-


Arumi menutup mulut Widya, hampir saja rahasianya terbongkar.


"Malah di tutup, orang lagi ngomong bener. Jangan diam aja dong." Karena Arumi hanya menganga saja dari tadi.


"Arumi," panggil Widya lagi, menggoyangkan lengan Arumi.


"Tunggu sebentar, aku bayar dulu Wid," ucapnya.


"Sudah ya mbak."


"Terima kasih."


Widya masih saja bingung dengan sahabat nya itu, bagaimana bisa membayar? padahal tadi ia mengatakan uang nya tidak cukup.


"Loh mi, katanya uang nya gak cukup? terus, kamu minta ayah atau bunda ya?" tanya nya setelah keluar dari ruang pembayaran uang semester.


"Aku juga syok, aku punya uang dari mana? padahal kemarin uang aku cuma 10jt," Arumi masih terkejut.


"Mungkin gus Abyan yang memberikan uang itu, tanpa sepengetahuan kamu mi."


"Sebentar, aku telepon mas Aby." Arumi mengambil ponsel nya lagi, mencoba menghubungi suaminya.


"Assalamu'alaikum," ucap Abyan


"Ada apa, Arumi?"


"Mas, kan tadi Arumi mau bayar uang semester."


"Kenapa? uang nya gak cukup? biar saya transfer ke rekening kamu."


"Bukan itu mas, Arumi cuma bingung," Arumi melirik Widya yang masih setia menguping.


"Mau bayar uang semester kok malah bingung?"


"Arumi bingung, kenapa uang Arumi banyak."


Di seberang telepon, Abyan menertawai Arumi yang bingung dengan uang banyak di rekening nya.


"Kamu ada-ada aja, harusnya orang senang uangnya bertambah."


"Tapi Arumi gak tau uang siapa mas, terus sudah Arumi pakai untuk bayar uang semester."


"Alhamdulillah, bagus kalau sudah di bayar, lalu apalagi?"


"Uang yang masuk di rekening Arumi, itu uang siapa mas? apa orang salah kirim ya?"


Abyan kembali terkekeh mendengar ucapan Arumi. "Uang yang ada di rekening kamu itu dari saya, tiap bulan mas kirim ke rekening kamu 25jt."

__ADS_1


Arumi dan Widya terkejut mendengar nya, orang tuanya saja mengirimkan uang tiap bulan hanya 5jt, bagaimana bisa suaminya itu mengirimkan uang sampai 25jt tiap bulan.


"M-mas Aby, kenapa banyak sekali? aku gak mau pegang uang kamu mas, nanti kalau habis bagaimana?" tanya Arumi, takut-takut ia terlupa memakai nya.


"Itu saya berikan memang khusus untuk kamu sebagai nafkah, kamu habiskan juga tidak apa-apa, bukan uang saya yang di pegang kamu."


"Tapi mas, ini terlalu banyak."


"Kamu simpan saja, di rekening kamu juga tidak terlihat orang."


"Tapi-


"Saya sebentar lagi masuk waktu ngajar, nanti saya jemput."


"Aku pulang sendiri aja mas, tadi kan aku bawa mobil."


"Yasudah, hati-hati kalau pulang. Assalamu'alaikum," ucap Abyan untuk mengakhiri panggilan telepon nya.


"Iya kamu juga mas, wa'alaikum salam."


Arumi masih dalam keterkejutan nya, sampai tidak menanyakan suaminya sudah makan atau belum.


"Masyaa Allah mi, aku juga mau punya suami yang begitu."


"Kenapa mas Aby ngasihnya banyak banget, kan dia kerjanya ngajar aja. Kenapa bisa ngasih aku sampai segitu banyaknya?"


"Emang kamu udah pernah nanya, kalau suami kamu hanya ngajar saja?"


Arumi menggeleng kan kepalanya. "Mungkin itu dari kerja sampingan, atau uang tabungan dia sebelumnya, kamu jangan suudzon."


"Aku gak suudzon Wid, aku hanya heran."


"Itu namanya sudah memasuki pintu suudzon."


"Emangnya punya pintu?"


"Bisa jadi, seperti doraemon," ucapnya terkekeh.


"Widya aku serius nih. Kamu aku lihat-lihat ketawa terus Wid, terlihat lebih bahagia sekali sekarang. Apa sudah mendekati pintu serius?"


"Seperti nya akan terlihat nanti, setelah aku juga dapat transferan."


"Dari siapa?" tanya Arumi.


"Dari bapak," ucap Widya.


Lalu mereka tertawa kembali. Sebelumnya Arumi juga dapat transferan dari orang tuanya, namun sekarang berbeda, ia mendapatkan dari suaminya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2