Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Masak


__ADS_3

Jam 04:00am suhu dingin menusuk kulit Abyan, ditambah badannya yang terasa berat saat menggeliat ia mengernyit.


Abyan melirik sesuatu yang membuat badannya terasa berat, ternyata istri yang baru saja sah ia nikahi kemarin, terlihat memeluk nya erat.


Abyan pelan-pelan ingin melepas tangan Arumi yang melingkar di perutnya, namun Arumi menggeliat dan Abyan pura-pura tidur kembali.


"Kok guling nya hangat, terus keras gini," Arumi meraba bagian perut Aby.


"Ya Allah cobaan apa ini, subuh udah ada ujian ketahanan" batin Abyan


Arumi melotot mengingat dirinya telah menikah.


"Astaghfirullah," ia cepat melepas tangannya dan menjauh.


"Kenapa aku bisa memeluk gus Aby? untung aja orang nya masih tidur. Aku akan lebih dulu mandi, eh tapi aku kan gak bisa sholat ya? yaudah lah setelah itu baru aku bangunin," Arumi beranjak ke kamar mandi.


"Gadis aneh," lirihnya tersenyum setelah Arumi di dalam kamar mandi.


Abyan bangun dari tidur nya dan duduk sambil memainkan ponselnya, sembari menunggu Arumi selesai.


ceklek..


Arumi sudah siap dengan pakaian syar'i nya.


Ia terkejut suaminya menatap nya dari tempat tidur.


"Sudah bangun gus? em udah ya. Saya ke dapur dulu, untuk buat sarapan bantuin ummi." Arumi canggung mau bicara apa pada suaminya.


Abyan hanya berdehem lalu beranjak ke kamar mandi, sebelum pergi Arumi telah menyiapkan jubahnya dan sarung, entah itu cocok atau tidak menurutnya yang penting sudah ia sediakan.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam."


"Pengantin baru kenapa keluar kamar, masih subuh begini," ucap Almira.


"Saya akan bantu menyiapkan sarapan ning."


"Panggil al aja mbak, sekarang kan al adik ipar mbak Arumi."


"Tapi ning-"


"Tidak apa nak panggil al aja, jangan bilang kamu panggil suami kamu masih tetap gus?" Arumi mengangguk.


"Panggil sayang aja mbak, atau gak baby?" Arumi terkejut dengan saran al itu sedikit kurang pas menurut Arumi, yang baru akan mengenal sosok Abyan.


Kalau orang lain mungkin pengantin baru masih hangat-hangat nya, tapi Arumi dan Aby dingin-dinginnya.


"Al sudah, jangan goda mbak mu."


"Panggil yang menurut kamu pas untuk suami kamu nak, jangan panggil gus lagi," sambungnya.


"Baik, ummi."


"Tapi kalau mbak mau juga gak apa," sambil tersenyum.


"Iya sih kan lucu di panggil sayang, apa ya respon Aby?"


"Pasti mukanya lucu ummi," al membayangkan wajah Aby saat Arumi memanggilnya dengan kata sayang


"Sekarang mau masak apa ummi? biar Arumi bantu."

__ADS_1


"Masak sederhana saja nak, ini kamu aja yang masak yah," ummi menyerahkan bahan yang akan di masak Arumi.


"Semalam bagaimana mbak?" tanya al sambil memotong sayuran.


"Kalau kamu mau tau, nanti setelah kamu menikah al."


"Iya kepo nya sekarang ummi, mau lihat wajah mas Aby karena gak dapat apa-apa."


"Maksud kamu apa al?"


"Kan mbak Arumi halangan ummi." Arumi hanya fokus dengan masakan nya, ia malu karena belum memberi hak nya pada Aby.


Setelah nya ummi dan al tertawa dengan hal itu, pasti anaknya tersiksa semalaman tidur dengan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya, namun tidak mendapat hak nya.


"Kenapa ummi dan al tertawa?"


"Maaf ummi hanya ngerasa lucu aja sama Aby."


"Arumi minta maaf, ummi."


"Eh kenapa jadi kamu yang minta maaf, udah gak apa minggu depan kan disegerakan," ucap ummi mengedipkan mata pada menantunya.


Mereka kembali melanjutkan memasak, setelah hampir siap semua, ummi dan al keluar untuk sholat sebentar.


"Assalamu'alaikum," ucap Abyan ke dapur ternyata istri nya yang ada disana.


Namun tidak menyadari dengan kedatangan Aby.


"Assalamu'alaikum," ucap Abyan di dekatnya.


"Astaghfirullah aw" Arumi terkejut dengan Abyan yang tiba-tiba di sebelah nya.


"Astaghfirullah, maaf saya ngagetin," Abyan memegang tangan Arumi yang sudah berubah warna kemerahan di pergelangan tangan nya.


Arumi tersenyum menatap baju yang ia siapkan di pakai oleh Abyan.


"Arumi."


"Eh tidak apa mas, ini hanya kecerobohan saya."


"Mas?" batin Aby tersenyum dengan panggilan barunya.


"Tunggu di depan saja, sebentar lagi semuanya siap."


"Tapi tangan kamu belum di obati."


"Tidak masalah akan saya obati nanti, ini hanya luka kecil."


"Biar saya bantu menyelesaikan ini, kamu bawa aja yang sudah matang ke depan."


"Tapi-


"Saya bilang nurut sama saya, berdosa-


"Berdosa seorang istri membantah suaminya," Arumi melanjutkan ucapan yang akan di katakan oleh Abyan.


"Pintar sekali, kalau sudah mengerti, kerjakan."


"Baiklah, tuan suami." Nada bercanda yang biasa Arumi lakukan bersama bunda dirumah nya.


Abyan menahan senyum nya, sungguh Arumi membawa hal baik untuk dirinya yang muka kaku, dan sekarang naik tingkat sedikit menarik bibirnya untuk tersenyum.

__ADS_1


Abah ummi dan al menunggu di meja makan, mereka sedari tadi membiarkan pengantin baru itu di dapur, agar bisa beradaptasi dengan kompor hahahaha.


"Wah dua orang chef di rumah kita sudah keluar bah," ucap ummi yang melihat anak dan menantunya keluar dapur membawa masakan.


"Masyaa Allah, abah jadi ingat masa muda kita dulu mi, membantu istri saat menyiapkan makanan."


"Ternyata mas Aby belajar dari abah."


"Aby belajar dari ummi dan abah" Arumi masih berdiri menunggu suaminya itu duduk.


"Duduk lah nak!"


"Mas Aby belum duduk, maka dari itu Arumi belum duduk."


"Mas?" ucap ummi dan al.


Arumi tentunduk malu.


"Masyaa Allah luar biasa, abah tidak salah pilih menantu bukan hanya berilmu, namun juga beradab. Karena tidak ingin mendahului suaminya," ujar abah memuji menantunya.


Abyan mendengar itu tersenyum lalu duduk, setelah nya Arumi duduk di sebelah Aby.


"Ayo kita mulai sarapan nya."


"Mas Aby mau makan apa?" tanya Arumi berdiri lagi siap mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Kamu duduk saja biar saya sendiri yang ambil, tangan kamu nanti makin sakit," ucap Abyan.


"Tapi-


"Berdosa seorang-


Belum sempat Abyan menyelesaikan ucapannya, Arumi sudah kembali duduk.


Mereka melanjutkan sarapannya, disambung lagi obrolan nya setelah sarapan.


Abyan tidak mengizinkan Arumi ikut membersihkan piring.


"Tangan kamu kenapa nak?" tanya ummi.


"Tidak apa-apa, ummi."


"Coba sini tangan kamu," Aby menarik pelan tangan Arumi.


"Aw" Arumi meringis.


"Ini yang kamu bilang gak sakit?"


"Hanya luka kecil saja, tidak sakit. Karena masih baru makanya terasa sedikit perih."


"Tangan nya terkena wajan panas ummi, ini juga karena Aby yang datang tiba-tiba membuat arumi terkejut," ucap Aby sambil mengobati luka Arumi.


Arumi menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sakitnya.


Abah ummi dan al, melihat Aby yang mengobati luka bakar Arumi, mereka tersenyum dan berdoa semoga itu awal dari rumah tangga yang harmonis.


Aamiin ya guys


Selalu dukung othor bebu sayang


Annyeong love

__ADS_1


__ADS_2