Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Pamit pulang


__ADS_3

Arumi menghubungi Abyan yang masih ada di rumah sakit.


"Jib, saya kesana dulu mau angkat telepon." Ucapnya memberitahu Najib. Sahabatnya itu mengangguk tahu bahwa yang menelepon pasti Arumi.


Saat Abyan akan mengangkat telepon dari Arumi, langsung mati. Karena terlalu lama untuk menjawab nya.


"Assalamu'alaikum umma." Ucap Abyan setelah mengangkat panggilan Arumi yang kedua kalinya.


"Wa'alaikum salam, dari tadi kemana sih mas? Umma dari tadi telpon loh, lama banget angkatnya." Arumi kesal karena Abyan lama mengangkat telepon dari nya, padahal dirinya khawatir dengan keadaan Zahra.


"Iya umma maaf ya, tadi di ruang tunggu lagi banyak orang, jadi appa pamit keluar sebentar ke Najib."


"Umma mau tahu keadaan Zahra, apa dia sudah melahirkan? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Arumi khawatir dengan keadaan Zahra.


"Iya, Zahra baik-baik saja. Feer sudah tidur atau belum?" Tanya Abyan mengubah topik pembicaraan dengan bertanya anaknya, tidak ingin istrinya kembali mengalami sesuatu yang membuat nya stress setelah melahirkan.


"Baru tidur. Terus anaknya cewek atau cowok mas?"


"Anaknya cewek." Jawab Abyan.


"Yeay Alhamdulillah, teman kamu cewek, Feer." Ucapnya memberitahu Feer, bahwa teman nya adalah cewek.


"Nanti dia bangun kalau kamu ribut, kenapa senang sekali hanya anak dari Zahra cewek. Jangan bilang kamu?" Abyan sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran istri nya, Arumi mengangguk tersenyum namun saat menyadari bahwa dirinya sedang tidak bertatap muka baru mengatakan pada Abyan apa yang ia maksud.


"Kenapa nelpon jauh sampai disini, by?" Tanya Najib yang baru keluar bersama Widya mencari Abyan.


"Siapa Gus? Apa bukan Arumi?" Tanya Widya memicingkan matanya.


"Umma nya Feer," jawab Abyan sambil tersenyum.


"Yaelah gus, coba bilang dari tadi, saya udah suudzan aja. Berikan hp nya, saya mau mengobrol dengan Arumi." Widya mengulurkan tangannya meminta ponsel Abyan.

__ADS_1


"Mi, kamu apaan orang lagi bicara sama istrinya." Najib tidak enak pada Abyan walaupun adiknya.


"Sebelum UMMA NYA FEER dengan Gus Aby, aku lebih dulu mengenalnya dan menjadi sahabat." Arumi di seberang telepon tertawa mendengar ucapan Widya, dan menyuruh Abyan untuk memberikan nya.


Abyan akhirnya memberikan ponsel nya pada widya.


"Jangan terlalu lama, saya harus menghemat daya ponsel."


"Ya ampun Gus, nelpon doang tidak akan membuat cepat lowbat. Hanya data yang di gunakan berkurang."


Najib menggelengkan kepalanya, menyuruh Abyan mengalah saja. Karena tidak akan ada habisnya berdebat dengan wanita hamil.


"Assalamu'alaikum UMMA NYA FEER," ucap Widya menekan kata umma nya Feer sambil melirik dua orang di dekatnya.


"Wa'alaikum salam, bagaimana keadaan Zahra, Wid." Arumi masih harus mengulang pertanyaan itu pada Widya, ia mungkin sedikit ragu bahwa Abyan tidak berbohong.


"Keadaan Zahra saat ini-


"Kenapa Wid? Tidak terjadi sesuatu dengan Zahra 'kan?" Tanya Arumi khawatir lagi.


"Zahra keadaan nya baik, hanya saja saat ini-


"Saat ini gimana Wid?"


"Jangan potong dulu dong, aku mau bilang kalau keadaan Zahra saat ini baik-baik aja, dia sekarang sedang istirahat." Abyan dan Najib menghela nafas aman mendengar ucapan Widya.


"Bagaimana dengan Yusuf? Apa dia ada menemani Zahra?" Tanya Arumi, ia hanya khawatir dengan Yusuf yang tidak menemani istrinya seperti Abyan yang tidak ada disaat Arumi melahirkan.


"Apa aku sebaiknya kesana Wid? Feer juga sudah tidur, aku titipkan pada bunda."


"TIDAK!!!" Ucap mereka bersamaan, Arumi bingung dengan mereka.

__ADS_1


"Maksud nya kamu tidak perlu kesini mi, Gus Aby juga akan segera pulang, karena Zahra dan anaknya juga istirahat. Kamu tetap dirumah aja, jaga anak kamu jangan sampai nangis gara-gara kamu pergi."


"Yaudah, aku tutup telepon nya." Widya memberikan lagi ponselnya pada Abyan.


"Kamu mau langsung pulang mas?" Tanya Arumi.


"Iya langsung meluncur."


"Hati-hati di jalan appa, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Mereka memutuskan sambungan telepon nya.


"Untung Widya gak bilang sama Arumi."


"Saya lebih dulu kenal dari pada Gus Aby dan kamu Pi, jadi tentu saya sudah tahu Arumi seperti apa."


"Baiklah yang sudah lebih dulu kenal dengan istri saya, makasih." Abyan tersenyum dan berterimakasih pada Widya, karena tidak membuat istrinya khawatir dan stress.


"Sudah cepat pulang sana Gus, kasihan Arumi dan Feer."


"Kita juga pulang mi, besok bisa kesini lagi."


"Tapi saya pamit dulu, soalnya saya belum pamit dan langsung keluar." Najib dan Widya mengangguk, Abyan masuk ke ruang tunggu berpamitan pada keluarga Zahra dan Yusuf. Setelah itu Abyan keluar lagi, masih ada Widya dan Najib yang menunggu akan ke parkiran bersama.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2