
Setelah suaminya meminggirkan mobilnya, Arumi melihat lagi seorang anak perempuan sekitar umur sepuluh tahun, ia merasa mengenalnya. Arumi membuka pintu mobil, namun tangan nya di tahan oleh Abyan.
"Sayang, kenapa kamu turun? Kamu mau kemana?" Tanya Abyan yang masih menahan tangan Arumi.
"Arumi ingin turun, sepertinya Arumi pernah bertemu anak itu."
"Itu hanya sepertinya, gimana jika bukan orang yang kamu maksud? Kamu sedang hamil, jangan terlalu banyak menghirup polusi di luar."
"Mas, Arumi mohon!" Arumi menyentuh tangan Abyan agar melepasnya, sambil di lihatnya lagi anak itu yang sedang duduk mengelap keringat.
Abyan juga tidak tega melihat anak itu, ia ingat saat Adiknya, atau lebih tepatnya juga sahabat baginya. Najib juga seperti itu, orang tua yang sudah tidak ada lagi dan hidup sendirian di jalanan. Anak-anak yang harusnya hanya bermain dan belajar ke sekolah, bermanja pada orang tua nya, harus hidup mandiri untuk kelangsungan hidup kedepannya seperti apa.
"Mas," Arumi menyadarkan Abyan yang sedang menatap anak itu.
Abyan menoleh kearah Arumi. "Boleh."
"Tapi mas juga akan ikut kesana." Arumi mengangguk tersenyum, ia tahu suaminya khawatir terhadapnya dan kandungannya.
Abyan menuntun tangan Arumi, menyebrangi jalan raya untuk menuju anak itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Arumi ketika sudah sampai di depan anak yang sedang duduk.
"Wa'alaikum salam." Anak itu sangat rusuh tak terawat, Arumi duduk di dekatnya.
"Anisa," ucap nya mengingat jika anak itu adalah Anisa, anak perempuan yang pernah ia berikan obat dan makanan untuk ibu nya yang sedang sakit.
"Kakak?" Anak itu bingung kenapa Arumi mengenalnya.
"Kamu Anisa kan?" Anak itu mengangguk.
Arumi langsung memeluknya. Abyan yang melihat itu tersentuh, istrinya sangat peduli dengan orang lain.
"Apa kamu sudah melupakan kak zy?" Tanya Arumi melepas pelukannya, dan Anisa menatap wajah Arumi lekat.
"Apa sudah mengingatnya? kita pernah bertemu beberapa bulan lalu." Arumi tersenyum memegang wajah Anisa dengan kedua tangannya.
"Iya, kak zy yang memberikan Anisa obat dan makanan untuk ibu yang sakit."
"Iya sayang, apa kabar ibu kamu?" Tanya Arumi. Namun bukan menjawab, Anisa hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Arumi menatap suaminya yang setia berdiri di samping nya, nampak menggelengkan kepalanya. "Anisa, kenapa kamu menunduk sayang?" Tanya Arumi sekali lagi dengan mengangkat wajah Anisa.
Anisa menangis, entah apa yang membuatnya bersedih ketika di tanyai tentang kabar ibunya.
"Kenapa kamu menangis? Kalau kamu tidak mau memberi tahu kak zy tidak masalah, tapi jangan menangis!" Arumi mengelap air mata yang mengalir di pipi Anisa.
"Ibu nya Anisa udah gak ada." Jawabnya kembali menangis dan memeluk Arumi.
__ADS_1
"Innalillahi waa inna ilaihi raji'un." Abyan dan Arumi saling pandang, mereka sangat kasihan dengan Anisa yang masih kecil sudah tinggal sendirian.
"Kapan ibu kamu meninggal?"
"Ibu meninggal satu bulan lalu. Ibu sempat sembuh dan mengucap banyak terima kasih, jika bertemu lagi dengan kakak disini, ibu ingin melihat wajah kak zy, dan menyuruh Anisa untuk membawanya ke rumah kami."
"Tapi, ibu belum sempat melihat kak zy sudah di panggil lebih dulu. Kenapa Allah pilih kasih dengan Anisa kak?"
"Sayang, Allah maha adil. Allah sayang dengan ibu kamu, jadi Allah ingin ibu kamu melihat kemanapun kamu pergi, ibu kamu sudah tenang ya sayang, kamu jangan sedih lagi ada kak zy disini." Anisa mengangguk menghapus air matanya, ia melihat ada laki-laki berdiri di samping Arumi.
"Siapa kakak ini? Kenapa bersama kak zy?" Tanya nya melihat Abyan. Arumi juga mendongak menatap suaminya.
"Halo Anisa, saya Abyan suami kakak ini." Abyan menunjuk Arumi, memperkenalkan dirinya.
"Kak zy sudah menikah?" Arumi tesenyum dan mengangguk
"Sayang, ayo kita ke rumah bunda." Ajak Abyan karena dirinya sudah terlambat sampai di tempat janjian bersama Najib.
"Sebentar mas."
"Anisa tinggal dimana? Tinggal sama siapa?"
"Anisa tinggal sendirian kak, sebelum ibu meninggal Anisa hanya tinggal bersama ibu dirumah."
"Kamu mau ikut dengan kakak, kerumah orang tua kak zy?"
"Sayang," ucap Abyan. Arumi hanya ingin mendengar jawaban dari Anisa.
"Tidak. Orang tua kak zy sangat baik." Bukan hanya pujian untuk orang tuanya, namun ayah dan bunda menurut Arumi sangat lah baik. Tidak akan memarahinya hanya karena membawa Anisa kerumah.
"Mau ya? Anggap aja kak zy ini kakak kamu!" Arumi nampak memohon agar Anisa mau ikut dengan nya.
Akhirnya Anisa mengangguk, dan mereka membawanya ke mobil untuk menuju rumah bunda dan ayah.
Di perjalanan Abyan hanya menatap Arumi dan Anisa dari kaca, karena ia sebagai supir yang duduk sendiri di depan.
...******...
Bel sudah Arumi bunyikan, agar bunda ataupun bibi di rumahnya mendengar bahwa ada orang.
"Assalamu'alaikum," ucap Arumi saat bibi membukakan pintu.
"Wa'alaikum salam." Bibi melihat Anisa memegang tangan Arumi sedikit erat dan membelakangi setelah melihat bibi.
"Bunda dimana bi?"
"Ada di dapur." Bibi yang melihat Anisa penasaran untuk bertanya.
__ADS_1
"Siapa neng?"
"Namanya Anisa bi, dia akan ikut Arumi." Ucapnya tersenyum, lalu bibi mempersilahkan mereka masuk. Anisa melihat sekeliling rumah yang sangat besar, serta bertingkat. Membuatnya semakin takut dengan orang tua Arumi, apakah mereka akan menerimanya di rumah itu.
"Assalamu'alaikum, bunda." Salam Arumi dan Abyan ketika sudah memasuki dapur. Mereka mencium tangan bunda Faza bergantian.
Anisa yang takut melihat wajah bunda Faza berlindung di balik tubuh Arumi.
"Bunda, Aby langsung berangkat lagi ya. Soalnya Aby sudah terlambat." Abyan kembali mencium tangan mertuanya.
"Kenapa cepat sekali? Harusnya kalian kesini lebih awal." Abyan hanya tersenyum.
"Sayang, mas berangkat ya. Jangan lupa makannya, nanti mas jemput setelah pulang kerja." Arumi mengangguk, dan mencium tangan Abyan. Begitu juga dengan Abyan yang langsung mengecup kening Arumi.
"Bunda, titip istri Aby." Ucap nya langsung pergi.
"Astaga suami kamu, istri nya kan anak bunda." Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun sekilas melihat seseorang mengintipnya dari belakang Arumi.
"Zy, siapa anak itu?" Tanya bunda Faza, melihat Anisa yang sedikit lusuh. Namun bukan karena pakaiannya ia bertanya, ia hanya ingin mengetahui siapa yang di bawa anaknya.
"Sayang, kenapa bersembunyi?"
"Anisa takut kak."
"Oh nama kamu Anisa, masa takut sama bunda yang cantik ini." Ucap bunda menyombongkan dirinya, dan itu membuat Anisa keluar dari belakang Arumi.
"Nah kan keluar, kamu pasti sudah melihat wajah bunda yang cantik ini 'kan?" Anisa mengangguk.
"Wajah kalian mirip." Arumi dan bunda Faza tersenyum.
"Bunda, ada yang mau zy bicarakan, terkait Anisa." Anisa menatap wajah Arumi, lalu menatap wajah bunda Faza.
"Apa yang mau kamu bicarakan nak? Kita keluar dulu ya, duduk di ruang tamu. Bunda sudah bikin kue tadi, kita makan sama-sama."
"Biar Arumi yang bawa bun"
"Tidak, suami kamu menitipkan kamu pada bunda untuk menjaganya. Bunda tidak akan membiarkan kamu bekerja."
"Hanya membawa kue di nampan, bukan membawa beras lima puluh kilo bunda."
"Tetap tidak boleh. Kamu sedang mengandung, jadi tidak boleh membawa apapun."
"Bunda lebih over dari mas Aby." Ucap Arumi memanyunkan bibirnya. Anisa yang melihat itu tersenyum.
"Kak zy, hamil?" Membuat bunda Faza dan Arumi melihat nya.
"Iya Anisa, kak zy sedang hamil." Anisa memegangi tangan Arumi erat, ia berusaha untuk menjaga wanita yang sudah menganggapnya sebagai adik.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
See you...