Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Ke pesantren


__ADS_3

Arumi menyiapkan barang bawaan yang akan ia bawa ke pesantren, Arumi dan Abyan beserta bayi lucu Zafeer yang akan menginap di pesantren. Karena besok 40 hari kelahiran Zafeer.


"Umma sudah siap apa belum? Kenapa masih belum pakai jilbab." Ucap Abyan menggendong Feer menghampiri Arumi yang sambil menghitung lagi barang bawaan nya, padahal dari rumah ke pesantren juga tidak jauh.


"Appa dan Feer sabar ya, umma sedang melihat kekurangan." Abyan menatap anaknya mengajak untuk sama-sama bingung, namun sepertinya masih belum mengerti apa-apa.


"Tidak ada yang kurang dengan umma, sudah sangat sempurna." Walaupun tidak tahu apa yang dimaksud Arumi, Abyan mengatakan bahwa Arumi sudah sempurna.


"Bukan umma yang merasa kurang, tapi barang bawaan." Bukan karena merasa sombong, namun ia sudah bersyukur dengan yang ada pada dirinya. Arumi langsung mengambil hijab dan juga niqab yang akan ia kenakan.


"Kita ke pesantren, kenapa kamu pakai niqab?" Tanya Abyan melihat istrinya mengenakan niqab.


"Hanya mencoba, tapi sepertinya sudah cocok seperti ini. Bagaimana?" Arumi menunjukkan nya pada Abyan.


"Masyaa Allah sempurna, kamu tidak pernah gagal dalam berpenampilan. Apalagi dengan abaya dan juga niqab yang menutupi wajah cantik umma." Abyan selalu terpesona dengan keindahan yang sudah Allah berikan padanya, sosok wanita cantik yang menjadi istrinya.


Arumi tersenyum tersipu malu dengan pujian Abyan, lupa segala yang pernah terjadi dengan suaminya.


Setelah siap semua, Abyan memberikan Feer pada Arumi. Karena dia sendiri yang akan membawa barang-barang yang sudah disiapkan Arumi.


Mereka berangkat dari rumah menuju pesantren, bunda dan ayah serta Anisa yang akan datang untuk menginap mempersiapkan acara besok sudah sampai di pesantren lebih dulu dari Arumi dan Abyan.


Tak lama mobil mereka sampai di halaman pesantren yang sudah banyak orang seperti santri dan keluarga serta sahabat yang menunggu mereka.

__ADS_1


Abyan turun menggendong baby Feer, membiarkan Arumi jalan dengan tangan kosong. Barang yang mereka bawa bisa di atur nanti, karena tidak mungkin langsung dipakai kecuali popok Feer.


Mereka bergemuruh dengan sosok Abyan dan juga Feer tampak di pesantren pertama kali, benar-benar perdana Abyan dan Arumi membawa Feer ke pesantren untuk pertama kalinya. Namun lebih riuh dan terkejut dengan wanita yang turun dari mobil mengenakan abaya dan juga niqab. Sangat terpancar aura positif nan mahal, cantik dan anggun tetap terlihat pada diri Arumi meskipun mengenakan pakaian besar dan menutupi wajahnya.


Mereka berjalan seperti di red carpet, banyak wartawan dan fans yang menyukai nya. Tapi faktanya ternyata santri dan juga keluarga nya.


"Assalamu'alaikum semua," ucap Abyan pada semua orang disana. Arumi menatap sekilas memberikan senyuman pada santri, terlihat dari mata nya. Lalu setelah itu ia menundukkan pandangan nya lagi.


"Wa'alaikum salam." Jawab semua orang.


Orang tua Abyan dan juga Arumi menyambut mereka dengan hangat, lalu bergantian menggendong Zafeer.


"Gus Zafeer sudah tampan dari lahir."


"Bukan cuma kamu, tapi ana juga menginginkan seperti mereka." Banyak dari para santri yang berbisik-bisik bermimpi mendapatkan pasangan seperti mereka, tidak terpisahkan oleh terjangan angin ombak, badai yang selalu mengobrak-abrik rumah tangga yang di susun dengan rapih. Tetap pada posisi semula, dengan pasangan yang sama pula.


Anisa berada di dekat para ipar Arumi, ia juga terpesona dengan kakaknya.


"Widya, Almira, mbak Laila, Khayra. Kalian tahu apa yang terjadi dengan adik saya?" Arumi bertanya karena Anisa menatapnya sambil membuka mulutnya.


Mereka menggelengkan kepalanya ikut terkejut saat melihat Anisa yang tidak sadar telah membuka mulutnya.


"Anisa, kamu kenapa?" Tanya Arumi yang tidak di gubrisnya.

__ADS_1


Arumi berinisiatif menarik hidung Anisa, sampai adiknya itu sadar jika sudah ada Arumi di depan nya.


"Kak zy, hidung Anisa sakit." Rengek Anisa memegang hidungnya.


"Ngapain sampai membuka mulut lebar gitu, seperti orang yang sedang menghayal." Arumi sambil mengusap hidung Anisa lembut.


"Memang lagi menghayal, kenapa kak zy bisa tahu?" Tanya Anisa.


"Semua keluarga kita tahu, apa sekarang sudah ada cita-cita baru?" Tanya Arumi menggoda adiknya. Membuat semua keluarga dan sahabat Arumi tertawa. Karena Anisa dikenal sebagai anak yang pintar dengan segala cita-cita yang berubah-ubah untuk masa depannya.


"Kak zy, Anisa malu." Mereka semua semakin tertawa mendengar jawaban Anisa.


"Ayo masuk, gak kangen sama ponakan kamu? Mari semuanya." Arumi tersenyum pada semua santri dan mengajak masuk keluarga nya yang masih sempat menyambut kedatangan nya.


"Mari ning."


Nang Ning Nung eeuyyyy hihi


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2