Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Menuruti bumil


__ADS_3

Arumi membawa Widya ke pondok pesantren, menggunakan mobil Abyan yang ia bawa dari kampus. Widya hanya diam saja mengikuti apa yang dilakukan ibu hamil itu.


Arumi dan Widya berjalan menuju ndalem untuk menemui mertua nya. "Assalamu'alaikum," ucap Arumi dan Widya dari luar.


"Wa'alaikum salam." Sahut ummi dan abah dari dalam.


"Masyaa Allah, mantu-mantu ummi datang kemari." Arumi dan Widya langsung menyalimi tangan mertuanya bergantian.


"Dimana suami kalian, kenapa hanya datang berdua?" Tanya abah yang tidak melihat kedua anaknya.


"Mereka sedang bekerja, abah. Kami kemari karena sudah tidak ada lagi kelas, tadi hanya satu mata kuliah."


"Insyaa Allah nanti mereka akan menyusul kemari."


Arumi menatap sekeliling, entah apa yang dicarinya. Ummi, abah dan juga Widya melihat apa sebenarnya yang di carinya.


"Kamu sedang mencari apa nak? Kalau ingin istirahat tidak apa, langsung saja ke kamar suami kalian masing-masing."


"Tidak ummi, Arumi hanya mencari Al, kenapa tidak terlihat."


"Adik ipar kamu itu di kamarnya, mungkin dia sedang membaca buku atau sedang menulis." Arumi dan Widya manggut-manggut mendengar jawaban dari mertuanya.


"Bagaimana dengan keadaan kamu? Apa masih mual?"


Arumi mengangguk. "Tapi hanya di pagi hari aja ummi, nafsu makan juga berkurang."


"Makan aja apa yang kamu inginkan, jangan sampai perut kamu kosong." Abah menimpali.


"Kemarin Arumi pengen makan, tapi masakan mas Najib." Ummi dan abah tertawa, bisa-bisanya menantunya itu mengidam masakan dari Najib.


"Lalu, suami kamu mengizinkan?"


"Awalnya tidak di izinkan ummi, katanya mas Aby juga bisa masak. Tapi yang Arumi inginkan adalah masakan mas Najib. Akhirnya Arumi sudah ingin tidur saja, tapi tiba-tiba mas Aby nyusulin ke kamar jangan tidur dengan keadaan perut kosong."


"Jadi dari situ suami kamu baru mengizinkan?"


"Iya, tapi masih panjang ummi, sekitar minta habis isya' tapi baru makan sekitar jam sembilanan."


"Kalau abah istri lagi ngidam, minta apapun abah berikan."


"So sweet sekali abah, tidak seperti mas Aby yang harus ngambek dulu baru di izinkan."


"Nanti biar abah yang kasi tahu suami kamu." Ucapnya tersenyum.


"Widya, kenapa kamu diam saja nak?" Tanya ummi menatap Widya yang hanya diam saja, tidak seperti biasanya saat sebelum menjadi menantu.


Widya langsung menatap ummi dan tersenyum. "Tidak apa-apa ummi, hanya belum nyambung."


"Apa kalian bahagia menikah dengan suami kalian?" Tanya abah

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalau Arumi sendiri bahagia." Arumi melirik Widya.


"Widya juga sama seperti Arumi, tapi belum tahu juga kedepannya seperti apa karena masih sangat baru. Mohon do'a dari abah dan ummi semoga pernikahan kami selalu di ridhai Allah sampai ke jannah."


"Ummi dan abah selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak dan para menantu kami." Mereka terus mengobrol sampai akhirnya ummi dan abah menyuruh mereka untuk istirahat di kamar nya masing-masing.


...******...


Abyan meminta Najib untuk menjemputnya, awalnya Najib tidak mau karena ingin menjemput istrinya. Tapi Abyan mengatakan bahwa Arumi menculik istrinya, baru Najib mau menjemput di kampus.


Mereka telah sampai di pondok, di kabari oleh Widya bahwa saat ini dirinya dan Arumi sedang berada disana.


"Ini namanya bukan di culik by, suudzan mulu heran."


"Astaghfirullah, bukan suudzan jib. Tapi terpaksa mengatakan karena kamu tidak mau jemput saya ke kampus."


"Itu gara-gara dosen centil itu, kamu gak lihat apa tatapan nya saat lihat kamu. Tadi aja kamu sudah di jemput di tawarin nebeng dia segala, apa kalau bukan centil."


"Kamu yang suudzan jib, saya hanya berteman dengan dia sebagai partner kerja di kampus."


"Apapun alasan kamu, aku tetap tidak ingin kamu dekat dengan dia by. Bagaimana jika ning Arumi mengetahui kedekatan kalian?"


"Itu dia. Karena sudah tahu Arumi salah paham lagi, lalu bawa mobil saya kesini dengan istri kamu."


"Jangan sampai terjadi fitnah, dan kamu akan kehilangan istri dan anak kamu by."


"Kamu jangan mendoakan yang tidak-tidak jib, saya tidak mungkin meninggalkan Arumi."


"Hati-hati kalau ngomong jib, ucapan adalah do'a."


"Makanya sebelum jadi do'a, kamu harus waspada lebih dulu, jangan sampai terjadi hal yang demikian."


"Tidak akan, saya mau masuk saja. Kelamaan sama kamu disini, buat saya berpikir yang tidak-tidak."


"Aku juga tidak mau lama-lama sama kamu by, mending berdua sama Widya." Mereka sama cepat-cepat masuk ke ndalem untuk menemui istri masing-masing.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Keluarga Abyan sedang ada di dalam, mereka berkumpul. Hanya tidak ada Affan dan istrinya.


Arumi melihat suaminya datang, ia langsung berdiri, walaupun dengan wajah yang kurang tersenyum, ia tetap menyambutnya.


Abyan sudah tahu kalau istrinya itu masih marah, ia hanya tersenyum. Widya yang melirik sahabatnya seperti itu mengerti, kalau dirinya menemui suami nya dengan perempuan lain di suatu ruangan, ia juga pasti marah.


Arumi langsung membawa tas Abyan ke dalam kamarnya, tanpa berbicara apapun. Ummi dan abah melihat itu, melirik Widya.


"Bi, kita masuk yah kamu mandi dulu setelah itu makan." Widya menarik tangan Najib.

__ADS_1


"Sayang, kamu masih marah dengan mas?"


"Menurut mas?" Tanya balik Arumi.


"Masih marah."


"Sudah tahu marah, kenapa nanya."


"Sayang, kamu salah paham."


"Sudah lah mas, apa lagi sekarang yang mau dijelaskan? Apa Arumi salah lihat? Ada Widya juga disana, teman kamu itu menyukai kamu."


"Tapi mas tidak menyukainya, kamu tetap yang pertama dan terakhir."


"Sudahlah mas cepat mandi, Arumi lapar."


"Ayo makan dulu, mas mandi nanti saja."


"Oke."


"Mau kemana nak?" Tanya ummi saat melihat Arumi dan Abyan keluar.


"Arumi lapar ummi, katanya mau makan."


"Kenapa tidak mengatakan nya, ummi akan menyiapkan."


"Arumi ingin makan bakso, ummi."


"Lah, kamu mau makan bakso? Mas gak mau kamu makan banyak lemak dan menutupi anak kita."


"Menutupi apa sih mas? Tadi kamu bilang iya."


"Bakso tidak sehat, kamu harus makan yang sehat saja." Arumi langsung menunduk, ia tidak tahu lagi mau jawab apa.


"Aby, istri kamu itu sedang hamil. Tapi setiap yang kamu inginkan dilarang, turuti saja apa yang diinginkan."


"Tapi bagaimana jika anak Aby tertimbun lemak bakso." Abah dan juga ummi tertawa, begitu juga dengan Almira yang baru saja datang.


"Memangnya anak mas Aby diamnya di kerongkongan? usus? Atau lambung?"


Abyan melirik istrinya yang menunduk, ia kembali merasa bersalah dengan Arumi.


"Arumi makan disini saja, tidak perlu makan bakso."


"Mas bungkus saja ya? Kamu makan disini."


"Arumi mau nya makan di warung." Abyan hendak menolak lagi, namun orang tua nya memberi kode supaya menurutinya.


Abyan mengangguk membuat Arumi langsung tersenyum karena sudah di izinkan.

__ADS_1


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...


__ADS_2