Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Mengisi acara


__ADS_3

Abyan benar-benar mengajak Arumi ke kota B. Ia mengajak Arumi mengikuti acaranya. Malam ini mereka menginap di hotel dekat dimana tempat acara itu dilaksanakan. Najib dan Widya tidak bisa ikut serta, di karenakan pekerjaan nya yang tidak mungkin ia tinggalkan. Karena Najib bekerja bersama Abyan, jadi jika keduanya pergi, maka pekerjaan nya akan terbengkalai dan lama akan selesai.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Abyan, ia takut istrinya merasa lelah dan akan berpengaruh pada kandungannya.


"Tidak masalah, Arumi baik-baik saja. Kenapa mas Aby begitu khawatir?" Tanya Arumi tersenyum.


"Mas hanya khawatir pada anak mas, karena tidak terbiasa jalan jauh." Ucapnya mengelus perut Arumi. Tidak melihat jika istrinya sudah memanyunkan bibirnya.


Abyan tersenyum, ia hanya ingin mengerjai istrinya. "Bagaimana mungkin mas hanya khawatir dengan calon anak kita saja. Mas juga khawatir pada umma nya."


"Sekarang aja gitu, tadi cuma khawatir sama anaknya."


"Tentu saja khawatir dengan umma nya juga, bagaimana mungkin hanya sama anaknya. Kan kamu yang membawa anak kita, sayang." Abyan selalu gemas dengan Arumi, bagaimana tidak gemas jika istrinya itu seperti anak kecil jika sudah memanyunkan bibirnya.


"Coba ya mas kita bisa gantian," ucapnya yang mulai ngelantur.


"Gantian apa?" Tanya Abyan bingung dengan ucapan istrinya.


"Gantian bawa baby ini." Tunjuknya pada perut yang sudah membuncit.


"Kamu ada-ada aja, jangan jadi keduanya Najib, sayang. Kamu dan anak kita harus tidak ngeselin seperti Najib."


"Memangnya Arumi ngeselin?" Tanya Arumi.


"Tentu saja tidak, mana ada istri mas yang cantik ini ngeselin." Jawabnya cepat dan mencium kening Arumi.


"Sekarang kamu bersih-bersih dulu, mas akan pesan makanan. Kalau nanti sudah selesai makan dan shalat langsung istirahat. Kita masih ada waktu sebelum acara sekitar dua jam an." Arumi mengangguk dan langsung beranjak untuk membersihkan tubuhnya.


"Hati-hati, sayang." Abyan memperingati Arumi agar berhati-hati saat di kamar mandi, karena di dalam di khawatirkan licin.


"Iya mas." Jawabnya menoleh sebentar sambil tersenyum. Lalu Abyan keluar setelah melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Arumi dan Abyan melaksanakan shalat terlebih dahulu. Lalu setelahnya baru mereka makan.


"Kamu mau ngapain sayang? Kenapa tidak langsung istirahat?" Tanya Abyan yang melihat Arumi berjalan mendekati koper.


"Baru selesai makan, tidak baik jika langsung istirahat mas. Arumi akan menyiapkan pakaian yang akan kita kenakan nanti di acara." Jawab Arumi membuka koper pakaian nya, ia mengambil yang akan ia kenakan nanti bersama suaminya.


"Biar mas bantu, kamu boleh bergerak tapi kalau sudah merasa lelah tidak usah di kerjakan."


"Siap mas suami." Arumi memberi hormat pada Abyan. Abyan merasa hidupnya lebih berwarna setelah menikah dengan Arumi, ia merasa lebih banyak tersenyum dari pada diam saja seperti dulu. Tidak ada yang salah jika menikah dengan usia nya yang berjarak sampai tujuh tahun an seperti dirinya.

__ADS_1


...******...


Abyan dan Arumi sudah bersiap berangkat ke acara, Abyan telah selesai, namun Arumi masih memasang kerudung nya. Ia masih bingung dengan niqabnya, akan meletakkan di luar atau di dalam kerudung nya.


"Sudah sayang?" Tanya Abyan yang melihat istrinya sejak tadi belum selesai. Padahal istrinya itu tidak pernah lama jika berdandan, apalagi akan mengenakan niqab. Berbeda dengan waktu pernikahan Widya dan Najib yang tidak di rencanakan mengenakan niqab. Arumi berdandan secantik mungkin untuk pernikahan sahabatnya, namun harus di tutupi karena suaminya yang tidak mengizinkan.


"Arumi bingung, mau di dalam saja atau diluar." Arumi menatap suaminya.


Abyan mengampiri Arumi, ia mengambil niqab yang di pegang istrinya.


"Pasang saja di dalam, mas akan bantu memasangkan nya untuk kamu." Abyan memasangkannya. Arumi menatap wajah Abyan itu lekat.


"Jangan di pandangi terus, sayang. Mas jadi malu kalau kamu lihat nya seperti itu."


"Mas Aby pakai niqab juga ya?" Ucapan Arumi kembali membuat Abyan tertawa geli.


"Niqab nya buat kamu saja, mas tidak perlu memakainya."


"Tapi, wajah mas Aby terlihat juga oleh akhwat yang ada disana."


"Apa kamu cemburu? Jika mas dilihat oleh akhwat?"


Abyan tersenyum mendengar ucapan Arumi. "Sudah selesai, sekarang kamu yang pentul sendiri. Setelah itu kita langsung berangkat kesana, mobil jemputan nya sudah siap di depan."


"Iya mas." Arumi merapikan kerudung besar nya, ia akan segera berangkat dengan kaos kaki yang juga sudah terpasang.


"Ayo sayang!" Ajak nya setelah melihat Arumi siap berangkat.


Mereka telah sampai di tempat acara yang akan diisi oleh Abyan.


"Sayang, kamu duduk di mimbar bersama nyai dan ning yang lain."


"Tidak perlu mas, Arumi akan duduk bersama para tamu yang lain."


"Kamu yakin sayang, duduk dengan tamu yang lain? Apalagi di sana juga terlihat ramai." Tanya Abyan takut jika istrinya tidak mendapat tempat yang nyaman.


"Arumi akan duduk di paling belakang saja mas, tidak masalah. Tidak baik juga jika mengambil tempat yang sudah ada orangnya."


"Benar, tidak apa?" Tanya Abyan meyakinkan istrinya.


"Insyaa Allah, Arumi tidak apa."

__ADS_1


"Kamu hati-hati ya, jangan sampai terjadi apa-apa dengan kamu dan calon anak kita."


"Iya mas."


Mereka berpisah disana, saat Abyan memasuki tempat acara dan duduk di paling depan. Sedangkan Arumi duduk di paling belakang, karena hanya itu yang tersisa. Abyan melihat istrinya yang duduk dengan tenang, terlihat dari matanya bahwa istrinya itu sedang tersenyum.


Pembawa acara memulainya, karena Abyan sudah datang. Abyan memulai nya dan sampai dimana sesi tanya jawab. Banyak ikhwan serta akhwat yang bertanya. Mengenai pengetahuan serta kisah asmara Abyan. Abyan menunjukkan cincin miliknya, yang memang halal di pakai laki-laki muslim.


Banyak yang kecewa karena Abyan sudah memiliki istri, ada juga yang penasaran seperti apa istri Abyan itu.


Karena sudah banyak yang bertanya dan sesi berikutnya tidak ada lagi, disitu Arumi mengangkat tangannya untuk bertanya pada suaminya sendiri.


"Assalamu'alaikum gus, bolehkah saya bertanya?" Tanya Arumi menggunakan sebutan gus untuk suaminya.


Banyak yang menatap Arumi, karena tidak menyadari juga ada wanita bercadar duduk di bagian belakang.


"Ya zaujati, apa yang mau kamu tanyakan?" Tanya Abyan yang membuat Arumi menunduk karena malu suaminya itu menjawab dengan menyebut zaujati.


"Pasti sekarang wajahnya sudah merona, karena malu dengan ucapan saya."


"Istri saya berada di belakang sana, beliau memilih duduk disana daripada di mimbar." Banyak yang melihat itu, dan membuat wanita disana sedikit cemburu, karena terlihat dari mata Arumi bahwa dirinya adalah wanita yang cantik.


"Masyaa Allah, istri gus Abyan ternyata ikut juga kemari. Maafkan kami ning, karena tidak mengenali."


"Tidak masalah, saya baik-baik saja disini."


"Beliau juga sedang mengandung, jadi saya membawanya untuk ikut saya mengisi acara disini."


"Ya Allah, mari kita ke ndalem ning. Pasti sekarang sudah lelah."


"Tidak apa, lanjutkan saja acara ini ning. Saya masih akan menunggu beliau disini sampai acaranya selesai." Ucapnya pada ning disana yang menghampiri Arumi, lalu duduk di sebelahnya karena Arumi tidak mau diajak ke ndalem tanpa suaminya.


Mereka sedikit iri juga dengan Arumi yang terlihat anggun, memang sangat berbeda orang yang berada dan beradab. Terlihat dari tutur kata dan penampilan sederhananya, namun terlihat mewah. Berbeda dengan yang biasa saja, namun memperlihatkan kemewahannya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain.


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2