
Abyan menyusul istrinya ke kantin, ia melihat Arumi makan disana sambil tersenyum senang di temani Widya, Najib dan juga Almira. Sebagai seorang suami, kini dirinya merasa gagal. Padahal ia berjanji pada dirinya akan memenuhi apa yang di inginkan istrinya, namun karena dirinya cemburu melihat istrinya selalu meminta di masakin oleh orang lain, dan akhirnya dirinya menyakiti perasaan Arumi.
Abyan menghampiri mereka, yang sedang duduk menikmati makanan kantin.
"Mas Aby, Arumi makan duluan. Duduk sini mas!" Arumi melihat Abyan yang mendekat ke arahnya langsung berdiri menyuruh suaminya duduk di sebelahnya.
"Kamu makan aja gak apa, mas sudah kenyang." Abyan membantu istrinya duduk agar kembali menikmati makanannya.
"Mi, kamu mau ini?" Tanya Najib pada Widya, istrinya langsung mengangguk saat tangan Najib di sodorkan.
Abyan melihat Najib dan Widya merasa kalah, padahal mereka baru menikah tapi terlihat mesra. Sedangkan dirinya menyuapi Arumi hanya ketika istrinya itu sedang sakit.
"Wah, mas Najib dan mbak Widya romantis sekali. Jarang-jarang ada orang yang peka dan mau menyuapi istrinya secara terang-terangan." Almira sambil melirik Abyan, Arumi hanya tersenyum menatap sahabatnya malu-malu.
"Mas itu memang sangat romantis, jadi kalau kamu mau menikah, cari laki-laki yang seperti mas mu ini."
"Hanya perlakuan nya pada mbak Widya yang mungkin al akan mencarinya seperti mas Najib, tapi selain itu, gak perlu seperti mas Najib lah."
"Lah, kenapa? Mas kan sudah sempurna. Tampan, baik, pengertian, perhatian, setia terutama. Masalah fisik juga tidak kalah, mas ini badannya sudah bagus dan putih. Ideal lah al, idaman nya para wanita."
"Banyak yah? Padahal cuma idamannya mbak Widya."
"Eh eh, kamu hanya melihat dari sini, banyak yang mengidamkan mas jadi pasangannya." Widya menatap tajam Najib.
"Tapi idaman mas itu hanya mbak Wiyda yang cantik ini," ucap Najib mencolek dagu Widya, membuat Arumi dan Almira tersenyum. Apalagi Widya yang sudah salah tingkah di hadapan mereka.
Entah apa yang Abyan pikirkan, sampai orang di dekatnya mentapnya ia tidak menyadari.
"Suami mbak Arumi, kenapa?" Tanya Almira yang melihat abangnya hanya terdiam.
"Nanti kesambet ning, sekarang udah malam lagi."
"Iya mi, kasihan kalau tampan-tampan kesambet."
__ADS_1
"Mas," ucap Arumi menyentuh tangan Abyan, dan itu membuat Abyan terkejut.
"Astaghfirullah." Abyan menatap istrinya dan bergantian pada yang lain.
"Kenapa menatap saya seperti itu?"
"Mas Aby yang kenapa? Dari tadi hanya diam tanpa menimpali obrolan kita."
"Tidak pa-pa, mas hanya sedang tidak ingin menyambung obrolan kalian."
"Sudah malam, Arumi kembali duluan ke ndalem ya." Arumi tersenyum dan beranjak meninggalkan suami dan iparnya.
"Mas Aby tidak ada niatan mau sedikit peka sama mbak Arumi?"
"Mas gak ngerti al, padahal menurut mas sudah mengerti dengan semua keinginan Arumi."
"Wanita memang susah di tebak, apa yang diinginkan kadang kita bingung by. Tapi jika perlakuan kita sedikit lebih baik lagi, coba mengerti sedikit saja, wanita akan senang. Jangan terlalu kaku menghadapi istri kamu, wanita hamil juga sensitif kamu harus sabar. Yang di inginkan saat ini hanya kamu mengizinkan atau memberikan apa yang ning Arumi mau, dia sedang mengidam keinginan sang calon bayi kalian."
"Saya akan masuk ke ndalem, sudah malam. Kamu jangan terlalu lama di luar al, sudah malam tidak baik anak perawan mengikuti pasangan yang sudah menikah."
"Kamu baperan." Abyan berjalan menuju ndalem.
"Apaan sih mas Aby," ucap Almira dan kembali menoleh melihat pasangan di depannya yang sudah kembali suap-suapan.
"Oh ini, benar kata mas Aby kalau malam seperti ini tongkrongan orang yang sudah menikah tidak bisa diikuti anak perawan yang jomblo." Almira juga menyusul Abyan masuk ke ndalem, untuk bersih-bersih sebelum tidur.
...******...
Abyan melihat Arumi yang baru selesai shalat, mungkin shalat hajat pikirnya karena shalat isya' sudah mereka laksanakan.
"Mas, sudah masuk?" Tanya nya sambil membuka mukenahnya.
Abyan mendekat ke arahnya, Arumi meletakkan mukenah nya sambil melihat Abyan.
__ADS_1
"Apa mas selama ini tidak mengerti, apa yang kamu inginkan?"
"Maksud mas Aby, apa?"
"Mas minta maaf, mas suami yang tidak mengerti apa yang istrinya inginkan. Mas tidak mengerti apa yang calon anak appa mau."
"Umma yang terlalu menginginkan macam-macam, harusnya umma tidak menyusahkan appa."
"Tidak, mulai sekarang mas akan mencoba menuruti semuanya."
"Benarkah?" Tanya Arumi membuat Abyan berpikir lagi, apa dirinya salah memberi penawaran.
"Benar tidak?"
"B-benar."
"Yes, Arumi ingin sekali dimasakin sama teman mas Aby."
"Tenang, besok Najib mas suruh masak buat kamu." Abyan tersenyum mengelus perut istrinya.
"Bukan Mas Najib" Arumi menggelengkan kepalanya.
"Lalu, siapa?"
"Teman mas Aby itu profesor Arumi di kampus."
"Hah? Sayang, jangan-
"Bukannya tadi akan menuruti apa yang umma inginkan? Lalu kenapa sekarang appa berubah." Arumi mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Abyan kembali hanya bisa menghela nafas berat, bagaimana caranya profesor Arumi di suruh masak.
Teruslah semangat Abyan, cari ide gimana caranya menyuruh profesor masak buat istri kamu hahaha.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
See you...