Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Eps7


__ADS_3

Pagi ini sebelum berangkat ke kampus, Arumi ingin berbicara pada ayah dan bunda nya.


"Ayah, bunda. Apa zy boleh bicara?" tanya zy setelah berada di depan kedua orang tuanya.


"Sarapan dulu zy," jawab ayah Salman. Arumi menatap bunda nya yang mengangguk.


"Baik ayah." Lalu mereka bertiga memulai sarapan nya dengan tenang, Arumi selalu menunduk saat sarapan kali ini, itu tak luput dari perhatian ayah dan bunda.


Karena biasanya memandangi kedua orang tuanya, dan selalu tersenyum.


Setelah selesai sarapan, Arumi membantu bunda nya membersihkan meja makan, itu selalu menjadi kebiasaan nya setelah makan.


Di ruang tamu, ayah sudah menunggu bunda Faza dan Arumi di tempat duduknya, sambil membaca berita hari ini di surat kabar harian atau koran.


Arumi berjalan mengikuti bunda Faza di belakangnya, untuk menuju ayah.


Ayah menoleh ke arah kedua wanita itu, lalu meletakkan koran dan kaca mata nya di meja dengan di lipat.


"Emm ayah," panggil nya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, pada ayah dan bunda zy?" tanya ayah.


Arumi menatap ayah dan bundanya bergantian.


"Apa tentang semalam, benar adanya? apakah tidak terjadi kesalahan?" tanya Arumi.


"Tidak, yang semalam kamu dengar itu memang benar. Apa kamu tau sebelum nya, bahwa yang akan melamar mu bukan Yusuf?"


"Tidak ayah, zy tidak tau kenapa abah datang kemari melamar zy, malah untuk gus Abyan, padahal sebelumnya Yusuf yang mengatakan mau mengkhitbah zy."


"Lalu, apa yang ingin kamu tanyakan lagi?"


"Apakah ayah sudah menerima lamaran dari abah?" Arumi menundukkan kepalanya, tanpa bisa menatap wajah kedua orang tuanya.


"Ayah belum menjawab nya, ayah menyerahkan semuanya sama kamu, karena kamu yang akan menikah, bukan ayah ataupun bunda. Jadi, keputusan semuanya ada di tangan kamu."


"Apakah zy boleh menolaknya ayah?" Ayah dan bunda saling bertukar pandang.


"Jangan terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan zy, pikirkan dulu, kalau perlu sholat istikharah. Abah juga memberimu waktu, untuk memikirkan nya dulu zy," ucap bunda kali ini.


Bunda yang ingin Abyan lah yang jadi menantu nya.


"Iya, kamu pikirkan dulu masak-masak."


"Baik bunda, ayah, zy akan pikirin dulu keputusan apa yang akan zy ambil. Hanya itu saja yang mau zy tanyakan. Zy berangkat dulu, soalnya ada kelas pagi ini," ujarnya.

__ADS_1


Arumi berdiri mengambil tas dan laptop nya, lalu berpamitan mencium punggung tangan ayah dan bunda.


"Hati-hati nak."


"Iya ayah, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Di kampus, Arumi duduk sendiri sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya, lalu tangan kanan untuk memegang buku di depannya, entah ia membacanya atau dirinya hanya sedang melamun.


"Assalamu'alaikum cintah."


"Arumi hey," panggilnya lagi.


Siapa lagi yang selalu mengagetkan Arumi, dengan menepuk bahunya pelan.


"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan disini wid?" tanya nya pada Widya yang membuat dirinya terkejut.


"Lah biasanya kan aku juga kesini mi, kenapa malah terkejut gitu?" jawabnya.


"Ucap salam sebelum menyapa wid."


"Eh hello sayang, aku udah ucap salam yah, kamu nya aja gak jawab."


"Bagaimana mau dengar coba, kamu nya aja melamun."


"Masa sih?" tanya nya tak percaya.


"Baiklah aku ulang lagi, assalamu'alaikum cintah," ucap Widya mengulangi salam nya.


"Wa'alaikum salam, lebay banget, tolong."


"Lebay gini juga , kamuh cintah banget kan sama akuh."


Arumi seperti ingin muntah.


"Kamu kenapa sih mi?"


"Gak pa-pa kok wid, memangnya kenapa?" tanya balik pada Widya.


"Beda aja dari biasanya, banyak melamun nya akhir-akhir ini."


"Masa sih gitu?"


"Iya, kamu nya aja gak sadar."

__ADS_1


"Eh mi, kamu udah lihat belum?"


"Lihat apaan?" Kini Arumi menatap wajah Widya dengan serius.


"Postingan Yusuf dengan Zahra." Buru-buru Arumi mencari ponsel nya di tas, untuk melihat postingan mereka.


Di postingan Zahra, memperlihatkan foto Yusuf dan Zahra, dengan Zahra yang menunjukkan cincin di jarinya.


Mereka berdua nampak begitu serasi dengan caption Sahabat selamanya.


Lalu dengan postingan Yusuf sendiri hanya foto dirinya sendiri yang menghadap kebelakang dengan caption BISMILLAH DOAKAN YANG TERBAIK.


"Apa yang aneh dengan postingan mereka wid?" Arumi bertanya dengan wajah polos nya bingung, menurutnya postingan dari mereka berdua biasa saja, tidak ada yang berbeda dari biasanya.


"Ya Allah, kenapa sahabat hamba hanya pintar ketika belajar, mengenai ini saja tidak bisa menebaknya," ucap Widya sambil menengadah.


"Widya, aku beneran gak ngerti apa maksud kamu? jelaskan gimana?"


"Apa kamu belum dengar kabar terkini dari mereka?" ujarnya.


Widya seperti memberikan hot news terkini dan terhangat pada Arumi, dan itu membuat Arumi semakin penasaran.


"Memang nya ada apa sih wid? kasih informasi itu yang jelas, jangan separuh-separuh buat orang penasaran aja, kamu bisa dikenai pasal loh, apabila memberikan berita yang tidak jelas akan di kenai sanksi dan bisa berujung jeruji besi." Arumi hanya bercanda mengenai pasal itu, ia juga tidak begitu mengerti dengan pasal.


"Emang ada yah gitu? kalau memang ada, aku kalah dong dari orang yang kuliah di fakultas kedokteran, lebih mengetahui sesuatu yang tidak di ketahui anak hukum sendiri," ucapnya dengan sendu.


"Aku cuma bercanda wid, aku juga gak ngerti tentang pasal atau apalah itu, makanya kalau ngasi informasi jangan setengah-setengah langsung pada intinya." Karena Arumi merasa di berikan sesuatu, namun tidak mengetahui barang yang di berikan.


"Baiklah maaf, katanya sih mereka berdua di kabarkan bertunangan," ucap Widya dengan mengecilkan suaranya di kata terakhir.


Ia melihat wajah terkejut Arumi, walaupun di detik berikutnya Arumi dapat menyembunyikan keterkejutan nya.


"Ini yang kamu maksud itu suf? sebenarnya kamu sudah lama ternyata menjalin hubungan dengan Zahra? apa arti aku ini di mata dan hatimu selama ini?" batin Arumi.


Nafas yang sedikit berat dan mata perih menahan air mata.


Bagaimana tidak? membayangkan saja ia tidak pernah terpikirkan, ternyata orang yang ia harapkan bersama sahabat nya sendiri.


"Woy, kenapa melamun lagi sih?"


"Gak apa wid, aku hanya bersyukur, seperti nya Zahra juga sangat bahagia," jawabnya tersenyum.


Widya sendiri tau, sahabat nya ini tidak pandai dalam menyembunyikan rasa sedihnya, walaupun mereka baru bersahabat, Widya mengerti dengan perasaan Arumi saat ini.


Bersambung 💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2