
"Mas, hari ini kamu berangkat sendiri. Arumi sedang tidak ada kelas."
"Iya, kamu jaga diri di rumah. Kalau butuh apa-apa minta tolong Anisa atau bunda." Ucap Abyan mengelus rambut istrinya.
"Iya, mas tenang aja. Lagian kalau Arumi masih mampu melakukan nya, untuk apa minta bantuan orang lain."
"Kamu selalu seperti itu, mas hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa."
"Mas Aby khawatir sama Arumi? Mas Aby sayang sama Arumi?" Tanya Arumi menatap Abyan.
Abyan belum menjawabnya, ia hanya menatap Arumi dalam.
"Apa kamu tidak merasakan rasa sayang mas? Apa kamu kembali meragukan?"
Arumi tersenyum, "mas Aby, Arumi hanya bertanya. Kenapa serius sekali menanggapi nya." Arumi mengusap wajah sang suami.
"Mas hanya takut kamu merasa kurang di pedulikan, kalau ada sesuatu yang kurang dari mas kamu bilang, biar mas tahu apa yang kamu inginkan."
"Iya mas, tidak ada. Arumi sekarang hanya ingin mas Aby selalu bersama Arumi." Arumi memeluk Abyan.
"Kalau seperti ini, berarti mas tidak boleh kerja dong."
"Bukan gak boleh kerja, maksudnya selalu bersama mas Aby selamanya berarti hidupnya bersama. Kerja mah tetap, biar punya duit."
__ADS_1
Abyan mencubit pelan hidung Arumi. "Kamu ya, bisa aja. Mas pasti kerja buat biaya hidup keluarga kita kedepannya."
"Masa biaya hidup keluarga orang, kecuali untuk membantu yang tidak mampu. Bukan yang sudah mampu makin di bantu."
"Iya, jangan nakal kamu ya. Tunggu sampai mas pulang kerja."
"Memangnya Arumi anak nakal, Arumi kan anak baik."
"Iya, anak dan istri yang baik." Ucap Abyan sambil mengecup kening istrinya.
"Bisa-bisa gak berangkat mas kalau begini terus di kamar, mas mau cepat keluar."
"Haha mas sendiri yang tidak mau berangkat, Arumi tidak ada mencegah mas Aby berangkat kerja."
"Iya, tapi tangannya di lengan mas seperti ini, mana bisa mas berangkat."
Abyan dan Arumi setuju saja, asal mereka tetap bersama.
"Ayo sarapan nak, Anisa sama ayah juga baru sarapan. Kalian mau sarapan apa?"
"Biar zy aja bun, zy masih bisa ambil makanan dan menghabiskan nya."
"Jangan terlalu berlebihan, nanti perut kamu sakit."
__ADS_1
"Hehe iya mas, Arumi hanya bercanda."
"Kak zy padahal gak bercanda mas, kak zy kelihatan nya ingin makan semua yang ada di meja."
"Kamu tukang kompor."
"Makan semampu kamu saja, jangan dipaksa kalau kamu tidak mampu menghabiskan makanan banyak."
"Siap pak suami."
"Komandan itu kak, bukan pak suami."
"Ayo kamu makan! Jangan menyambung ucapan kakak kamu."
Arumi meledek Anisa, karena bunda menegur nya untuk makan.
"Sayang, mana sarapannya?" Abyan tersenyum mencoba menghentikan istri dan adik iparnya yang tidak hentinya meledek.
"Oh iya, Arumi lupa mas." Arumi mengambil sarapan untuk Abyan di ledek oleh Anisa. Lalu di tertawai oleh ayah dan bunda, karena Arumi masih sempat meladeni adiknya yang meledeknya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
__ADS_1
IG : @istimariellaahmad98
See you...