
Setelah selesai makan malam bersama keluarga, kini mereka di ruang tamu memulai pembicaraan pernikahan anak mereka.
"Bagaimana menurut anda, ayah Salman. Kalau akad anak-anak kita dilangsungkan bulan depan ini?" tanya abah pada ayah Arumi.
Membuat Arumi dan Abyan melotot mendengar itu.
"Kalau saya tergantung abah Ferdi saja, jadi kalau minggu depan pun saya setuju, lagipula rencana baik memang harus di segerakan," jawab ayah.
"Kalau minggu depan, zy tidak setuju ayah."
"Abyan juga tidak setuju."
"Yang minta persetujuan kalian siapa?" tanya ummi.
"Iya kita hanya menentukan hari atau bulan yang pas," timpal bunda.
"Tapi kita juga boleh protes kan bun, karena kita yang akan menikah."
"Betul ummi, kalian juga harus meminta persetujuan dari kita," ucap Abyan.
"Tapi ini sudah di tentukan hari baiknya."
"Tapi ummi, Arumi minggu kedepan ini masih sibuk praktek."
"Aby juga sibuk, minggu ini sampai bulan depan keluar kota untuk mengisi acara."
"Apa abah bertanya pada kalian?"
__ADS_1
"Tidak abah," jawab Arumi dan Abyan barengan.
"Karena kalian terlalu banyak kegiatan, maka abah yang akan putuskan."
Arumi dan Abyan sudah sangat senang, mereka tersenyum pasti acara pernikahan mereka akan diundur itu pemikiran mereka.
"Abah putuskan acara pernikahan kalian, di langsungkan minggu depan." Membuat sepasang calon pengantin itu menolak cepat, senyuman yang tadi merekah kini redup karena terkejut.
"Abah mohon maaf, tapi mungkin sebaiknya di undur saja."
"Aby juga berpikir begitu, apa tidak sebaiknya kita hanya bertunangan saja dulu."
"Abah sudah memutuskan minggu depan, atau kalian mau abah lebih majukan lagi jadi besok, akad sederhana saja, pesta mah belakangan."
"Tidak, baiklah minggu depan." Aby melirik Arumi, yang begitu cepatnya menyetujui kalau akad akan dilangsungkan minggu depan.
"Tadi aja gak mau, sekarang mau ngobrol berdua."
"Sebentar saja ummi."
"Aduh Gus Aby mau ngomong apa sih?" batin Arumi
Melihat Abyan yang sudah terlebih dulu keluar, Arumi izin juga pada orang tuanya, lalu menyusul Abyan di luar.
"Sudah seperti suami istri saja mereka," ujar bunda.
"Yah sebentar lagi akan jadi za" di angguki bunda Faza.
__ADS_1
Setelah sampai di teras luar, Arumi melihat Abyan yang berdiri di dekat tiang, Arumi bingung apa yang akan ia katakan.
"Kenapa kamu langsung menyetujui nya, kenapa tidak minta di undur saja?" tanya nya setelah mendengar langkah Arumi terhenti di belakang nya.
"Gus kesini mengajak saya bicara, hanya untuk bertanya itu?" tanya balik Arumi.
"Tentu saja, apalagi yang akan saya tanya?" ujarnya ketus ke Arumi.
"Gus tadi tentu dengar sendiri bukan? mereka tidak minta pendapat kita. Kalau kita tidak menyetujui minggu depan, maka akan dilangsungkan besok. Tentu saja saya menolak, karena besok masih ada praktek penting," jawab Arumi sedikit kesal pada calon suami nya itu.
Bukannya dia juga mendengar tadi, bahwa orang tua mereka tidak meminta pendapat mereka pikirnya.
"Menurut kamu, minggu depan saya tidak ada acara penting? lebih penting dari praktek kamu itu," ucapnya kini memandang Arumi.
"Kalau begitu, gus Aby sendiri yang katakan pada mereka jika pernikahan ini di undur itu atas persetujuan kita berdua, atau batalkan saja sekalian saya juga tidak masalah, kalau sudah selesai bicara nya saya permisi." Arumi berbalik meninggalkan Abyan yang masih mematung melihatnya pergi.
Abyan hanya menatap kepergian Arumi masuk ke dalam.
Ia langsung ke mobil, sedangkan Arumi yang melewati orang tuanya, ia berpamitan izin masuk ke dalam kamar.
Orang tua mereka bertanya-tanya mengapa dengan anak mereka, setelah bicara berdua di luar malah seperti itu, apa ada sesuatu yang mereka perdebatkan.
Tentu saja ada dong bapak ibu, saya yang membuat mereka berdebat ha ha ha.
Tetap bantu othor bebu sayang
Annyeong love
__ADS_1