
Satu minggu telah berlalu, namun apa yang di katakan oleh Yusuf minggu lalu tidak lah benar, ia mengingkari janji yang sudah di nanti oleh Arumi untuk mengkhitbah nya.
Ayah dan bunda Arumi pun juga menunggu kedatangan abah.
Arumi kali ini merasa sangat mengecewakan kedua orang tuanya, bukan karena kesalahannya, namun pengharapan dari seseorang yang di tunggu nya.
Arumi mencoba menghubungi Yusuf, namun entah mengapa nomor nya tidak dapat di hubungi.
...*****...
Di meja makan keluarga Arumi tengah menikmati makan malam, tampak hening hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Suara bel dan salam menghentikan aktivitas mereka saat itu juga.
"Siapa yah malam hari bertamu?" tanya bunda.
"Mungkin itu abah ferdinan, biar ayah saja yang membuka pintu." Ayah berdiri berjalan menuju pintu.
"Kamu siapkan cemilan dan minuman nak." ujar bunda Faza menyusul suaminya keluar.
Arumi tersenyum mengangguk, perasaan gundah gelisah hati dan perasaan kecewa, seketika hilang dalam sekejap, hanya dengan mendengar suara bel rumah yang belum tentu itu seseorang yang di tunggunya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam," jawab ayah dan bunda Faza ketika membuka pintu.
Diluar terlihat abah dan ummi beserta kedua anak laki-laki nya, ayah sedikit memiringkan kepalanya untuk mencari keberadaan Yusuf, namun tidak ada sosok Yusuf yang ikut bertamu malam ini.
"Ayah, tamunya ajak masuk dulu," bunda Faza menyenggol lengan suaminya.
__ADS_1
"Eh? astaghfirullah, maaf saya melamun, malah membiarkan tamu tetap berdiri di depan pintu seperti ini."
"Mari silahkan masuk semuanya," ajaknya.
"Terima kasih." Setelah mempersilahkan tamunya masuk, bunda kembali ke dapur menemui Arumi, agar membawa cukup minum dan makannya.
"Kalau sudah bawa, keluar ya zy."
"Baik bunda," jawabnya sambil menuang air ke gelas.
Bunda Faza kembali menemui tamunya di luar.
"Maaf mengganggu bertamu saat malam hari seperti ini," ucap abah.
"Tidak apa abah, malahan kami sekeluarga senang di datangi tamu terhormat."
"Wah jadi lebar telinga saya ini," ucapnya sambil tertawa-tawa diikuti oleh ayah dan bunda.
Keluarga Arumi manggut-manggut mengerti dengan perkataan abah.
"Saya datang untuk mengkhitbah putri anda Arumi" abah melihat Arumi yang tengah menyodorkan teh tersenyum malu
Abah kembali melanjutkan ucapannya.
"Untuk putra saya Abyan Fakhri Abrar" sambungnya
Seketika senyum itu hilang dan gelas teh yang Arumi letakkan di atas piring kecil itu tumpah.
Abyan hendak membantu nya yang sejak tadi memperhatikan Arumi, namun tangannya di tahan Affan abangnya.
__ADS_1
"Astaghfirulla.h" Arumi yang awalnya sudah merasa sangat senang, kini ia seperti di sambar sesuatu yang menghancurkan harapan nya.
"Kamu gak pa-pa nak?" tanya ummi Dalilah
Namun Arumi tetap menatap kosong kearah gelas yang ia tumpahkan isinya.
"Zy kamu gak pa-pa sayang?" bunda Faza menyentuh pundak anaknya itu, ia tau anaknya terkejut, bunda dan juga ayah Salman tak kalah terkejutnya.
Bagaimana tidak terkejut, sedangkan yang ditunggu Yusuf, kenapa ketika sampai dirumah untuk Abyan putra abah.
Pertanyaan itu menyadarkan Arumi dari keterkejutan nya, baru menyadari tangan nya terkena air panas.
"Mohon maaf semuanya, saya permisi ke kama" Setelah membersihkan air teh yang tumpah di meja mengelapnya dengan tisu, tanpa menjawab pertanyaan sang bunda, lalu beranjak masuk ke dalam kamar.
"Ya Allah astaghfirullah."
"Astaghfirullah."
"Astaghfirullah." Aku henti-hentinya Arumi beristighfar memegang dadanya yang terasa sesak, butiran air bening mengalir tanpa bisa ia tahan dari mata indahnya itu.
Arumi duduk di tepi ranjangnya.
"Ya Allah apakah ini yang Yusuf katakan? apakah ini yang ia maksud dengan aku akan menjadi seorang istri? apakah ini tujuannya untuk mengasihani ku dengan janji-janji nya? apakah ini yang di maksud hanya untuk mengecewakan ku?, aku salah selama ini ya Allah maafkan hamba yang terlalu berharap padanya, sampai hamba lupa pengharapan yang membuat hamba lupa terhadap mu ya Allah." Arumi menangis disisi ranjang menyesali perbuatannya.
"Apakah ayah dan bunda akan menerima gus Abyan? hamba takut ya Allah, hamba tidak mengenalnya bagaimana kalau dia bersikap buruk padaku nanti nya?"
"Astaghfirullah apa yang aku pikirkan?" tanya pada dirinya sendiri.
Arumi bermonolog di kamar nya, tidak tau saat ini pikiran nya tidak dapat berpikir jernih, hati nya kecewa, takut, sedih dan gelisah semua menjadi satu.
__ADS_1
Bersambung 💃💃💃