Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Pengetahuan


__ADS_3

Zahra mengejar Yusuf sampai keluar, ia selalu diabaikan setelah menikah dengan sahabat nya itu.


"Yusuf, kamu mau kemana?" tanya Zahra yang mengejar Yusuf.


"Kamu gak perlu tahu aku mau kemana," jawab Yusuf terus berjalan.


"Aku sekarang istri kamu suf, jadi aku berhak tahu kamu mau pergi kemana."


"Aku tidak berharap kamu yang jadi istri aku ra, kamu tahu aku mencintai Arumi, bukan kamu."


"Tapi ini kenyataan nya suf, aku yang jadi istri kamu yang berarti aku jodoh kamu, bukan Arumi."


"Menikah bisa bercerai, jadi jangan mengatakan jodoh."


"Tapi suf-"


"Diam!" Yusuf pergi dengan melajukan motornya.


Zahra melihat itu mengepalkan tangannya erat, ia sekarang begitu membenci sosok Arumi yang sejak berada di pondok menjadi teman dekat nya.


"Arumi sudah menikah pun Yusuf tetap saja menyukai nya, aku yang sahabat sekaligus istrinya kenapa di abaikan?" Zahra tidak akan membiarkan Yusuf meninggalkan nya.


Ia akan berusaha apapun caranya membuat Yusuf tetap berada di sisinya.


Buat dia berada di sisi tuhan kalau gak mau disisi mu ra hahha othor.


...******...

__ADS_1


"Terus saya harus bicara lebih sopan dengan anda ning?"


"Apaan sih wid, bicara seperti biasa aja deh, gak nyaman dengernya." Arumi memang kurang nyaman dengan sebutan barunya, karena semua santri memanggil nya ning.


"Tapi ustadz Najib juga panggil kamu ning?"


"Itu ustadz Najib kan? bukan kamu. Lagian ustadz Najib panggil mas Aby siapa?


"Manggil namanya sih."


"Itu karena mereka temenan, atau kamu udah gak anggap aku teman kamu?" Arumi menunduk ia ingin mengerjai Widya.


"Gak gitu, oke Arumi aku minta maaf, aku gak akan panggil ning lagi."


"Aku harus bilang mas Aby pokoknya."


Arumi tertawa, "coba dari tadi kek gitu, biasa nya kan memang Arumi."


"Ia siap, apa aku ikuti bunda dan ayah aja panggil zy?"


"Terserah kamu, asal jangan ning."


"Atau aku panggil oy oy kenapa oy?" Ucap Widya tertawa.


"Apaan, yang ada aku gak bakal noleh kamu panggil cuma oy."


"Baiklah Arumi zyakana ramadhani." Widya memanggil nama lengkap Arumi.

__ADS_1


"Itu kepanjangan, kalau manggil nama lengkap Wid."


"Salah terus ya Allah, hamba memang tempat nya salah, bantu baim ya Allah." Widya menengadah dengan suara menirukan anak kecil.


Arumi tertawa melihat itu. "Iya emang salah Wid, yang seperti biasanya aja biar gak ribet."


"Kamu jadi istrinya gus bukannya makin kalem, ini malah makin cerewet heran deh."


"Mengimbangi cerita nya, kalau semuanya diam tidak ada yang bicara nanti sepi Wid, maka dari itu aku mencoba belajar berbicara banyak, tetapi tetap harus menjaga agar perkataan kita tidak menyakiti perasaan orang lain. Karena bisa saja menurut kita bercanda namun orang tersebut tersinggung."


"Masyaa Allah, memang kita itu berteman harus dengan orang yang bisa membawa kita dalam kebaikan, dan selalu bisa mengingatkan kita tentang agama"


"Makanya ada pepatah. Jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan ikut kecipratan wanginya. Apabila berteman dengan seorang yang sering berbagi dan kita mengikuti nya, walaupun kita tidak memiliki apapun untuk memberi, kita juga akan kecipratan pahalanya insyaa Allah."


"Masyaa Allah sungguh tidak salah, gus Abyan dan sahabat ku ini sangat serasi. Berdakwah secara langsung pada semua orang dan kepada satu teman itu sangat berarti, berbagi ilmu pengetahuan yang kita miliki, tidak hanya disimpan sendiri."


"Itu lah gunanya berteman Wid, saling melengkapi bukan hanya pada pasangan, pada sahabat juga."


"Arum...i" Panggil seseorang membuat keduanya berhenti mengobrol dan beralih menatap orang itu.


Mereka berdua terkejut dengan siapa yang ada di belakang mereka.


Siapa sih kenapa gak keliatan?


Selalu dukung othor bebu sayang


Othor bebu juga banyak bikin cerpen, semoga bermanfaat.

__ADS_1


Annyeong love


__ADS_2