Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Ngidam masakan Najib


__ADS_3

"Mas, Arumi ingin makan." Arumi mendatangi ruang kerja Abyan, ia mengatakan bahwa dirinya tengah lapar.


"Kamu mau makan apa? Biar mas masak, atau mau mas pesan di luar."


"Arumi gak pengen makan masakan mas Aby, ataupun pesan dari luar." Arumi duduk di sebelah suaminya.


Abyan mengernyitkan dahinya bingung. "Katanya lapar, tapi kenapa gak mau di masakin?"


"Bukan gak mau mas, tapi Arumi mau makan yang di masak orang lain."


"Yang di masak siapa?"


Arumi garuk-garuk kepala, ia bingung untuk mengatakan nya apakah suaminya itu akan mengizinkan atau tidak.


"Arumi mau makan masakan mas Najib." Arumi tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapih.


"Hah? Mas tidak mengizinkan." Abyan langsung menatap laptop nya kembali, tanpa melihat Arumi yang sudah berkaca-kaca.


"Arumi keluar dulu yah." Arumi keluar dengan air mata nya yang ia tahan.


Abyan menatap istrinya itu keluar dengan menutup pintu nya pelan, tanpa menoleh lagi kearah nya.


"Apa aku salah ya? Tapi kenapa harus minta ke Najib? Aku kan bisa masak juga." Abyan menghela nafasnya pelan, ia menutup laptop nya dan beranjak dari tempat duduk untuk menghampiri Arumi.


Abyan membuka pintu kamarnya pelan, dan melihat istrinya sudah berbaring dengan memiringkan badan nya.


"Sayang," ucap Abyan yang menyentuh bahu Arumi agar menoleh ke arahnya.


"Katanya lapar, ayo makan dulu jangan di tahan kalau lapar."


"Arumi udah gak lapar lagi mas, besok aja deh makan nya. Arumi sekarang mau tidur." Jawab nya tetap menutup kedua matanya.


"Katanya mau makan masakan Najib." Mendengar itu sontak membuat Arumi membuka matanya dan menatap Abyan.


"Boleh?"


Abyan mengangguk, ia sebenarnya tidak mengizinkan Arumi karena mengganggu pengantin baru malam-malam.


"Tapi mas telepon Najib dulu, karena sudah malam." Arumi mengangguk setuju.


Abyan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Najib. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam jib."


"Ada apa by, malam-malam telepon?"


"Eum begini- Abyan melirik Arumi yang mendekat dengan memegang lengan nya agar mendengar percakapannya.


"Kamu lagi apa? Maksud saya lagi gak ngapa-ngapain 'kan?" Tanya nya membuat Arumi menutup mulutnya dengan tangan, ia menahan tawanya karena suami nya menanyakan seperti itu.


"Kamu pikir saya lagi apa? Bisa angkat telepon kamu. Kalau aku sibuk sudah aku matikan."


"Bukan begitu jib, saya hanya takut mengganggu pengantin baru."


"Mengganggu pun sudah aku angkat, jadi sudah terlambat untuk di tutup."


Abyan dan Arumi tertawa mendengar Najib. "Ada perlu apa by, tumben telepon? Biasanya hanya masalah penting saja baru hubungi aku."


"Begini jib-"


"Dari tadi begini lah begitu lah, ada apa sih by?"

__ADS_1


"Mas Aby lama sekali, sini ponselnya biar Arumi saja yang bicara dengan mas Najib."


"Tidak, mas tidak mengizinkan kamu berbicara dengan Najib."


"Arumi, kamu kenapa? Ada apa?" Tanya Widya dari seberang telepon.


"Wid, bantu aku wid."


"Gus Abyan apakan sahabat saya gus?"


"Loh, kenapa jadi saya yang kena."


"Terus kalau bukan gus Abyan siapa lagi yang menyakiti sahabat saya?"


"Kamu salah paham wid, maksudnya aku mau minta bantu bukan karena di sakitin mas Aby."


"Kenapa suka banget pasutri ini bikin orang penasaran." Ucap Najib


"Coba Video call mi, aku mau lihat kamu."


"Sebentar, aku ambil khimar."


"Mas aja yang ambilkan," ucap Abyan yang turun dari ranjang untuk mengambil khimar sang istri.


Setelah mengambilkan khimar, Abyan langsung memasangkan nya. Sebelum tersambung dengan Video call.


"Makasih mas."


"Sudah belum? Lama sekali kalian ini."


"Sudah jib."


"Arumi, kamu gak pa-pa 'kan? Ada apa coba bilang."


Najib dan Widya saling pandang, mereka mengernyitkan dahinya semakin bingung.


"Sayang, kamu semakin buat mereka bingung."


"Aku lapar wid," ucap Arumi berkaca-kaca seakan mengadu pada sahabat nya kalau Arumi tidak punya makanan.


"Kenapa gus Abyan membiarkan Arumi kelaparan? Arumi sedang hamil gus."


"Tega banget kamu by, istri kamu lagi hamil."


"Kalian tolong kerumah, saya malah bingung mau bicara apa."


"Baiklah kita segera kesana." Najib memutuskan sambungan telepon nya.


Abyan kembali menghela nafasnya pelan menatap Arumi yang meneteskan air matanya.


"Sayang, kenapa menangis? Najib akan kesini bersama Widya, katanya kamu mau makan."


"Mas Aby sayang gak sama Arumi?"


"Kenapa malah bertanya sayang atau gak nya."


"Tinggal jawab iya atau tidak apa susah nya."


"Iya."


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Kenapa perlu alasan lagi? Tadi kamu bilang tinggal jawab iya atau tidak."


"Berarti mas gak sayang sama Arumi, kalau Arumi tanya alasan nya sayang sama Arumi aja mas gak jawab."


"Kenapa perlu alasan lagi, mas kan sayang sama kamu tidak perlu ada alasan nya. Tidak ada alasan untuk tidak menyayangi kamu, apalagi mencintai kamu. Mas menyayangi kamu tulus."


"Telat ah, Arumi mau tunggu Widya di depan."


"Eh kaki kamu." Abyan melihat Arumi yang hanya mengenakan daster selutut, menampilkan betis putih mulusnya. Abyan tidak ingin berbagi miliknya dengan orang lain.


"Oh iya lupa." Arumi langsung menuju lemari dan mengambil gamis dan memasangnya, tanpa melepas daster nya lebih dulu.


Abyan Hanya melihat istrinya itu dari ranjang, sampai istrinya keluar.


"Apa orang hamil sama dengan mood nya orang yang sedang menstruasi?" Abyan bertanya pada dirinya sendiri, lalu mengambil ponselnya untuk mengeceknya di internet.


"Mas Aby, telepon lagi mas Najib dan Widya sampai dimana? Cepat keluar!" Pekik Arumi dari luar.


"Baru aja mau cari tahu di internet, ternyata sama tapi lebih berat orang yang sedang hamil."


"Mas Aby, dengar tidak?"


"Iya sayang, mas dengar." Abyan langsung keluar dari kamar nya.


...******...


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Ayo masuk, Arumi sudah menunggu di dalam."


"Ada apa sih by?" Tanya Najib yang di angguki Widya.


"Kenapa kalian lama sekali? Arumi sudah sangat lapar." Arumi duduk sambil mengelus perutnya.


"Kenapa bisa kelaparan?" Tanya Widya yang melirik Abyan.


"Aku lagi yang jadi sasaran."


"Aku ingin makan masakan mas Najib wid."


"Hah?"


"Gak mau ya?" Segala jurus memelas nya Arumi perlihatkan, agar yang melihat kasihan terhadapnya.


"Mau kok, iya kan bi?" Widya memberi kode Najib agar mengangguk.


"Iya mi."


"Bi? Mi?" Arumi dan Abyan bingung dengan panggilan Widya.


"Iya, kita ada panggilan khusus mi. Aku yang menyarankan, aku di panggil mimi, dan ustadz di panggil bibi. Lucu kan?"


Abyan dan Arumi saling pandang, mereka mengangguk. "Lucu."


Setelah kebingungan yang di berikan mereka, dan di tujukan pula untuk mereka kembali. Akhirnya Najib memasak untuk mereka semua, karena Najib dan Widya juga belum makan. Najib suka yang gratisan, ini di jadikan alasan untuknya bisa makan di rumah Abyan secara gratis, tanpa mmengeluarkan uang sepeserpun dan bisa makan sepuasnya.


Arumi sangat lahap memakan masakan yang di masak oleh Najib, Abyan hanya makan sedikit, ia melihat Arumi yang begitu lahap merasa senang. Benar-benar, jika seseorang yang sedang mengidam akan memakan selahap ini, Abyan akan memenuhi semua keinginan nya selama ia mampu mewujudkan.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


See you...


__ADS_2