Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Cemburu?


__ADS_3

Abyan melirik Arumi yang kesulitan untuk memasang seat belt nya, lalu ia membantu nya tanpa berkata apapun.


Setelah itu ia melajukan mobilnya dari area kampus.


Arumi meneteskan air mata nya tanpa bersuara menatap jendela mobil.


Ia merasa bersalah pada suaminya itu. Sungguh kalau dirinya boleh jujur pada Abyan, ia akan mengatakan bahwa Arumi tidak mencintai Yusuf.


Tidak ada satu katapun keluar dari mulut mereka berdua, sampai mereka tiba di pesantren.


Arumi langsung turun dan langsung masuk ke kamar nya dengan berjalan menunduk.


Abyan hanya melihat nya yang juga berjalan di belakang nya.


"Aby" panggil ustadz Najib.


Abyan pun menoleh ke arah Najib.


"Ada rapat di aula masalah pembangunan pondok bersama arsitek nya." Abyan mendengar itu sambil melihat Arumi yang sudah masuk ke kamar.


Ia menghembuskan nafasnya berat dan berbalik menemui arsitek yang akan membangun pondok, untuk masalah Arumi akan ia selesaikan nanti pikirnya.


...*******...


"Terima kasih gus atas kerja samanya," ucap nya menjabat tangan Abyan.


"Sama-sama pak, semoga secepatnya bisa terlaksana."


"Apa sebaiknya kita makan siang dulu gus diluar, jika tidak keberatan?" ucapnya.


"Mohon maaf pak, karena sebentar lagi akan memasuki waktu dzuhur, saya makannya di rumah saja masakan istri saya," tolak Abyan.


"Wah sayang sekali, tapi tidak masalah gus masih ada lain waktu," jawabnya sedikit kecewa.


"Iya pak, lain waktu insyaa Allah."


"Istri gus kerja dimana? saya baru tahu kalau gus ternyata sudah punya istri."


"Istri saya masih kuliah pak, pernikahan saya juga hanya pesta sederhana, jadi banyak yang tidak mengetahui bahwa saya telah menikah."


"Oh masih kuliah gus, fakultas apa?"


"Fakultas kedokteran pak."


"Luar biasa, calon dokter yang hebat."


"Insyaa Allah pak, terima kasih."


"Saya permisi dulu gus."


"Baiklah, hati-hati pak."


Abyan mengantar bapak itu keluar dari aula sampai di parkiran.

__ADS_1


Ia buru-buru masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan istrinya.


Arumi yang baru saja keluar dari kamar, melihat Abyan ia menunduk melangkahkan kakinya cepat menuju dapur untuk membuat makan siang, tanpa menghiraukan Abyan di depannya.


Abyan juga mengurungkan niatnya untuk menyapa Arumi, karena istrinya itu sudah berlalu dari hadapannya.


Namun Abyan mengikuti Arumi di belakang nya hingga menuju dapur.


Arumi mulai sibuk mengambil bahan masakan di kulkas, tanpa menghiraukan orang yang mengikuti nya.


Abyan juga ikut ke kulkas mengambil air dingin, Arumi cepat memunggunginya memulai dengan aktivitas memasaknya.


Arumi terlihat sembab sambil mengiris bawang, tak sadar tangan nya yang juga ikut teriris.


"Shhh" ia berdesis saat jari tangannya mengeluarkan darah.


Abyan yang sejak tadi mengamati nya langsung menarik tangan Arumi ke wastafel, lalu setelah nya ia masukkan ke dalam mulutnya agar darah nya berhenti mengalir.


"Kenapa tidak berhati-hati, kenapa kamu melukai diri kamu?" tanya Abyan sibuk mengambil kotak p3k.


"Arumi bisa sendiri mas." Arumi mengambil obat yang ada di tangan Abyan.


"Saya hanya khawatir dengan kamu." Menatap Arumi yang mengobati tangannya.


"Terima kasih telah mengkhawatirkan Arumi."


"Astaghfirullah nak, kenapa tangan kamu berdarah? Aby kenapa kamu diam saja?" tanya ummi yang baru saja ke dapur melihat jari menantunya berdarah, namun anak nya hanya menatap itu tanpa membantu nya.


"Aby sudah ingin membantu ummi, tapi Arumi ingin mengobati nya sendiri."


"Astaghfirullah tangan kamu kenapa nak? ya Allah." Ummi menutup mulutnya karena melihat pergelangan tangan Arumi biru.


"Aby, kamu apakan menantu ummi? ABAH..." teriaknya memanggil suaminya setelah menyalahkan Abyan.


"Menantu ummi ini istri Aby, tidak mungkin Aby melukai nya."


"Ummi, kenapa memanggil abah? Arumi tidak apa-apa" tanya Arumi mendongakkan kepalanya membuat ummi kembali terkejut dengan mata menantunya yang terlihat sembab.


"Abah...."


"Apa sih ummi teriak-teriak di dapur?" tanya abah.


Abyan sedari tadi hanya menatap wajah Arumi.


"Abah sini"


"Ada apa mi?"


"Menantu kita bah." Abah beralih menatap Arumi yang menunduk dengan kotak p3k di depannya


"Kenapa dengan Arumi?" abah mengernyit bingung.


"Ummi yakin Abyan bertindak kasar pada istrinya."

__ADS_1


"Astaghfirullah ummi, Aby tidak melakukan apapun pada Arumi" Kalo ini Abyan menatap ummi nya.


Kenapa ummi nya bisa menyimpulkan bahwa dirinya yang berbuat kasar.


"Apa benar itu Arumi?" tanya abah dan ummi.


"Benar abah, mas Aby tidak pernah menyakiti atau kasar pada Arumi."


"Tapi sikapnya yang membuat Arumi sakit" batin Arumi


"Kenapa ummi dan abah tidak percaya pada Aby?"


"Kami percaya, tapi mungkin istri kamu lebih bisa di percaya," ucap ummi yang bicara nya sudah mirip bunda.


Abyan hanya bisa menghela nafas panjang.


"Lalu bagaimana bisa tangan kamu seperti ini? dan kamu menangis? kamu jangan berbohong untuk membela suami kamu."


"Apa boleh Arumi menjawab nya nanti saja bah setelah Arumi selesai memasak?"


"Tidak! biar saya yang melanjutkan masak."


"Tapi mas-"


"Arumi" menatap Arumi dengan tatapan dingin nya.


"Abah, ummi. Arumi keluar dulu" ucapnya membawa kotak p3k keluar.


"Aby, jangan terlalu keras pada istrimu" ucap ummi.


"Abah tidak tahu apa masalah nya, tapi kenapa Arumi sampai menangis? bagaimana kalau sampai orang tuanya tau hal ini, apa tidak jadi masalah untuk kalian?"


"Abah dan ummi sebaiknya tunggu di luar dulu, biar Aby yang masak untuk hari ini."


"Baiklah kalau hari ini kamu yang akan masak, ummi akan menunggu di depan."


"Lumayan ringan hari-hari ummi sejak ada dua chef di rumah."


"Syukur Alhamdulillah bah." Ummi tersenyum keluar dari dapur bersama abah.


"Ya Allah, apa hamba terlalu berlebihan pada Arumi, hamba seperti marah terhadap nya saat di kampus, tapi itu hamba memang marah karena melihat tangannya di pegang seorang pria yang pernah memiliki hubungan dengan istri hamba ya Allah."


"Apa aku cemburu? tidak. Aku hanya tidak suka istri ku disentuh pria lain." alibinya


Oke guys bukan cemburu, itu hanya tidak suka, catat tolong.


...******...


"Aku tidak boleh terlihat lemah, itu pesan bunda dan ayah. Aku tidak boleh manja hanya dengan luka kecil seperti ini," ucap Arumi tersenyum di depan cermin berbicara pada dirinya sendiri agar tetap kuat.


Jadi istri itu tidak gampang guys, apalagi sudah memiliki buah hati.


Othor tidak tahu karena belum menikah, tapi mengerti itu.

__ADS_1


Selalu dukung othor bebu sayang


Annyeong love


__ADS_2