
Arumi sudah di tunggu oleh Widya. Arumi juga sudah tahu, karena dirinya sudah di kabari oleh Abyan, bahwa hari ini pulang bersama Widya.
"Aku ke kelas sebentar ya, Wid. Buku aku ketinggalan di kelas." Ucapnya meminta Widya menunggu nya, saat dirinya mengambil buku di kelas. Widya sejak tadi menunggu Arumi di depan ruang prakteknya.
"Iya, aku tunggu di depan ya." Ucapnya di balas anggukan oleh Arumi. Ia langsung menuju parkiran saat Arumi juga berjalan akan mengambil barang di kelasnya.
"Allah yang lebih tahu segalanya, mana yang benar dan salah. Seperti jodoh hamba sekarang. Hamba tidak pernah tahu, jika hamba dan sahabat hamba akan menjadi ipar. Semoga hubungan kami tidak ada yang merusak nya ya Allah, seperti adanya orang ketiga misalnya."
"Aamiin."
"Aamiin," ucap Widya yang langsung menoleh. Ia tidak sadar jika suara yang mengaminkan bukanlah Arumi, melainkan Zahra sahabat nya dulu.
"Za-zahra," ucap Widya terkejut saat Zahra menatapnya tersenyum.
"Widya, apa kabar?" Tanya nya berkaca-kaca.
"Ngapain kesini ra, jangan ganggu aku dan Arumi lagi. Arumi tidak lagi bertemu dengan suami kamu. Saat ini Arumi sibuk mengurus kesehatan dan kandungan nya." Widya menoleh kearah lain.
"Wid, aku datang kesini mau minta maaf."
"Sadar? Sekarang sadar? Atau pura-pura sadar kalau kamu salah, baru mau minta maaf sekarang." Widya marah, karena Arumi di tuduh selingkuh dengan Yusuf, dan di sebut sebagai wanita gatal.
__ADS_1
Air mata Zahra mengalir di pipinya, akan sulit mendapatkan kepercayaan lagi dari sahabat nya.
"Sekarang aku hamil Wid," ucap Zahra semakin membuat Widya marah.
"Bagus, berarti kamu berhasil. Apa sekarang ini kamu akan memamerkan kandungan kamu pada aku dan Arumi?" Tanya Widya. Zahra hanya menggelengkan kepalanya.
"Widya, ada apa?" Tanya Arumi yang baru sampai di parkiran. Ia melihat Zahra menangis.
"Zahra, kenapa kamu menangis?"
"Jangan tertipu dengan tangisan palsu nya mi."
"Mi, aku kesini cuma mau minta maaf. Tidak ada yang mau aku pamerkan atau pun berpura-pura."
"Iya ra, siapa yang bilang seperti itu." Ucapnya tersenyum. Menurut Arumi, jika ada seseorang yang akan meminta maaf, kenapa kita harus memarahi nya. Bukannya berarti orang itu sudah sadar akan kesalahannya.
"Aku yang bilang. Kalau bukan itu yang dia harapkan, apa lagi?"
"Kita dengar dulu apa yang mau Zahra bilang." Widya menghela nafasnya, ia menenangkan diri nya.
"Arumi, aku mau minta maaf sama kamu dan Widya. Soal kejadian dulu aku pernah bilang kamu tidak baik." Air mata Zahra semakin mengalir, sambil ia usap dengan tangannya. Sebagian menetes ke kerudung miliknya.
__ADS_1
"Aku-
"Bagaimana kalau kita cerita di tempat makan, atau hanya sekedar minum saja. Dari pada kita bercerita disini." Arumi mengerti, sahabat nya itu butuh tempat untuk bercerita.
"Tapi mi, gus Aby menyuruh aku langsung mengantar kamu ke rumah atau ke pesantren."
"Tidak masalah Wid, tidak akan lama juga. Lagipula mas Aby pasti ngerti." Widya hanya mengangguk.
"Aku akan mengikuti mobil kalian dari belakang, aku membawa mobil." Ucap Zahra.
Arumi tersenyum. "Iya ra, tapi kamu bisa nyetir nya?"
"Bisa kok mi." Jawab Zahra tersenyum sambil melirik Widya yang tetap menatap nya tak suka. Widya langsung masuk ke dalam mobilnya, ia tetap marah dengan sahabat nya itu.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1