Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Mengizinkan Akbar


__ADS_3

"Abyan, kasih tahu dimana rumah nya Widya. Aku mau bersilaturahmi ke orang tuanya," ucap Akbar meminta Abyan untuk memberikan alamat Arumi pada nya.


"Saya gak ada bar, Arumi yang tahu alamatnya. Lagipula jika pun aku tahu dimana rumahnya, tidak akan saya memberikannya padamu."


"Kenapa by? Aku hanya ingin lebih mengenalnya."


"Saya hanya ingin mengatakan, sebaiknya tidak perlu mendekati Widya lagi bar."


"Kalau Widya teman istri kamu itu tidak boleh, bagaimana jika kamu jodohkan saya dengan adik kamu?" Tanya Akbar sambil tersenyum.


Abyan menatap Akbar yang tengah tersenyum kearahnya. "Saya perlu melihat lagi kesungguhan dan keseriusan orang yang akan menjadi pasangan adik saya."


"Kalau ribet gini aku balik lagi aja ke Widya," ucap Akbar membuat Abyan menggeleng.


"Belum juga di lihat langsung mundur, bagaimana mau menjadi pasangan adik saya. Saya tidak mau adik perempuan saya mendapatkan lelaki yang tidak bertanggung jawab nantinya, atau hanya mempermainkan nya."


"Kamu ini mengizinkan aku dengan siapa by?" Tanya Akbar bingung.


"Sebenarnya tidak dengan siapa-siapa, tapi jangan coba-coba mendekati teman Arumi."


"Kenapa? Apa sudah ada seseorang yang mendekatinya?" Tanya Akbar.


"Bukan hanya mendekatinya, namun sudah mengkhitbahnya." Abyan sangat santai menjawab pertanyaan dari Akbar.


"Hah? siapa? Kenapa bisa?"


"Yang jelas sudah ada, jadi tidak perlu lagi mendekati nya."

__ADS_1


"Berarti aku boleh dengan adik kamu kan?"


"Belum tentu. Misalnya saya mengizinkan, masih ada mas Affan yang belum tentu memberi izin. Jika mas Affan sudah memberi izin, masih ada Najib yang juga berperan sebagai abang. Setelahnya jika semua saudaranya mengizinkan, bagaimana dengan abah? Lalu, bagaimana pula dengan Almira?"


"Yang pertama itu kamu dulu by, karena aku dekatnya sama kamu. Setelah itu bisa mencoba mendekati mereka terutama abah."


"Saya tetap mengizinkan, pesan dari saya hanya satu, jangan pernah mencoba untuk mempermainkan adik saya. Mengerti?"


"Tentu saja mengerti. Setelah semuanya menyetujui, Tidak akan ada kata penolakan dari Almira."


"Bener juga apa yang dia bilang, kenapa aku gak kepikiran." Abyan melirik Akbar sambil membatin.


"Belum tentu sampai juga, jangan terlalu kepedean."


"Apapun yang akan kita lakukan, harus dengan kepercayaan diri by. Optimis saja, walaupun tidak tahu hasilnya memuaskan atau tidak."


Abyan nampak menganggukkan kepalanya mendengar ucapan temannya itu, ada benarnya juga sebenarnya. Berpikir positif dengan apa yang belum dilakukan, walaupun tidak tahu hasilnya seperti apa akhirnya.


"Saya juga ada janji siang ini, kenapa malah mengobrol disini."


"Kenapa malah tanya saya, saya disini yang merasa di ganggu mendengar permintaan izin kamu itu."


"Oh yang itu harus by. Aku berdo'a kamu jadi kakak ipar ku," ucapnya tersenyum.


"Sudah selesai kan? Cepat keluar! Saya masih ada kelas mengajar."


"Apa hubungannya dengan ku disini?" Tanya Akbar. Tidak hubungan dengan Akbar pikirnya.

__ADS_1


"Kamu bilang tadi ada janji, jadi cepat pergi!"


"Astaghfirullah, baik aku keluar." Akbar langsung berlari pergi, namun Kembali masuk membuat Abyan yang sedang merapikan berkas bingung menatapnya.


"Ada yang lupa," ucapnya.


"Apaan? sepertinya tidak ada barang kamu yang tertinggal." Abyan menatap mejanya yang tidak ada barang lain selain hanya kertas dan bukunya.


"Lupa salim sama kakak ipar." Akbar mengulurkan tangannya meminta tangan Abyan.


Abyan yang melihat tangan Akbar di hadapannya, menatap tajam temannya itu.


"Mau saya tarik ucapan saya tadi, kalau-


"Aku pergi! assalamu'alaikum kakak ipar." Akbar cepat berlari keluar, sebelum Abyan menarik ucapannya untuk mengizinkan dirinya bersama Almira.


Abyan menghela nafasnya panjang. "Keseharian ku kalau bukan Najib yang bertingkah seperti itu, ya Akbar. Kenapa bukan Arumi saja?" Abyan ingat dengan Arumi, terakhir ia membentaknya belum meminta maaf.


"Aku harus cepat ngajar, lalu setelah nya pulang." Abyan keluar dengan beberapa berkas di tangannya, agar cepat bertemu dengan istrinya. Walaupun belum tentu dirinya menyapa lebih dulu, karena gengsi yang terlalu tinggi masih saja ia pelihara.


Memangnya apaan di pelihara?


Sifat gengsi andah bapak Abyan.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.


Baca juga cerita othor yang masih on going sayang.

__ADS_1


'DI JODOHKAN NAMUN TAK BERJODOH'


Happy reading guys.


__ADS_2