
Seminggu lagi akan di laksanakan nya pernikahan Widya dan Najib, namun walaupun semua orang sibuk menyiapkan semua nya, Arumi dan Widya tetap ke kampus agar tetap tidak ketinggalan apa yang ingin mereka ketahui.
"Uweekkk... uweekkk..." Arumi keluar dari ruangan dengan berlari, ia menahan nya dengan tangan agar tidak berceceran.
"Arumi kenapa?"
"Kita tidak tahu prof, mungkin masuk angin."
"Tolong bantu dia ke ruang periksa."
"Baik prof." Beberapa teman wanita Arumi menemuinya di kamar kecil, untuk membantu Arumi berjalan.
"Kamu masuk angin ya mi?" Teman-temannya menatap Arumi yang sudah selesai mengelap bibirnya.
"I-iya masuk angin kayaknya."
"Ayo kita antar ke ruang periksa, prof yang menyuruh kita mengantar kamu kesana." Arumi yang awalnya akan menolak akhirnya menyetujui, karena prof nya yang menyuruh nya periksa.
"Kamu belum ada makan?" Tanya nya sebelum memeriksa.
"Sudah, saya hanya mual."
"Coba berbaring, biar saya periksa."
"Tidak perlu dok, saya hanya masuk angin."
"Apa ada sesuatu yang membuat kamu tidak ingin di periksa?" Dokter sudah curiga dengan gerak gerik Arumi yang takut orang-orang kampus tahu, jika dirinya tengah mengandung.
"Tidak ada dok, saya akan berbaring disini." Arumi berbaring di brankar, dan langsung di periksa oleh dokter kampus. Dokter yang serius memeriksa lalu menatap Arumi dan teman-teman nya.
"Apa kamu sudah mengetahui nya?" Tanya nya membuat Arumi mengangguk.
"Sahabat saya kenapa dok?" Tanya Widya yang tiba-tiba datang.
"Sahabat kamu hamil." Jawabnya membuat Arumi menutup matanya, bukan karena ada Widya, namun karena masih ada teman-teman nya disana.
"Hah? Hamil? Yang benar aja sih dok, Arumi kan belum menikah."
"Tapi memang itu yang saya periksa, saya memang bukan dokter kandungan, tapi saya yakin sekali kalau dia tengah mengandung."
"Sahabat saya memang sedang hamil," ucap Widya membuat Arumi langsung bangun dari brankar.
__ADS_1
"Apa salahnya hamil, lagi pula sahabat saya sudah menikah."
"Wid udah." Arumi sudah menangis, ia takut di keluarkan dari kampus.
"Kamu jangan nangis mi, biar tidak jadi fitnah."
"Gak nyangka banget, ternyata Arumi yang syar'i begini penampilannya bisa hamil di luar nikah."
"Diam ya kalian! Arumi bukan hamil di luar nikah."
"Kita infokan ini ke prof, biar beliau yang menyampaikan pada rektor atau pihak kampus yang lain."
"Jangan! aku masih mau kuliah disini."
"Apa yang kamu takutkan mi, kamu hamil bukan di luar nikah. Lagi pula kamu disini bukan masuk karena beasiswa, tapi kamu bayar semua nya. Walaupun kamu sangat pintar dan selalu mendapat nilai yang tinggi, tapi kamu memberikannya pada yang lebih membutuhkan."
Setelah mendengar itu, teman kelas Arumi tetap berangkat untuk memberitahukannya pada profesor yang mengajar, agar di beritahukan kepada bapak rektor. Tak lama Arumi di panggil ke ruangan nya, diikuti oleh Widya di belakang nya. Sambil memberi tahukan pada Abyan bahwa Arumi tengah di tuduh hamil di luar nikah.
...******...
"Assalamu'alaikum." Ucap salam seseorang dari luar.
"Wa'alaikum salam." Mereka semua menatap Abyan yang baru saja datang.
"Kamu ngapain by?" Tanya profesor yang mengenal Abyan.
"Saya mau menemui istri saya." Abyan yang terus menatap Arumi yang sedang menunduk.
"Siapa istri anda pak?"
"Arumi zyakana ramadhani, dia adalah istri saya."
"Ya Allah, kenapa jadi semakin rumit. Apa aku benar-benar akan di keluarkan dari kampus?" Batin Arumi.
"Apa bukti nya pak Abyan? Saya hanya tidak mau banyak mahasiswa yang berbohong dan berpura-pura sudah memiliki suami." Abyan membuka tas nya, ia mengambil buku nikah disana sekaligus menunjukkan ponselnya yang disana ada photo pernikahan mereka berdua.
"Tapi tetap saja bapak Abyan, karena istri anda memalsukan status nya yang sudah berkeluarga, maka pihak kampus tetap harus di DO selama sebulan."
"Tapi pak, saya harus tetap mengikuti praktek ini pak." Arumi membuka suara nya yang sedikit serak.
"Sayang, sudahlah. Kamu bisa kembali kuliah setelah berakhir masa DO."
__ADS_1
"Tapi mas- Arumi menatap Abyan yang dengan mode dingin nya, ia tidak berani untuk melanjutkan nya.
"Saya hanya meminta agar nama istri saya bersih, teman-teman nya mengatakan jika istri saya hamil di luar nikah."
"Bapak Abyan tenang saja, setelah kembali lagi ke kampus ini, istri anda tidak akan lagi mendengar ucapan yang tidak enak di dengar."
"Kalau sudah saya akan keluar dengan istri saya, terima kasih telah memberi kesempatan."
"Sama-sama pak Abyan, lain kali mungkin bisa kita mengobrol."
"Insya Allah pak, profesor Adnan saya pamit."
"Apaan sih by, aku selalu ketinggalan berita. Nanti kalau ada pertemuan dengan Akbar juga ajak aku ya."
"Pasti. Saya dan istri saya pamit keluar, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Ayo sayang!" Abyan membantu Arumi untuk berdiri.
"Arumi, gimana?" Tanya Widya yang menunggu nya di luar ruangan.
Arumi hanya menggeleng. "Saya dan Arumi pamit dulu wid, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Wanita murahan."
"Hamil di luar nikah." Banyak kakak tingkat Arumi yang melihat itu, apalagi ada satu orang yang menyukai Arumi sejak ia mengantar nya ke rumah waktu menolong nya dari Yusuf.
Banyak yang menyoraki Arumi, Abyan tetap membantu nya berjalan.
"Saya suami nya, Arumi hamil itu anak saya. Jadi untuk kalian semua, belajarlah yang baik agar cepat lulus." Ucap Abyan langsung berjalan keluar dari kampus menuju mobilnya.
"Sayang, kita ke rumah bunda ya?" Tanya Abyan sambil memasangkan seatbelt Arumi, namun istri nya itu hanya menatap keluar pintu mobil.
Abyan mengerti bahwa Arumi sangat gigih dalam belajar, maka dari itu ia yakin jika istri nya sangat sedih saat harus libur kuliah selama sebulan tanpa belajar praktek.
Sedih banget pasti, di sorakin teman-teman kampus.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
__ADS_1
See you...