
Arumi sampai di kampusnya, ia baru saja turun dari mobilnya, sudah ada orang yang memanggil nya dari belakang.
Bukan suara Widya, karena ini suara laki-laki yang tidak asing di telinga nya.
Arumi menoleh ke arah orang yang memanggil namanya, "Yusuf."
Yusuf berjalan mendekati Arumi, namun Arumi mundur untuk menghindari Yusuf.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Arumi melihat Yusuf yang berhenti melangkah, ia juga menghentikan langkah mundur nya.
"Tentu saja menemui kamu mi. Sudah aku bilang, kalau aku tidak akan mundur sebelum mendapatkan kamu."
"Yusuf, tolong! jangan lagi temui aku, aku sudah bersuami dan kamu sudah beristri. Kita sama-sama sudah memiliki pasangan suf, kasihan dengan Zahra."
"Mau aku bilang berapa kali sama kamu Arumi, aku hanya mencintai kamu, bukan Zahra."
"Aku mohon suf, cintai Zahra yang sekarang ini sebagai istri kamu. Aku juga mencintai suamiku, begitu juga dengan Zahra yang mencintai kamu."
"Itu Zahra, Arumi. Bukan aku yang mencintainya."
"Yusuf," Widya yang menghampiri Arumi ke parkiran.
"Kamu jangan ikut campur Wid, ini urusan aku dan Arumi."
Widya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Yusuf, "Kamu itu baik suf, aku kira kamu bisa menerima kenyataan bahwa sahabat kamu sejak kecil sudah menjadi istri kamu. Tapi kenapa malah mengejar Arumi yang sudah memiliki suami."
__ADS_1
"Kamu itu tidak mengerti Wid, kamu belum merasakan kehilangan."
"Apa yang hilang? yang membuat kesalahan kamu, lalu dimana hilangnya?" tanya Widya geram dengan Yusuf, yang selalu mengganggu Arumi.
"Cinta Arumi yang hilang padaku, karena gus Abyan. Bagaimana jika kita bertukar pasangan saja mi, kamu bersama ku, dan Zahra bersama gus Abyan."
Arumi menggeleng dan beristighfar, mana mungkin ia melakukan hal itu. Bukan karena ia sudah mencintai Abyan, namun ini pernikahan yang sakral bukan permainan.
"Ya Allah, Yusuf. Apa yang kamu katakan?" Arumi menghela nafas nya panjang, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan mas Aby, apalagi berniat menukarnya. Kamu pasti tahu suf, perkataan kamu itu secara tidak langsung sudah mentalak Zahra, ucapan laki-laki yang sudah beristri harus dijaga. Jika tidak, walaupun tidak di sertai niat dari hati, tetap saja itu sudah seperti mentalak istri." Yusuf terdiam dengan ucapan Arumi, ia tahu apa yang ia lakukan, namun ia begitu terobsesi dengan Arumi.
Widya mengelus lengan Arumi, karena ia tahu sahabat nya itu sangat marah dengan Yusuf.
"Arumi-
"Diam suf. Selama ini aku tidak mau berbicara banyak pada kamu, karena aku menjaga batasan. Ditambah sekarang kamu menikah dengan sahabat ku, Zahra."
"Tenang mi," Widya hanya mampu menyuruh Arumi tenang, ia tidak mau menimpali ucapan sahabat nya. Membiarkan Arumi mengeluarkan semua uneg-uneg nya pada Yusuf.
Arumi menghela nafasnya berat, menahan air mata yang akan kembali keluar.
"Aku tidak akan pernah mencintai kamu suf, aku tetap akan mencintai suamiku! Dengar itu." Setelah selesai meluapkan emosi nya, Arumi meninggalkan Widya dan Yusuf di parkiran.
"Kamu dengar suf? percuma kamu ngejar Arumi, yang akan selalu mencintai suaminya, bukan kamu," Widya menunjuk Yusuf, lalu pergi menyusul Arumi.
__ADS_1
"Arumi, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Widya setelah sampai di kelas Arumi.
"Aku gak apa wid, aku mau pulang setelah memberikan laporan ini."
"Mau aku antar aja?" tanya Widya takut terjadi apa-apa dengan Arumi.
"Aku bisa sendiri Wid, sepertinya aku akan ke kampus mas Aby mengajar, aku mau menemui nya."
"Kamu mau cerita masalah Yusuf?" tanya Widya
"Tidak ada yang mau aku tutupi dari mas Aby, semua yang terjadi, mas Aby harus tahu Wid."
Widya tersenyum menanggapi, Arumi sangat dewasa. Sangat cocok bisa mengimbangi umur Abyan yang lebih dewasa dari Arumi.
Memang umur bukan patokan kedewasaan seseorang, namun Arumi sudah memenuhi syarat dewasa pandangan Widya.
Pandangan Widya aja Thor, bukan menurut bunda dan ayah.
Terserah saya dong, (dengan tatapan sinis).
Othor udah makan?
Belum tsayyyy makanya ngelantur hahaha.
Selalu dukung othor bebu sayang annyeong love.
__ADS_1