Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Eps8


__ADS_3

"Kamu langsung pulang, apa ke pesantren mi?" tanya Widya.


"Entahlah wid, aku agak sorean pulang nya, soalnya ada praktek. Jadi gak tau, mau mampir apa langsung pulang."


"Kalau gitu aku duluan yah mi, maaf gak nunggu kamu. Soalnya, ibu ngajak aku belanja hari ini."


"Gak pa-pa wid, aku udah biasa juga pulang sendiri."


"Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung kabari aku." Widya takut terjadi sesuatu dengan sahabat nya ini, ia takut Arumi tidak tahan dengan berita mengenai Yusuf dan Zahra lalu Arumi nekat bunuh diri.


Pikiran Widya terlalu dangkal terhadap Arumi, yang tidak akan mungkin melakukan itu, Arumi masih sangat waras dan bisa berpikir jernih dengan dosa satu itu.


"Insyaa Allah wid, kamu hati-hati pulangnya jangan ngebut."


"Tenang mi, aku kan adik Valentino Rossi sepupuan juga sama Marquez siapa lagi yah? banyak pokoknya keluarga aku pembalap, jadi gak usah di khawatir kan pembalap wanita satu ini, tidak kalah hebat nya dengan mereka." Menunjuk dirinya, lalu tertawa dengan ucapan ngawur nya sendiri.


"Baiklah, ibu pembalap yang terhormat. Silahkan jika ingin pulang, saya akan kembali ke kelas, sudah terlalu lama hari ini saya bersama anda, saya rasa cukup untuk hari ini," ucap Arumi menunjuk pintu gerbang.


"Kalau anda sudah tidak kuat dengan saya ,silahkan lambaikan tangan anda, kamera ada di sebelah sana dan disana." Widya menunjuk sembarang arah, keduanya tertawa dengan percakapan konyol mereka, yang membuat keduanya sampai ingin menangis.


...*********...


"Kenapa abah malah melamar Zahra? kenapa bukan Arumi yang beliau lamar untuk ku?" ucapnya sambil meninju-ninju dinding kamarnya.


Dirinya memang menerima apa yang abah pilihkan, namun ia tetap merasa dirinya bodoh. Mengapa tidak memberi tau pada abah saat itu, bahwa Arumi lah yang ia maksud kan.


Iya orang itu adalah Yusuf, ia merutuki kebodohan nya sendiri tanpa menyalahkan siapapun. Karena memang pada saat itu, ia terlalu senang untuk mengkhitbah Arumi.


Maka dari itu, ia mengira abah sudah mengetahui wanita pilihan nya, ternyata salah, abah hanya menebak yang menurut beliau terlihat dekat dengan Yusuf.


Padahal menurut Yusuf sendiri, Zahra adalah sahabat nya dari kecil, berbeda dengan Arumi yang ia anggap calon istrinya.


"Yusuf," ucap bunda nya dari luar.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar Yusuf.


"Nak, kamu ada di dalam?" tanya bundanya memastikan anaknya itu ada di dalam.

__ADS_1


"Iya bunda, ada apa?" jawabnya sambil ngos-ngosan, seperti orang yang baru selesai lari maraton.


"Kamu tidak apa-apa nak?" tanya bundanya.


"Apa bunda boleh masuk?" sambungnya lagi. Ia mengetahui tentang salah melamar itu, dirinya juga tidak mengetahui sebelumnya, bahwa Yusuf ingin melamar Arumi teman pesantren nya, namun yang di lamar malah Zahra teman sedari kecilnya.


"Iya bunda masuk aja,"ucapnya.


Menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, ia duduk di lantai sambil memejamkan matanya.


cklek...


Pintu terbuka dan terlihat lah kamar yang berantakan tidak beraturan, tempat dan dimana letak nya saat ini.


Bunda Yusuf hanya bisa menggelengkan kepalanya menghela nafas, melihat anaknya yang seperti itu, beliau kasihan. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa.


Beliau tidak mungkin memutuskan hubungan nya kali ini, dirinya juga menerima apa yang sudah abah tentukan pilihan nya, walaupun salah melamar, tapi itu adalah permintaan awal Yusuf yang memang salah.


"Nak," panggilnya masuk sambil mengambil baju yang ada di lantai.


"Ada apa bunda ke kamar Yusuf? apa ada sesuatu yang ingin bunda katakan?" tanya nya.


"Apa bunda, tidak boleh ke kamar anak bunda?"


"Bukan begitu bun, hanya saja Yusuf ingin sendiri."


"Apa itu secara tidak langsung, kamu mengusir bunda agar keluar?" tanya bunda sambil duduk di tepi ranjang.


"Tidak juga, Yusuf hanya berkata apa yang Yusuf inginkan saat ini."


"Baiklah, kalau kamu tidak suka bunda disini, bunda akan keluar." Bunda berdiri dan berbalik ke arah pintu.


"Tunggu bunda!" panggil nya.


Dan itu membuat bunda berhenti melangkah dan berbalik.


"Apa kamu masih ingin mengobrol dengan bunda?" tanya nya masih di tempat.

__ADS_1


"Iya bunda." Yusuf berdiri dan menghampiri bundanya, lalu memegang tangan bunda nya itu.


Bunda melihat apa yang dilakukan anaknya ini, ia hanya membiarkan nya.


"Apakah bunda sayang dengan Yusuf?"


"Pertanyaan apa itu nak? tentu saja kamu tau pasti jawabannya."


"Kalau begitu, tolong bunda bantu Yusuf untuk memutuskan hubungan ku dengan Zahra, lalu lamarkan Arumi untuk ku." Seketika itu, bunda melepaskan genggaman tangan dari Yusuf.


Dirinya kaget dengan permintaan Yusuf.


"Kenapa bunda? apa bunda tidak mau melakukan nya?"


"Kamu sendiri yang meminta tanpa menyebutkan nama orang yang akan kamu khitbah, kenapa sekarang kamu malah menyesalinya nak? bukankah kamu sudah menerima nya? bukankah kamu tidak akan menolak jika itu sudah kyai di pesantren yang memutuskan?"


"Tapi bunda, Yusuf mengharapkan Arumi yang menjadi istri Yusuf, bukan Zahra yang sudah Yusuf anggap adik sendiri."


"Nak, kamu tidak boleh seperti ini, mungkin ini jalan takdir nya, kamu berjodoh nya bukan dengan Arumi, tapi dengan Zahra sahabat mu dari kecil." Bunda mencoba memegang lengan Yusuf.


"Bunda keluar." Usirnya menepis tangan bunda.


"Nak." Ingin kembali menyentuh Yusuf.


"KELUAR," teriaknya.


Membuat bunda terkejut, lalu keluar dari kamar Yusuf dengan buru-buru.


Ia tidak pernah melihat anaknya berteriak di depannya seperti ini, masalah apapun ia tak pernah meneriaki bundanya itu.


Bunda Yusuf keluar, dengan air mata yang menetes di pipinya.


Ia mengerti saat ini anaknya itu sedang emosi, jadi ia memakluminya ia mengusap air mata itu, ia tidak akan merasa sakit hati kali ini.


Dirinya sangat mengerti, keadaan yang membuat anaknya seperti itu.


Bersambung 💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2