Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Prasangka seorang istri


__ADS_3

Keluarga besar Abyan sudah bersiap di ruang makan, mereka menunggu para wanita menyiapkan masakan nya. Setelah semua tertata rapi di atas meja, selanjutnya akan makan bersama. Namun Arumi tidak duduk, ia hanya mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Maaf semuanya, malam ini Arumi tidak ikut makan malam. Arumi tidak selera untuk makan, jadi Arumi akan kembali ke kamar."


"Kenapa tidak makan dulu nak, sedikit saja. Jangan biarkan perut kamu kosong."


"Arumi akan makan jika sudah terasa lapar ummi, kalian semua lanjutkan makan nya." Mereka semua mengerti dengan keadaan Arumi yang sedang mengandung, namun Abyan? Tentu saja khawatir dengan sang istri.


"Abyan ke kamar saja ummi, abah. Nanti Aby makan bersama umi." Ummi dan abah mengangguk, dan melanjutkan makan malam mereka.


Walaupun sambil melirik apa yang terjadi dengan anak dan menantunya.


Abyan yang sudah sampai di dalam kamar melihat istrinya sedang mengaji, namun suara nya terdengar sedikit serak. Abyan sambil memainkan ponselnya sembari menunggu istrinya selesai mengaji. Abyan juga mengecek pekerjaan nya, sesekali melirik istrinya yang menunduk.


Arumi selesai dengan mengajinya, Abyan juga menyimpan ponselnya dan menatap Arumi.


"Sayang," panggil Abyan. Arumi yang akan ke ranjang juga langsung menatap suaminya.


"Apa kamu tidak lapar?" Tanya Abyan setelah Arumi duduk di sampingnya.


"Arumi sedang tidak berselera, mas Aby kenapa meninggalkan makanan yang sudah Arumi siapkan? Apa mas juga sudah tidak berselera dengan apa yang Arumi sajikan?" Tanya Arumi. Susah rasanya menelan saliva saat berkata itu pada suaminya.


"Apa yang kamu katakan, sayang. Mas hanya akan makan bersama kamu. Kalau kamu tidak makan, mas juga tidak akan makan."


"Mas pasti lapar bekerja dari siang dan pasti juga lelah, walaupun tadi siang sudah makan diluar, biasanya kan memang makan setelah shalat maghrib."


"Apa kamu benar-benar tidak berselera makan?"


"Arumi hanya merasa mual melihat makanan, mas Aby jangan mengikuti Arumi yang hanya bawaan ibu hamil seperti ini." Alasan yang juga tepat saat ini, Abyan menatap perut Arumi dan mengelusnya.

__ADS_1


"Jangan membuat umma tidak enak beraktivitas, apalagi sampai tidak enak untuk makan. Perut umma kosong, dan akan mempengaruhi pertumbuhan kamu nak." Arumi tiba-tiba saja mengeluarkan air mata nya, ia menatap kelain arah agar tidak terlihat oleh Abyan, sambil mengelap dengan tangannya.


Abyan yang berbicara dengan anaknya, sambil mendongak menatap istrinya, mengapa tidak seperti biasanya? Yang jika Abyan berbicara di depan perutnya, istrinya itu akan mengelus kepalanya.


Abyan memegang dagu Arumi dan membaliknya, agar ia bisa menatap wajah istrinya. Terkejut? Sudah pasti. Apa yang membuat istrinya itu menangis? Apa yang di lakukan nya?


"Sayang, kenapa menangis?" Tanya Abyan sambil mengulurkan tangan nya untuk mengelap air mata yang membasahi wajah Arumi.


Arumi hanya menggeleng, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa mas salah berucap? Sampai membuat kamu menangis?"


"Tidak. Arumi hanya terharu saja, sebentar lagi Arumi akan menjadi seorang ibu." Tentu alasan yang kuat, memang dirinya akan menjadi seorang ibu, dan itu ia harus menjadi wanita kuat.


"Mas juga akan menjadi seorang ayah, bukannya kita akan menjadi keluarga yang bahagia?"


Belum mengetahui apa hubungan suami dan wanita itu, tapi dari cara wanita itu datang dan memperkenalkan dirinya pada orang-orang. Membuat Arumi semakin percaya bahwa suaminya mempunyai hubungan yang spesial dengan wanita itu, bukan hanya sekedar partner kerja. Apalagi Arumi sudah dua kali mendapati suaminya dan wanita itu berdua di dalam satu ruangan yang tertutup.


Istri mana yang tidak akan suudzan dengan suaminya, jika sudah jelas, dan semakin di perjelas oleh wanita yang datang menemuinya.


"Kenapa kamu diam saja, sayang. Bukankah seperti itu?" Tanya Abyan sekali lagi.


"Iya mas, harapan Arumi kedepannya hanya ingin kita hidup bahagia, bersama dengan anak-anak kita."


"Aamiin ya Allah, ijabahlah do'a tulus hamba dan istri hamba ini ya Allah."


"Aamiin."


"Apa sekarang kamu sudah ingin makan?"

__ADS_1


"Mas Aby saja yang makan, Arumi tidak selera. Perut Arumi seakan memberontak melihat makanan nya."


"Kamu ingin makan apa? Biar mas yang membelikannya."


"Arumi tidak ingin apapun mas."


"Ayolah! Mas akan berusaha dimana pun tempat nya."


Arumi berpikir, dirinya akan makan apa dan apa yang diinginkan saat ini.


"Arumi ingin makanan yang terjual di warung jalan depan, apapun yang terjual disana. Arumi hanya ingin memakan masakan yang terjual di tempat itu."


"Siap sayang, mas akan berangkat sekarang. Kamu tunggu di luar ya! Nanti biar langsung makan." Arumi mengangguk. Abyan mengacak pelan rambut Arumi, ia membantunya memasangkan khimar untuk istrinya, dan mengajaknya keluar.


...******...


"Dulu saat Affan kecil ia sangat tenang, dan murah senyum. Begitu juga dengan Abyan. Tapi kalau sudah Almira dan Najib, mereka yang paling sering membuat kekacauan dan tertawa dengan kuat. Sampai banyak yang tidak percaya bahwa mereka masih anak-anak. Al dan Najib juga yang paling manja dan cengeng, sering bertengkar namun juga saling menjaga."


"Mas Najib seperti anak cewek ya ummi?"


"Najib memang seperti anak cewek, luar saja kekar, tapi hati hello kitty." Mereka semua tertawa mendengar ucapan abah. Bersenda gurau di ruang keluarga, dan berhenti setelah mendengar salam seseorang.


"Itu Aby sudah datang." Mereka tersenyum Abyan membawa makanan untuk sang istri. Namun terkejut saat melihat siapa yang ikut di belakang Abyan.


Jangan lupa masuk grup TBD (teman bicara istimariellaahmad) Atau bebu yah sayang.


Selalu dukung othor bebu, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2