
"Mira dan Mina bersepakat ingin kembali ke rumah lama kita, karena disini juga tidak ada yang kami tunggu. Kita akan sering main kesini kok."
"Abah tidak ingin melarang kalian, tapi sebaiknya tinggal disini saja. Abah dan ummi benar-benar menganggap kalian anak kami, lagipula anak kami yang lain sudah berkeluarga." Mira dan Mina saling pandang, mereka kasihan dengan kedua orang tua angkatnya, dan mereka juga nyaman tinggal disana.
"Tapi, kemarin Mira dan Mina disini hanya ingin melihat seberapa seriusnya dokter Kevin, tapi nyatanya nihil." Abah dan ummi saling beradu pandang mendengar ucapan Mira.
"Kalau seandainya dokter Kevin memang mencintai kamu, dan meminta abah dan ummi sebagai pengganti orang tua kamu menerima pinangannya, bagaimana?" Mira terbengong, karena itu tidak mungkin. Sudah berapa bulan terakhir dokter Kevin benar-benar tidak menunjukkan kalau dia menyukai Mira. Hanya sebagai rekan kerja, dan seperti sebelumnya yang biasa saja tanpa menawarkan lagi untuk mengantarkan pulang.
"Itu hanya seandainya, abah dan ummi tenang saja, Mira dan Mina akan tetap disini menemani kalian. Mira ke belakang dulu, mau masak untuk makan malam nanti." Mira berpamitan pada ummi dan abah untuk memasak, sedangkan Mina kembali ke kamar untuk belajar.
"Mana mungkin seperti itu, dia sudah menunjukkan bahwa dia tidak menyukai ku." Mira sambil memotong sayur mengingat sejak dirinya mengatakan bahwa orang tua dokter Kevin sudah pasti memilih wanita yang setara dengan mereka. Memang tidak semua orang tua yang seperti itu, tapi semua orang tua menginginkan pasangan terbaik untuk anaknya.
Setelah habis maghrib ummi kembali memasak, Mira ke dapur untuk melihat nya.
"Ummi masak lagi? Tapi Mira tadi sudah masak, ummi tidak suka dengan masakan Mira?" Tanya Mira yang mendekati ummi Dalilah.
"Bukan seperti itu nak, ummi hanya ingin anak ummi malam ini berkumpul dan makan bersama. Bukan karena masakan kamu yang tidak enak, ini ummi hanya menambahnya." Mira sudah suudzan dengan ummi Dalilah.
"Mira minta maaf ummi, kalau gitu Mira bantuin ya." Ummi Dalilah mengangguk, mereka menyiapkan makanan untuk makan malam.
Adzan isya' sudah tiba, Mira ke masjid pesantren untuk melaksanakan shalat berjamaah. Mina sejak maghrib ke pesantren belum kembali, Mina menemukan banyak teman disana mengajarkan banyak hal.
"Assalamualaikum," ucap rombongan.
"Wa'alaikum salam." Ummi dan abah keluar dari ndalem menyambut tamu.
"Loh, Faza, Salman." Ummi dan abah terkejut saat tamu nya datang bersama orang tua Arumi.
"Iya ummi, kebetulan mereka teman saya juga." Jawab Faza.
"Mari masuk." Abah mengajak semuanya untuk masuk.
Mereka duduk dan mencari sesuatu, tapi memang hanya ada Abah dan ummi.
"Anak yang lain pada kemana? Belum pada datang?" Tanya ayah Salman.
__ADS_1
"Mereka akan segera datang. Di rumah ada Mira dan Mina, tapi mereka masih di masjid."
Beberapa saat anak menantu serta cucu mereka datang, hanya belum ada Mira dan Mina.
"Apa sebaiknya Arumi jemput Mira, ummi? Seperti nya dia sedang mengaji di pesantren."
"Iya zy, biarkan Feer dengan bunda."
"Anisa mau gendong Feer juga Bun." Anisa meminta agar Feer dia yang memangku nya.
"Hati-hati, jangan sampai cita-cita kamu berubah lagi. Kak zy titip Feer." Anisa mengangguk tersenyum sambil hati-hati memangku ponakan nya.
"Aku ikut kamu, mi." Widya juga menyerahkan anaknya pada Najib, ia akan mengikuti Arumi.
Mereka berdua mencari Mira di pesantren.
"Assalamualaikum," ucap Arumi dan Widya.
"Wa'alaikum salam. Ada apa, ning?" Tanyanya di asrama putri.
"Ning Mira di dalam, saya panggilkan dulu." Tak lama Mira dan Mina keluar menghampiri Arumi dan Widya.
"Kenapa dok? Saya kira kalian akan makan lebih dulu dan itu tidak masalah, saya dan Mina orang luar dan masih ingin belajar disini."
"Kamu ngomong apa sih mir, kita semua menunggu kamu." Karena tidak ingin membuat orang-orang menunggu lama, mereka berjalan tidak terlalu santai.
"Assalamu'alaikum," ucap nya dari luar dan langsung masuk. Mira masih dengan mukenah yang di pakai, ia terkejut melihat dokter Kevin dan seorang wanita cantik disampingnya yang mengenakan selendang di bahu nya, dan juga banyak orang baru lainnya di ndalem. Mira mengikuti yang lain masuk kesana, menyapa yang perempuan.
"Wa'alaikum salam."
"Kenapa lama sekali nak, bukannya ummi bilang selepas isya' harus langsung pulang?"
"Maaf ummi, Mira dan Mina masih belajar di asrama." Jawabnya sambil melirik dokter Kevin.
"Ini yang namanya Mira, cantik." Ucap bunda Faza.
__ADS_1
Mira hanya tersenyum kembali melirik dokter Kevin yang diam saja saat wanita di samping nya berbisik.
"Mira ke dapur dulu, permisi." Ucapnya tidak kuat melihat orang di hadapannya biasa saja dan malah membuat Mira semakin berprasangka buruk.
Mira mengganti mukenah nya dengan kerudung instan, ia langsung ke dapur dan membuat minuman. Karena saat ini dirinya lah sebagai tuan rumah.
"Astaghfirullah, astaghfirullah, kenapa sih kok aku kesal." Ucapnya sambil membuat minuman.
"Kenapa, mir?" Tanya Arumi tiba-tiba mengagetkan Mira.
"Astaghfirullah, dok. Kenapa tiba-tiba?" Mira mengelus dadanya karena terkejut.
"Saya sudah mengetuk pintu, tapi melihat kamu melamun."
"Mereka siapa, dok? Kenapa bertamu kesini semua?" Mira penasaran dengan tamu nya.
"Orang tua saya, kalau keluarga yang satunya lagi kamu juga tahu itu keluarga dokter Kevin."
"Si-siapa yang di samping dokter Kevin, dok?" Tanya nya takut.
"Saya tidak tahu pasti, tapi bisa jadi istrinya atau mungkin adiknya. Karena hanya mahram nya yang bisa berdekatan seperti itu, dokter Kevin juga tahu batasan." Ucapan Arumi membuat Mira semakin berprasangka buruk, karena bagaimanapun Mira masih menginginkan dokter Kevin, tapi jika sudah memiliki seorang istri, Mira sudah tidak bisa lagi berharap.
"Saya bantu bawakan kue nya, kamu bawa minuman nya." Arumi mengangkat nampan dan ingin bersamaan keluar.
"Saya merasa tidak enak badan, dokter panggil Mina saja untuk membantu membawakan minum nya." Arumi tersenyum, dan menaruh lagi nampannya.
"Rezeki, jodoh, maut, Allah sudah lebih dulu mengaturnya. Kamu ikuti saja alurnya, dan kita hadapi bersama. Kamu tidak hanya dengan Mina, keluarga kamu banyak disini termasuk dokter Farid yang sekarang sebagai ipar kamu. Jadi, ayo kita keluar!" Ajak Arumi kembali mengangkat nampan nya. Mira menghela nafasnya dan mengangguk untuk mengikuti Arumi keluar.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1