
Arumi dan kedua sahabatnya, mereka sudah kembali berbaikan seperti sebelumnya. Sebenarnya sudah lama mereka merindukan masa menjadi santri. Kini mereka sudah sama-sama telah menikah, dan akan segera memiliki buah hati cinta mereka.
Namun Arumi masih berpikir tentang izinnya waktu itu pada dosen Naila. Apa yang akan terjadi, jika dirinya bermadu? Ia kini merasa takut, takut suaminya tidak adil, dan lebih berpihak pada istri muda yang tua. Maksudnya adalah Arumi istri pertama, namun umurnya tentu di bawah dosen Naila yang seangkatan dengan Abyan.
"Sayang," panggil Abyan melambaikan tangan nya di depan wajah Arumi.
Arumi hanya diam saja tidak merespon Abyan yang memanggilnya.
"Sayang, hei" Abyan menggoyangkan badan Arumi, agar istrinya itu sadar dari lamunannya.
"Hah? Apa mas?" Ucapnya terkejut menatap suaminya.
"Kamu kenapa, sayang? Kenapa malah melamun dari tadi aku memanggilmu. Jangan sering melamun seperti itu, bahaya."
"Iya mas, Arumi gak pa-pa." Padahal dirinya sedang memikirkan jika Abyan menikah lagi.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, sampai melamun seperti tadi? Sebenarnya kamu sudah sering seperti itu, bahaya untuk calon anak kita. Cerita sama mas, kalau ada sesuatu yang perlu kamu bagi, jangan sampai kamu stress memikirkan sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi." Abyan menjelaskan pada Arumi, bahwa bahaya jika seorang ibu hamil sering melamun, dan banyak pikiran.
"Baiklah bapak Abyan, saya tidak akan mengulangi hal seperti itu. Tapi itu semua tidak Arumi dengan sengaja lakukan mas, tiba-tiba aja Arumi sudah dalam keadaan melamun."
"Apa sebenarnya yang membuat kamu melamun? Cerita dengan mas."
Apa Arumi akan menjelaskan semuanya, bahwa dirinya melamun karena memikirkan Abyan menikah dengan dosen Naila. Ia takut sekarang hal itu terjadi, Arumi takut Abyan lebih menyayangi madunya dari pada Arumi.
"Sayang, kamu melamun lagi?"
"Benarkah? Kenapa seperti nya kamu bingung?"
Arumi menatap suaminya dalam, ia menatap wajah tampan yang sudah menjadi miliknya itu. Apa ia sanggup berbagi dengan perempuan lain? Tentu itu yang jadi pertanyaan pada hatinya.
Tiba-tiba bulir bening mengalir di pipinya, Abyan langsung khawatir melihat istrinya menangis. Abyan merasa tidak memarahi Arumi ataupun berucap dengan nada tinggi, ia bahkan sangat lembut.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu menangis?" Tanyanya sambil mengusap lembut air mata indah itu di pipi mulus nan putih sang istri.
"Arumi hanya bahagia berada di dekat mas Aby. Arumi selalu memikirkan mas Aby." Jawabnya tersenyum, padahal bukan itu yang akan ia katakan. Ia hanya ingin bertanya, apa benar Abyan akan menikah dengan Naila? Karena saat itu Naila sampai datang ke kampus pagi-pagi, hanya untuk meminta izin agar bisa menjadi istri kedua Abyan.
"Sebenarnya mas tahu, mungkin bukan itu yang akan kamu katakan. Tapi mas juga selalu memikirkan kamu dan anak kita. Tolong! Mas hanya meminta kamu tidak stress berpikir yang tidak-tidak. Cerita dengan mas, kalau kamu sedang butuh teman bicara. Bukankah suami istri juga bisa bersahabat? Saling berbagi dan mendengarkan cerita masing-masing. Jadi jangan pernah sungkan untuk berbagi dengan mas." Arumi tersenyum mengangguk, banyak yang akan ia tanyakan. Namun tidak enak jika bertanya masalah akan menikah lagi. Menurut Arumi, sebagai seorang istri, ia hanya akan menyetujui apa yang suaminya katakan. Karena langkah suaminya yang akan mengantarkan dirinya ke jannah. Arumi percaya yang akan dilakukan suaminya, sudah di pikirkan secara matang dan tidak akan menyakiti nya.
...******...
Akbar sudah menemui Abah, ia meminta izin untuk mengkhitbah Almira putri bungsunya. Abah senang jika teman Abyan yang seorang dosen itu menyukai putrinya, namun tetap Abah tidak akan mengambil keputusan sendiri, ia akan meminta atau bertanya anak-anaknya lebih dulu.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...