
Di malam hari, masakan yang bunda Faza masak bersama Arumi sore tadi, sudah tertata rapi di meja makan.
Tinggal menunggu calon besan dan menantu bertamu, untuk menentukan acara pernikahan.
"Ayah, bunda, zy gak perlu menemui tamunya ya, zy ikut aja apa yang kalian tentukan."
"Gak bisa gitu zy, kamu yang akan menikah, jadi kamu juga yang harus mendengar sendiri, takutnya nanti kamu nyesel setelah hari pernikahan kamu," jawab ayah.
Yang menurutnya, bisa jadi zy akan menyesal nanti menyerahkan semua persiapan pada orang tuanya.
"Iya zy, apa salahnya juga kamu ikut disini, kalau semisal nanti ada sesuatu yang tidak kamu setujui, kamu boleh protes," sambung bunda.
Arumi tertunduk lesu, tidak akan pernah berhasil merayu kedua orang tuanya itu.
"Baiklah."
Ting tong..
"Itu sepertinya mereka sudah sampai, ayo zy kita ke depan."
"Hm a zy tunggu di dalam saja ayah, biar zy siapkan minum."
"Minum kan sudah di sediakan dari tadi."
Tidak ada lagi alasan untuk Arumi, ia sudah kehabisan alasan kali ini.
Mereka berjalan menuju pintu, untuk menyambut tamu mereka.
"Assalamu'alaikum," ucap nya setelah pintu terbuka.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam," jawab keluarga Arumi.
"Maaf, telah menunggu lama." Abah meminta maaf, padahal belum sampai waktu isya'.
"Tidak masalah abah, kami mengerti. Mari silahkan masuk."
Arumi hanya di belakang ayah dan bundanya, sama halnya dengan Abyan.
Keluarga abah kali ini hanya bertiga, Abyan yang menyetir.
"Mari langsung ke ruang makan saja, abah dan keluarga, kita sekalian makan malam dulu, sebelum membahas pernikahan anak-anak kita." Ayah langsung mengajak keluarga abah untuk makan malam, karena dengan nanti semakin malam akan tidak baik untuk tubuh.
"Wah, jadi numpang makan ini jadinya," ucap ummi yang sedari tadi sudah di gandeng bunda Faza.
"Ummi apaan sih, kan kita besan, jeng."
"Panggilan baru lagi nih, jadi jeng arisan kalau begini bukan besan," jawab ayah
"Banyak ibu-ibu manggilnya jeng kok sama besannya." Tak ingin di anggap salah bunda Faza.
"Udah lah jeng faza, saya sih terserah dipanggil apa saja."
"Kita jadi ngobrol disini, mari silahkan." Mengajak keluarga abah ke meja makan.
Arumi duduk berhadapan dengan Abyan, padahal ia akan menghindari tatapan mata Abyan, Kenapa malah berhadapan menurut nya.
"Silahkan makan semuanya, ini masakan Arumi loh jeng ummi." Sambil melirik anaknya supaya mengatakan sesuatu, karena sedari tadi hanya diam saja.
"Wah masya Allah calon menantu idaman, dan tentunya istri idaman." Menyenggol lengan Abyan yang juga tidak ada sepatah katapun keluar.
__ADS_1
"Kita seperti berempat saja jeng, dua orang itu apa? kenapa tidak bicara sama sekali, apa mereka sedang puasa bicara?" bunda sengaja agar mereka buka suara.
"Tidak," ucap keduanya berbarengan.
"Kalau jodoh memang tidak akan kemana," canda abah.
"Betul abah, mereka masih malu-malu, seperti kita waktu muda dulu," timpal ayah disertai tawa dari mereka.
"Ayah kenapa malah ngobrol saja, kapan akan makan jika hanya mengobrol di depan makanan seperti ini," ucap Arumi kali ini karena sudah malam.
"Maafkan ayah zy, mari silahkan abah, ummi, Abyan."
Arumi melihat ayah nya yang di layani bunda, mengambilkan makanan nya ke piring, begitu pun dengan ummi ke abah.
Ia hanya diam saja dan Abyan belum menyentuh makanan nya.
"Kalian kenapa diam saja? kenapa belum makan?" tanya ummi.
"Apa kamu mau mengambilkan makanan untuk Abyan zy?" tanya bunda menggoda Arumi.
Abyan hanya menunggu apa yang akan dilakukan calon istrinya itu.
"Tidak bunda," jawabnya menatap Abyan. Membuat mata mereka bertemu, Arumi dan Abyan sama-sama langsung mengalihkan pandangan mereka.
Lanjut abah yang memimpin doa, dan makan tanpa mengobrol lagi setelah nya.
Terlihat Aby mencuri pandang pada Arumi disaat makan, bagaimana tidak, walaupun meja makan itu besar, namun mereka berhadapan, tentu saja pandangan Abyan tidak hanya ke makanan, melainkan calon istrinya.
Segini dulu guys, tangan bebu sakit nih di pergelangan tangan sedikit biru, so doakan dan selalu dukung bebu yup.
__ADS_1
Call me chinggu or bebu
Annyeong love.