
"ARUMI..." pekik Widya tiba-tiba masuk ke kelas Arumi. Banyak mahasiswa yang melihat ke arah Widya itu.
"Hehe, maaf." Ucapnya cengengesan, karena belum ada dosen datang.
"Assalamu'alaikum, Arumi zyakana ramadhani yang cantik jelita ulala."
"Wa'alaikum salam. Ada apa wid? Masuk langsung teriak-teriak aja."
"Aku cuma mau cerita, ini sangat emergency you know?"
"Nggak."
"Belum cerita saya nya ibu."
"Cerita apaan?" Tanya Arumi.
"Ini tentang calon suami aku itu"
"Terus-terus?"
"Terus nanti dia sama keluarganya mau kerumah, aku gugup mi. Kira-kira seperti apa ya dia?"
"Menurut aku sih laki-laki wid." Widya yang mendengar itu memutar bola matanya jengah, tentu saja laki-laki pikirnya.
"Aku juga tahu mi, tapi seperti apa bentukannya gitu."
"Yah bentuknya-
Widya memotong ucapan Arumi. "Udah-udah tidak perlu lagi di lanjut, bumil akhir-akhir ini sangat menguras esmosi saja."
"Emosi wid, harus sabar udah mau jadi istri."
"Baiklah yang sudah jadi istri." Arumi langsung menutup mulut Widya dengan tangannya, ia masih belum berani mengatakan nya pada semua orang.
"Jangan keras-keras wid, nanti kedengeran banyak orang."
"Kenapa sih mi kamu tutupi, malu punya suami lebih dewasa dari kamu? Atau mau semua orang menganggap kamu ini masih single?"
"Bukan gitu wid, tapi sudah terlanjur di tutupi. Awal aku sama mas Aby menikah kan memang tidak ingin banyak orang yang mengetahui."
Widya hanya menghela nafasnya pelan. "Aku selalu dukung apa keputusan kamu mi, asal itu baik untuk kamu."
"Nanti pulang ke rumah aku yah, soalnya aku gugup nih mau ketemu calon."
__ADS_1
"Aku izin dulu sama mas Aby." Karena sebagai seorang istri, jika ingin bepergian harus tetap selalu meminta izin dengan suaminya. Walaupun ada mungkin beberapa yang tidak perlu izin.
"Semua aman shay, aku udah izin dengan gus Abyan."
"Di izinin gitu aja? Kenapa gak ada kabarin aku yah?"
"Tadi pagi kamu udah ketemu mi, sekarang kan mungkin gus Abyan sedang mengajar jadi lupa hubungi kamu."
"Selamat siang," ucap dosen yang baru saja tiba di kelas Arumi.
"Siang pak," jawab semua serentak.
"Wid, dosen udah datang." Arumi memberitahu Widya agar segera keluar.
"Kamu bukan mahasiswa di kelas ini, kan?" Tanya dosen menurunkan sedikit kaca matanya.
"Maaf pak, hehe saya dari fakultas hukum pak. Saya permisi." Widya cengengesan sambil berlari kecil keluar. Namun ketika sudah di pintu keluar, Widya kembali melirik Arumi seperti memberi kode.
Dari gerak mulutnya Arumi bisa melihat, jika Widya mengatakan. "Aku tunggu! Kamu ikut aku kerumah." Arumi hanya mengangguk, ia tidak melihat jika dosen memperhatikannya.
"Mau presentasi ke depan, atau keluar?"
"Ke depan pak." Arumi langsung beranjak dari duduknya, untuk maju. Ia memang di kenal dengan presentasi nya yang sangat pandai menyusun dan menyampaikan topik, Arumi juga selalu mendapat nilai yang bagus dan banyak mendapat pujian dari dosen maupun teman-temannya.
"Ibu, apa kabar?"
"Iya bu, Arumi sedang mengandung."
"Widya sama Arumi mau mandi dulu buk, nanti panggil kita kalau sudah ada tamu nya."
"Malas sekali ibu harus manggil, nanti ibu miscall ya?"
"Lah, dekat juga dari ruang tamu ke kamar pakai acara mau miscall segala."
"Ibu gak ada pulsa wid."
"Pakai Wi-fi dong bu, jarang pakai pulsa kali orang."
"Oh iya, ibu lupa kalau di rumah ada Wi-fi." Menepuk dahinya.
"Ibu suka amnesia sementara."
"Dulu kan jaman nya ke warnet wid, kamu gak bakal tahu kalau ibu pernah nongkrong di cafe sama teman sampai di usir dari situ, karena sudah tutup ibu sama teman ibu belum pulang juga. Mungkin orang nya kesel sama ibu."
__ADS_1
"Itu mah bukan kesel lagi buk, kalau Widya yang kerja disitu juga bakal Widya usir, atau bahkan banting kursi."
"Iya, tapi kan tamu adalah pelanggan."
Arumi dan Widya saling melirik, mereka masih mencerna apa yang di katakan ibu.
"Salah, yang benar itu pelanggan adalah tamu."
"Kamu juga salah kali wid, jangan sok mengajari yang lebih dulu tahu dunia."
"Wow amazing, saya terkejut mendengar nya. Ayo kita masuk aja ke kamar aku mi, susah kalau bicara dengan orang tua." Widya menarik tangan Arumi masuk ke kamarnya, ia terkekeh karena sudah mengejek ibu nya.
"Ralat, berumur dewasa bukan tua wid." Arumi menggelengkan kepalanya, padahal dirinya jika di rumah bunda juga sama heboh nya.
...******...
"Tamu nya sudah datang wid," ibu mengetuk pintu kamar Widya.
"Iya buk sebentar, Widya akan keluar dengan Arumi."
"Jangan kelamaan, ibu malas manggil kamu."
"Baik nyonya."
Ibu wila langsung pergi dari depan kamar Widya sambil tersenyum.
"Gimana mi, aku udah cantik belum? Apa aku harus berdandan jelek aja yah? Takut juga kalau misalnya teman bapak dan ibu ini sudah om-om."
"Tidak perlu wid, sudah cantik seperti ini."
"Ah jadi suka."
"Ayo kita keluar, tidak enak membuat orang menunggu lama." Akhirnya Arumi dan Widya keluar dari kamar, untuk menghampiri tamu yang sudah menunggu.
"Itu mereka sudah keluar," ucap bapak dan ibu.
Arumi dan Widya berjalan tersenyum, namun terhenti saat melihat siapa tamu yang akan menjadi calon suami Widya.
"Mas Aby," ucap Arumi menatap suaminya yang juga sedang menatap ke arahnya.
Widya dan Arumi saling melirik, saat sudah mengetahui siapa yang akan menjadi calon suami Widya.
Waduh.. Ada apa nih? Jadi ngeri ngeri othor, apakah akan ada poliandri? Eh maksudnya poligami? Bebu mau ngumpet dulu shay.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
See you..