Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Mogok bicara


__ADS_3

Abyan menggeliatkan badannya, saat alarm ponsel Arumi berbunyi. Abyan membuka matanya pelan, melirik ke samping istrinya yang masih sangat pulas tertidur.


Abyan mengambil ponsel Arumi untuk mematikan nya, ia kasihan untuk membangunkan Arumi, Arumi yang baru tidur tengah malam sangat sulit membuka matanya, ia sangat mengantuk.


Abyan bangun lebih dulu untuk mandi, baru setelah nya ia akan membangunkan Arumi.


Abyan telah selesai dengan mandinya, melihat istrinya masih setia di bawah selimut. Abyan mengenakan pakaian nya, lalu menghampiri istrinya yang masih sangat pulas.


"Arumi, ayo bangun! sudah subuh," ucapnya pelan takut Arumi terkejut dengan memegang lengannya.


Namun tidak juga terbangun, ia yakin istrinya itu sangat kelelahan.


"Arumi, ayo bangun!" Kali ini Abyan membelai wajah istrinya itu lembut.


Arumi menggeliat, namun masih tetap memejamkan matanya.


"Kenapa jadi susah bangun, ayo sudah subuh."


"Hm" Arumi hanya berdehem kembali menarik selimutnya sampai leher. Abyan menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya, agar cepat bangun.


"Bunda, jangan ganggu dong. Zy lelah bun, mata zy susah buka nya," Rengek Arumi. Ia mengira yang mengganggu adalah bunda, padahal suaminya.


"Arumi, ayo sholat dulu! nanti tidur lagi gak apa," Abyan kembali membelai wajah lembut istrinya.


"Gendong zy bun, zy lelah," manja Arumi merentangkan tangannya dengan mata yang masih terpejam.


Abyan tersenyum melihat sisi manja dari Arumi, Abyan mengerti, jika Arumi bersedih saat dirinya selalu mengabaikan Arumi, apalagi sampai tidak mencintai nya. Karena Arumi anak satu-satunya yang selalu di manjakan, walaupun saat bersama dirinya tidak memperlihatkan kebiasaan nya.


Abyan menatap lekat wajah cantik istrinya, ia yakin Arumi adalah wanita yang baik serta hebat. Karena dengan kebiasaan orang tua yang selalu memanjakan nya, saat berumah tangga istri nya itu mampu bersikap kuat dan tidak lemah. Di umur istrinya yang terbilang masih muda dari pada dirinya, Abyan salah dalam menilai bahwa istrinya masih anak-anak.


"Ayo, bangun cepat! waktunya terus berjalan."


"Kalau gak jalan, berarti waktu nya berhenti."


Abyan terkekeh menatap Arumi, bisa-bisanya di suruh bangun sangat susah, tapi malah menjawab ucapan Abyan ngasal.


"Bunda, gendong," ucap Arumi kembali merentangkan kedua tangannya.


Abyan langsung menyingkap selimut nya, dan menggendong nya cepat ke kamar mandi.


"Aaaaaa" teriak Arumi saat tubuhnya merasakan air dingin itu. Abyan sengaja menaruhnya di bathtub yang berisi air dingin.


Arumi membuka matanya lebar, mendapati Abyan tersenyum menatap nya, ia buru-buru bangkit dari bathub.


"Mas Aby, kenapa Arumi di ceburin?"

__ADS_1


"Kamu sendiri yang minta mas gendong," jawabnya sambil menahan tawanya.


"Arumi tadi mimpi di gendong bunda, tapi jatuh ke salju. Jadi salju nya air dingin ini?"


Abyan mengangguk. "Mas Aby keluar, Arumi mau mandi."


"Apa sekalian mau mas mandiin?" tanya Abyan yang mulai menggoda Arumi.


Arumi mengambil gayung, mengisi nya dengan air hendak menyiram Abyan. Namun suaminya itu sudah lari keluar dari kamar mandi.


"MAS ABY," teriak Arumi dari dalam kamar mandi.


Abyan tertawa mendengar teriakan Arumi dari dalam, untung saja dirinya cepat keluar. Jika tidak, benar-benar akan mandi lagi. "Cepat mandinya, sudah mau fajar."


Tidak ada lagi sahutan dari dalam, Arumi mandi dengan cepat saat mendengar Abyan mengatakan sudah akan fajar.


Selesai sholat subuh, Abyan menoleh menatap istrinya yang memejamkan matanya sambil berdzikir.


"Arumi," ucap Abyan membuat Arumi membuka matanya, kini mata mereka bertemu.


Abyan mendekat pada Arumi, mengambil tangan Arumi dan mengecupnya lembut.


Arumi hanya menatap suaminya, ia bingung apa maksud perlakuan Abyan ini.


"Mas mohon, jangan menghindari mas. Mulai sekarang kita mencoba untuk terbuka, mas mungkin belum mengerti tentang kamu, tapi mas akan coba," ucapnya membuat Arumi meneteskan air mata nya.


Arumi terlanjur sedih, suaminya pernah berkata mencintai nya namun itu hanya takut dirinya sakit hati. Sekarang, ia takut untuk langsung percaya.


Abyan mengusap air mata yang mengalir di pipi Arumi, "kenapa kamu menangis? bicara dengan mas, Arumi."


"Pasti sulit ya, mencintai Arumi yang masih bocah gini?"


"Bukan seperti itu-


"Mas Aby, Arumi akan mencoba percaya dengan mas Aby. Tapi, Arumi mohon untuk sekarang biarkan Arumi di sini untuk beberapa hari."


"Tidak masalah, mas juga akan tinggal disini untuk sementara."


"Tapi mas, Arumi hanya ingin sendiri."


"Anggap mas tidak ada, mas akan berada di mana kamu tinggal."


"Tapi jika ada mahasiswa yang bimbingan?"


"Memangnya kenapa jika mereka kesini?"

__ADS_1


"Iya mas, tapi-


"Jangan selalu memberi alasan, pasangan suami istri tidak boleh berjauhan, apalagi kita masih terbilang pengantin baru," ucap Abyan tersenyum.


Arumi pun mengetahui itu, walaupun tidak Abyan katakan. Apalagi mereka belum melakukan kewajiban suami istri.


...******...


Arumi memanyunkan bibirnya, sampai di meja makan menaruh tas laptop dan buku yang akan ia bawa ke kampus.


"Kenapa lagi tuh bibir? lama-lama bunda potong baru tahu," ucap bunda faza melihat anaknya yang selalu cemberut.


"Bunda, terus nanti zy pakai bibir apa?" tanya Arumi. Abyan yang di sampingnya hanya melirik tanpa berkata apapun.


"Bibir angsa," tawa bunda pecah, saat mengatakan akan mengganti bibir Arumi dengan bibir angsa.


"Ayah, bunda mau ganti bibir Arumi dengan bibir angsa," rengek Arumi mengadu pada ayah.


Abyan menahan tawanya, saat mendengar ucapan mertuanya.


Arumi melirik kearah samping nya, dan itu membuat Abyan terdiam kaku. Takut dirinya kembali berbuat salah.


"Tapi pasti lucu zy, ayah juga akan suka melihatnya." Membuat bunda Faza dan Abyan tidak bisa untuk menahan tawanya.


"Bunda, mas Aby, dan juga ayah. Arumi gak mau bicara dengan kalian, Arumi mogok bicara." Arumi mengambil makanan di depannya dan melahapnya.


"Arumi, bismillah," Abyan mengingatkan istrinya untuk membaca bismillah.


Arumi mengacungkan jempol nya mengangguk, lalu memegang dadanya. Arumi memberi isyarat bahwa dirinya sudah berdoa dalam hati.


Ayah dan bunda saling pandang dengan Abyan, mereka benar-benar membuat Arumi mogok bicara.


Arumi berpamitan akan berangkat ke kampus sendiri dengan mengendarai mobil nya, ia memberi isyarat akan pergi dengan menunjukkan kunci dan tas laptop. Arumi menyalami bunda dan ayah serta Abyan.


Abyan menelan salivanya susah.


"Dari yang sering menghindar, sekarang mogok bicara" batin Abyan.


"Apa bunda salah? berkata seperti itu."


"Anak ayah yang sering ngambek, sekarang telah kembali."


Arumi melenggang pergi meninggalkan pekarangan rumahnya, tidak memperdulikan tatapan orang tua dan suaminya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2