Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Teman Abyan


__ADS_3

"Kenapa, di rumah kamu ada mobil mi? suami kamu udah pulang?"


"Aku juga gak tau wid, tapi kenapa ada dua mobil ya?"


"Seperti nya, ini mobil ustadz Najib," tambah Arumi.


Membuat Widya yang sedang menyentuh mobil itu, dengan cepat ia menjauhkan nya.


"Kenapa sih Wid? kayak lagi megang apa gitu."


"A-aku langsung pulang ya mi!"


"Lah kenapa? masuk aja dulu sebentar, ayo." Tangan Widya di tarik Arumi untuk masuk ke dalam rumahnya, dengan terpaksa ia mengikuti nya.


"Kamu gak mau, karena aku bilang itu mobil ustadz Najib ya?"


"Bu-bukan."


"Terus karena apa? kenapa tangan kamu, sampai dingin sih Wid?"


"Ya Allah, aku kenapa sih ini? kenapa tidak seperti dulu, yang sangat senang jika bertemu ustadz Najib."


"Lah, malah melamun nih anak."


"Kalau kamu gak mau, ya sudah. Aku aja yang masuk." Arumi melepas genggaman tangannya pada Widya.


"Gak apa mi, aku ikut." Widya tersenyum, menunjukkan bahwa dirinya mau ikut masuk.


Arumi lalu menyentuh bel, membunyikan nya. Terlihatlah Abyan yang membuka pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum mas," salam Arumi mengambil tangan Abyan, lalu menciumnya.


"Wa'alaikum salam."


"Ayo! masuk Widya," ajak Arumi.


"Widya, kenapa tidak ingin masuk? di dalam ada teman-teman saya, kebetulan sekali."


"Teman-teman? berarti banyak gus?" tanya Widya penasaran.


"Siapa aja mas?" Arumi juga penasaran dengan teman-teman Abyan.

__ADS_1


"Hanya tiga orang saja, ayo masuk dulu."


Abyan lebih dulu jalan, Arumi dan Widya di belakang nya.


"Kenapa lama sekali by? siapa tamunya?" tanya temannya Abyan.


"Istri saya dan temannya."


Di kursi ruang tamu, ada tiga orang laki-laki, yang Arumi dan Widya kenal hanya ustadz Najib.


"Assalamu'alaikum," ucap Arumi.


Berbeda dengan Widya yang langsung menunduk, setelah melihat ustadz Najib.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka.


"Ini Arumi istri saya, dan di sebelah nya itu Widya, temannya." Abyan memperkenalkan istrinya.


"Ini Akbar, dosen di kampus mas mengajar, dan Farid, teman saya saat di Kairo dulu, seorang dokter."


"Salam kenal." Arumi tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya.


"Arumi sama Widya juga bosen lihat kamu jib." Mereka semua tertawa mendengar nya.


"Ning Arumi, kenapa tidak di ajak duduk temannya." Ustadz Najib melihat mereka yang tetap berdiri.


"Hm, maaf ustadz dan semuanya, karena saya baru pulang. Silahkan kalian lanjut lagi, saya dan teman saya akan ke dapur."


"Tidak perlu repot-repot ning, saya juga sudah cukup minum air putih." Karena Abyan hanya memberinya air putih.


Abyan dan teman yang lain tau, kalau Najib sedang menyindirnya.


"Berarti, kalau mau bikin cukup dua saja." Abyan menyuruh Arumi agar membuat dua, untuk Akbar dan Farid saja.


"Tiga sekalian dong, tamunya ada tiga ini."


"Tadi katanya cukup air putih."


"Kalau di bikinin sama ning Arumi, saya mau saja." Mendapat tatapan tajam dari Abyan.


"Mas, aku ke dapur dulu," ucap Arumi menatap suaminya. Abyan mengangguk.

__ADS_1


Arumi dan Widya menuju dapur, setelah menyimpan tas Arumi di kamarnya.


"Boleh juga tuh by, teman istri kamu," ucap Akbar.


"Boleh saja, mumpung masih belum ada yang punya," Abyan melirik Najib yang hanya diam.


"Kalau suka istri kamu boleh juga?"


"***- lah kenapa jadi istri saya? tentu tidak boleh." Abyan baru sadar, bahwa yang di tanya boleh itu istrinya.


"Keduanya tidak boleh," Najib membuka suara untuk tidak boleh mendekati Arumi dan Widya.


"Kenapa? kata Abyan masih belum ada yang punya."


"Karena, karena Widya milik saya."


Arumi dan Widya mendengar ucapan Najib, karena suara Najib yang sedikit lantang.


Arumi melirik Widya yang hanya diam saja.


"Widya," panggil Arumi.


"Apa mi?" Widya menoleh ke arah Arumi.


"Apa kamu mendengar nya?"


"Aku tidak tau apa maksud ustadz Najib, dia bilang kalau dia sudah punya calon istri. Lalu, apa maksudnya barusan?"


"Berarti kamu tidak mau, kalau bertemu dengan ustadz Najib, karena ini?" tanya Arumi membuat Widya mengangguk.


"Mungkin saja, calon istri yang di maksud ustadz Najib itu, kamu Wid."


Widya hanya diam, sambil mengaduk minuman.


"Aku harus bertanya ini, sama mas Aby," batin Arumi.


Apa mau nya ustadz Najib ini? othor gak ngerti juga.



Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2