
Hari ini Arumi sudah waktu nya masuk kuliah, ia sudah menyiapkan semuanya termasuk milik suaminya. Abyan sudah melarangnya melakukan itu, namun Arumi tetap melakukannya. Arumi berkata bahwa memang itu kewajiban seorang istri yang menyiapkan semuanya, Abyan yang juga selalu membantu Arumi tak ingin pekerjaan istrinya membuat nya kelelahan, dan akan berdampak buruk untuk calon anak mereka.
"Ingat, kalau ada apa-apa cepat hubungi mas. Jangan sampai kejadian yang akan membahayakan kamu dan calon anak kita." Abyan selalu mewanti-wanti mengingatkan Arumi, agar istrinya itu tidak melupakan bahwa ada satu nyawa lagi di dalam perutnya.
"Mas Aby tenang aja, insyaa Allah disana kan juga ada Widya yang akan bantu Arumi."
"Tetap saja mas khawatir sama kamu, Widya juga beda fakultas tidak selalu ada di samping kamu."
"Kalau gitu, mas suruh profesor jaga Arumi." Usul Arumi agar Abyan menyuruh profesor kenalan Abyan menjaganya.
"Sayang, beliau profesor bukan sebagai spy atau seorang bodyguard. Kamu suka ngada-ngada." Abyan tertawa tidak habis pikir istrinya berpikir seperti itu. Bagaimana mungkin Abyan menyuruh kenalannya itu menjaga istrinya.
"Lagian mas Aby juga ngada-ngada, Arumi kan bisa jaga diri mas. Di kelas Arumi banyak yang akan membantu."
"Mas lihat dari waktu kamu di tuduh hamil di luar nikah aja, gak ada tuh yang samperin kamu, mereka hanya bisik-bisik mengatai kamu." Abyan berkata dingin, sangat khawatir jika istrinya sendirian tanpa ada yang membelanya kalau ada orang yang memojokkan.
Arumi tersenyum menatap jelas wajah khawatir Abyan, Arumi memegang tangan suaminya itu.
"Mas Aby khawatir dengan Arumi?" Tanya Arumi.
"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja mas khawatir. Kamu istri mas dan ada calon anak kita di dalam sini." Abyan berucap sambil mengelus perut Arumi yang mulai membuncit.
Beda dengan bebu yang buncit beneran, huhu.
"Terima kasih sudah mau khawatir dengan Arumi, terima kasih sudah menjadi suami yang baik dan pengertian untuk Arumi."
"Iya sayang sama-sama."
"Mas Aby," ucap Arumi membuat Abyan tersenyum, istrinya ini kalau berkata-kata akan membuat dirinya salah tingkah.
"Apa, sayang?"
"Arumi pengen minum susu hamil, tapi maunya mas Aby yang buatin." Arumi menampakkan deretan gigi putih nya.
__ADS_1
"Uh kamu ini, istri siapa sih ini? gemasnya." Abyan seperti mengacak rambut Arumi yang sudah tertutupi kerudung.
"Istri dari appa nya anak-anak kita."
"Sebentar ya, mas buatkan spesial untuk istri ku yang cantik ini." Abyan beranjak, sementara Arumi mengangguk. Lalu memberi kabar Widya lewat pesan singkat nya, ia mengabari bahwa Arumi akan masuk hari ini.
Setelah membuatkan susu dan menyuruh Arumi meminumnya, Abyan mengajak Arumi langsung berangkat agar dirinya juga tidak terlambat mengajar. Mereka sudah sarapan sebelum berbincang.
...******...
"Arumi..." Pekik Widya yang melambaikan tangannya. Ia hari ini juga di antar suaminya.
"Widya," jawab Arumi tersenyum, tanpa berteriak.
"Widih, kamu antar ning Arumi, by?" Tanya Najib juga ikut menghampiri Abyan dan Arumi.
"Iya jib."
"Kamu langsung ngajar atau ke kantor?"
"Bi, kamu sama gus Abyan mending langsung kerja. Arumi dan Widya ini akan mengobrol sebentar sebelum masuk kelas."
"Sebenarnya saya memang sedikit buru-buru, saya titip Arumi, kalau ada apa-apa cepat kabari saya."
"Insyaa Allah gus, saya siap menjaga sahabat saya ini."
"Alhamdulillah, kalau begitu saya permisi."
"Sayang, mas ngajar dulu yah." Arumi mencium tangan Abyan, lalu Abyan mengecup dahi Arumi. Setelah itu sedikit membungkuk untuk mensejajarkan dengan perut istrinya.
"Appa berangkat nak, jangan nakal." Lagi-lagi Abyan mencium perut Arumi, banyak pasang mata yang melihat itu.
"Jib, saya pamit. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
"Oh ya ampun, so sweet sekali kalian berdua."
"Bibi juga bisa begitu kok mi," ucap Najib.
"Kamu juga berangkat bi, kerja sana!"
"Seperti ini mana bisa mesra ning."
"Tidak perlu ngadu dengan Arumi, tidak akan di pedulikan."
"Kasihan sekali kamu mas, semoga sabar menghadapi sahabat saya ini."
"Ya elah malah dia yang di suruh sabar, dia itu hanya akting mi."
"Kenapa tidak ikut casting aja mas, siapa tahu jadi artis."
"Kamu memang harus sabar bi." Widya mengelus dada suaminya agar tetap sabar.
"Pasti, suami istri memang kadang ada somplak nya. Dari pada aku pusing disini, mending kerja."
"Saya pamit ning, mi aku kerja dulu ya harga skincare makin naik. Padahal katanya gak pakai skincare juga tetap cantik alami. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Tuh kan gak ada so sweet nya," ucap Widya dan beberapa detik kemudian suaminya itu berbalik.
"Lupa mi, kamu belum di so sweet in." Widya mencium kening Najib, dan Najib mencium tangan Widya.
"Eh salah eh." Mereka membuat Arumi menggelengkan kepalanya, pasangan di depannya itu adalah pasangan yang bisa juga wajib di tiru. Agar selalu ceria dalam satu frekuensi yang sama, dengan candaan yang mereka ciptakan. Membuat yang melihatnya juga bahagia.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
__ADS_1
See you...