Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Gagal mp


__ADS_3

Keluarga Abyan dan Arumi memang tidak banyak mengundang orang, hanya orang terdekat saja, karena sudah banyak dari anak pondok juga ikut merayakan hari pernikahan mereka.


"Selamat ya by, kamu udah dapat ning Arumi, jaga baik-baik tuh bini," ucap ustadz Najib.


Abyan tersenyum pada sahabat nya, "Iya terima kasih, semoga cepat nyusul jib."


"Insyaa Allah."


"Ning Arumi selamat yah, semoga bisa betah tinggal sama kutub," ujarnya cengengesan melihat ke arah Abyan yang mendelik.


"Terima kasih ustadz."


"Gus Abyan, selamat atas pernikahan nya, tolong jaga sahabat saya ini dengan baik, walaupun nanti merepotkan."


"Tentu saja, karena itu sudah tanggung jawab saya."


"Arumi selamat yah, semoga cepat dapat momongan," Widya mengerlingkan matanya.


"Apaan sih wid, makasih ya."


Setelah banyak orang memberi selamat atas pernikahan mereka, Arumi duduk sebentar merasa kaki nya pegal.


"Kalau kamu lelah, duduk aja. Biar saya yang berdiri," Abyan melihat istrinya yang kelelahan.


"Tapi, gak enak gus sama tamunya, masa pengantin nya duduk."


"Gak akan ada yang berani bicara, mereka akan mengerti, kamu lelah."


"Saya memang sangat lelah gus, di tambah sepatu nya tinggi begini, saya belum terbiasa," melihat kan sepatunya yang di pakai pada suaminya.


"Kamu lepas aja, nanti saya panggil al, agar mengganti sepatu kamu." Adik bungsu Abyan dan Affan memang pulang, untuk melihat kakaknya itu menikah.


"Gak perlu gus, itu malah merepotkan."


"Apa kamu akan membiarkan kaki kamu lecet seperti itu?"


Arumi tidak menjawab, ia hanya menunduk.


"Kamu cukup diam saja, mulai sekarang belajar patuh sama suami."


"Baiklah."


"Anak pintar, sekarang duduk saja patuhi yang saya katakan."


"Tapi gus-


Belum selesai Arumi menjawab sudah dipotong.


"Seorang istri berdosa menentang suaminya."


"Baiklah gus suami, saya patuh," Arumi duduk kembali.


Abyan tersenyum mendengar itu.


"Aby, kamu bawa Arumi ke kamar aja, dia pasti lelah," ucap ummi melihat menantunya yang duduk.


Abyan menatap istrinya, yang duduk bersandar matanya terlihat sayu.


"Apa tidak masalah ummi? tamu masih lumayan banyak."


"Tidak masalah nak, kamu bawa istri kamu istirahat, kasian pasti dia lelah."


"Baiklah ummi, Aby bawa Arumi ke kamar." Ummi tersenyum mengangguk.


Abyan duduk mendekati istrinya, matanya yang di tutup seperti menahan sakit, dengan mulut yang beristighfar.


"Arumi," Abyan menyentuh bahu istrinya.


"Astaghfirullah, gus ngagetin aja," Arumi memegang dadanya terkejut.


"Katanya gak lelah, kenapa seperti itu?"


"Perut saya nyeri gus," Arumi sedikit meringis.

__ADS_1


"Ayo! kita ke kamar aja, kata ummi tidak masalah jika kita istirahat."


"Tapi, gak enak gus."


"Saya katakan, nurut sama saya Arumi."


"Iya gus, tapi saya mau pamit dulu sama mereka." Arumi berdiri hendak berjalan ke arah orang tua beserta mertuanya, namun cepat di tahan Abyan.


"Kamu duduk saja, biar saya yang bilang." Arumi menurut tidak mau membuat Abyan marah.


Tak lama Arumi melihat suaminya itu mendekat.


"Ayo, saya udah izin sama ayah dan bunda." Abyan hendak membantu Arumi.


"Saya bisa sendiri gus." Namun Arumi meringis di bagian perutnya.


"Bisa? gak bisa kan, biarkan saya membantu, lagian jangankan menyentuh, saya berhak atas semua bagian tubuh kamu." Arumi langsung mengulurkan tangannya.


Jalan dengan sedikit pelan karena perutnya yang terasa nyeri.


Abyan tanpa aba-aba langsung menggendong Arumi.


Arumi terkejut dengan tindakan Abyan itu.


"Gus turunin saya, saya bisa jalan sendiri."


"Kamu diam, atau saya jatuhkan disini," ucapnya dingin. Membuat Arumi menciut, karena takut terjatuh, Arumi mengalungkan tangannya ke leher Abyan dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


"Jadi degdegan gini sama anak kecil, tapi anak kecil ini istri ku sekarang" batin Abyan sambil tersenyum


Detak jantung keduanya bertautan, berdegup kencang karena sama-sama merasakan gugup dan berdebar. Mereka mengira itu detak jantung nya sendiri, padahal karena berdekatan.


"Kita sudah sampai Arumi," ucap Abyan yang ingin membuka pintu.


"Arumi," ucapnya lagi mengintip istrinya, ternyata di gendongan nya istrinya tertidur dengan dengkuran halus.


"Lelah sekali ternyata." Abyan dengan susah payah membuka pintu kamar nya, karena memang acara pesta pernikahan nya di adakan di aula pondok.


Abyan menatap Arumi lekat, ia menatap wajah cantik istrinya itu.


Hidung mancung, putih bersih, bulu mata lentik serta bibir mungil namun sangat terlihat menawan.


Abyan tersenyum sambil membelai wajah lembut istrinya.


"Astaghfirullah, apa yang aku lakukan," ucapnya lalu beranjak ke kamar mandi.


Tak lama ia keluar, ia kembali menatap sang istri yang tertidur pulas ia tidak tega membangunkannya, namun sepertinya Arumi harus mengganti pakaian nya dan segera sholat.


"Arumi," Abyan membangun kan Arumi.


Arumi dengan pelan membuka matanya, menatap wajah Abyan dan dirinya sedikit lebih dekat, ia terkejut.


"Astaghfirullah, maaf gus." Arumi langsung terduduk.


"Kamu bersih-bersih dulu, setelah itu kita sholat," ucapnya dan Arumi mengangguk.


Arumi berjalan membawa pakaian ganti nya ke dalam kamar mandi, lengkap dengan khimar yang di siapkan oleh nya dari rumah.


Dari dalam kamar mandi, Arumi memanggil Abyan.


"Gus Abyan."


"Ada apa?" tanya nya dari luar.


"Saya mau minta tolong boleh?" Arumi dengan nada takut.


"Minta tolong apa?"


"Tolong, panggil kan ning al, gus."


"Kenapa?"


"Tolong gus, saya butuh bantuan nya."

__ADS_1


"Kamu minta tolong saya, tapi minta bantuan lagi ke al." Abyan bingung dengan istrinya


"Kalau tidak mau tidak masalah gus, tapi saya butuh."


"Iya, katakan apa?"


"Saya datang bulan, jadi saya butuh bantuan al, saya tidak bawa itu." Arumi terpaksa menahan malu.


"Bawa apa?"


"Tolong gus, perut saya nyeri, kalau untuk bercanda bukan sekarang saatnya."


Tanpa menjawab Abyan langsung meninggalkan kamar nya, dan menuju kamar almira adiknya.


Tok tok


"Assalamu'alaikum al."


"Wa'alaikum salam."


"E itu mas mau minta tolong itu, Arumi itu anu tadi minta tolong."


"Mas ngomong apa sih, di ulang terus."


"Arumi minta tolong minta sesuatu, dia sedang nyeri perut nya, lagi datang bulan"


Puffhhh


Almira tertawa mendengar itu, kakaknya itu gagal dung malam pertama.


"Udah al, nanti Arumi ngamuk gimana, yang di minta belum ada, kasian dia di kamar mandi."


"Astaghfirullah." Al memberikan roti jepang itu pada kakaknya 1 bungkus.


"Jangan lupa kalau sedang nyeri, pakai lap atau handuk hangat di perutnya mas."


"Makasih al," berlalu pergi.


"Perbucinan akan di mulai, tapi kasian juga mas Aby gak dapat jatah ups." Melihat sekitar lalu masuk ke dalam kamar.


Abyan telah sampai di depan kamar mandi, ia mengetuk pintu nya.


"Arumi buka pintu nya." Arumi membuka, lalu mengulurkan tangannya keluar untuk mengambil roti nya.


...****...


Setelah lama di kamar mandi, akhirnya Arumi keluar.


Arumi menuju sisi ranjang dan menarik selimut nya, sampai ke dada.


Abyan hanya melihat saja dari meja nya yang masih mengerjakan sesuatu disana.


"Dasar anak kecil."


"Terus kalau dia anak kecil, maksudnya aku om-om gitu? ya gak dong," bermonolog.


Selesai di jam 01:00pm Abyan meregangkan otot-otot tangan nya, lalu membereskan lembaran kertas itu untuk segera tidur menyusul istri nya.


Abyan membenarkan selimut nya, dan mengecup kening nya.


"Laylatan saeidat ya zaujatii, namal 'an yajlib nawmik ahlamana halawatun."


Artinya selamat malam istriku, semoga tidurmu membawa mimpi yang indah.


"Aku akan mencoba membuka hati ku untuk mu Arumi, maafkan aku bila saat ini belum mencintaimu sebagai istri," ucapnya lirih.


Abyan ikut berbaring di samping Arumi, sambil menatap lekat wajah nya sebelum ia ikut terlelap menuju alam mimpi.


Mau juga dong othor bebu di doain begitu.


Selalu dukung othor bebu sayang


Annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2