Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Tidak ingin bangun


__ADS_3

Abah dan Affan beserta ayah sudah mendatangi pusat informasi di bandara, untuk mengetahui kejelasan kecelakaan tersebut. Mereka melihat list nama penumpang yang menaiki pesawat Airair x L-1485, memang Abyan dan Najib berada di dalam pesawat itu. Setelah mengetahui informasi dan sudah jelas, mereka bertiga kembali ke rumah ayah Salman untuk mengabari yang berada di rumah.


"Ayah, di pesawat itu tidak ada nama mas Aby kan?" Tanya Arumi saat ayah dan mertuanya itu masuk ke dalam kamarnya.


Abah dan ayah hanya diam tidak menjawab. "Kenapa diam ayah? Hiks abah, mas Affan?"


"Kamu yang sabar nak, memang Abyan dan Najib berada di dalam pesawat itu. Walaupun tidak ada jasad nya, namun mereka ada di list penumpang pesawat." Arumi kembali lemas, ia tidak lagi kuat menahan air mata nya yang terus saja keluar. Ummi dan Almira juga hanya bisa menangis, namun mereka harus bisa menguatkan Arumi yang saat ini tengah berbadan dua.


"Mas Aby, kenapa tega sekali meninggalkan Arumi dengan calon anak kita mas hiks." Arumi menangis sambil mengusap perut rata nya.


"Zy, kamu harus kuat. Ini ujian yang harus kamu jalani."


"Zy yakin mas Aby masih hidup bun, mas Aby tidak akan meninggalkan zy."


"Kamu yang sabar nak, semoga suami kamu dan Najib husnul khatimah." Arumi tetap menggeleng, ia percaya suaminya masih hidup.

__ADS_1


Malam tiba keluarga Abyan kembali ke pondok, mereka tidak mungkin tetap berada di rumah Arumi. Mereka akan kembali ke pondok dan mendoakan nya bersama para santri.


"Zy, makan ya? Kasian calon anak kamu zy." Arumi masih setia di kamar nya dengan tetap menangis, ia menggeleng saat ayah dan bundanya akan menyuapkan makan.


"Zy, jangan seperti ini. Ayah dan bunda tidak ingin melihat kamu sakit nak, apalagi sekarang kamu sedang hamil." Ucapan ayah membuat Arumi kembali mengeluarkan air mata sambil mengelus perutnya.


"Mas Aby, pasti pulang kan bun, ayah?" Tanya Arumi. Ayah dan bunda hanya saling menatap tidak tahu lagi harus berbicara apa.


"Iya nak, kamu makan dulu setelah itu istirahat ya?" Arumi mengangguk dan membuka mulutnya, menerima makanan yang di suapkan bunda.


"Terus bunda harus jawab apa, ayah? Bunda serasa terpukul melihat anak kita satu-satunya menangis seperti itu. Apa pernah ayah melihat zy menangis sampai seperti itu?" Tanya bunda sedih, ia tidak pernah melihat Arumi menangis sampai tidak mau makan. Biasanya anaknya itu hanya mogok bicara tapi tidak dengan makan.


"Iya maafkan ayah, bun. Kita harus bisa sama-sama menguatkan zy, dia pasti sangat terpukul saat ini. Bahaya jika berkepanjangan, karena saat ini zy tengah mengandung." Ayah memeluk bunda yang sedih dengan keadaan Arumi saat ini.


...******...

__ADS_1


"Sayang, bangun." Abyan mengelus wajah sendu Arumi.


Arumi merasa terganggu dengan tangan yang mengelus wajahnya, ia membuka matanya perlahan sambil mengerjapkan matanya sebelum benar-benar membukanya. Yang ia lihat pertama kali adalah wajah Abyan, ia kembali mengeluarkan air matanya dengan sosok Abyan di sambpingnya.


"Kamu kenapa menangis? Mas sudah pulang sayang."


"Kenapa hanya pulang dalam mimpi Arumi mas? Kenapa meninggalkan Arumi secepat ini?" Abyan hanya terdiam tanpa menjawab.


"Jangan bangunkan Arumi, jika ini hanya mimpi. Tolong jangan! Hiks"


Waduhhh ini mimpi atau nyata ya? Othor juga bingung readers.


Kasih masukan dong othor bebu sayang, mau mimpi aja atau nyata?


Jangan lupa selalu dukung othor bebu ya sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2