
Abyan dan Arumi siang tadi sudah menjelaskan semuanya yang terjadi dengan Arumi.
Abah dan ummi terkejut, mereka memang akan menjodohkan Abyan dengan Arumi.
Abah baru mengetahui bahwa yang akan di lamar Yusuf adalah Arumi bukan Zahra sahabat nya.
Abah dan ummi minta maaf pada Arumi yang sudah melamar untuk anaknya.
Arumi hanya tersenyum dan menjawab tidak masalah dengan yang sudah terjadi.
Karena sekarang suaminya adalah Abyan, jadi ia tidak akan mencintai orang lain selain suaminya.
Abyan tertegun mendengarnya.
Ia tidak menyangka Arumi akan mengatakan itu di hadapan abah dan ummi, namun apa sebenarnya tidak? pikir Abyan sendiri.
Setelah shalat maghrib di masjid pondok, Arumi lebih dulu kembali ke kamar nya untuk menyelesaikan tugas kuliah.
Abyan membuka pintu kamar pelan, Abyan menemukan istrinya yang tengah sibuk di depan laptop nya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam."
Abyan berjalan menuju ranjang, sambil membuka kopiah dan baju muslim nya, menyisakan kaos oblong dan sarung.
Sampai Abyan menggantung bajunya pun Arumi tidak menoleh ke arah nya.
Entah mengapa Arumi sama sekali tidak berbicara padanya.
"Ekhem" Abyan berdehem untuk memecah keheningan di dalam kamar.
Namun Arumi hanya fokus pada tugas nya.
"Apa kamu tidak merasakan ada orang lain di kamar ini?" tanya nya.
Arumi mengernyit. "Siapa yang mas maksud?"
"Saya, suami kamu. Apa sesibuk itukah dengan laptop? sampai tidak bisa untuk menoleh pun?" tanya Abyan dari ranjang.
Arumi menghela nafasnya panjang dan menutup laptopnya.
Arumi kini menghadap suaminya dari meja belajar.
"Maaf mas, Arumi bukan tidak bisa menoleh atau mengabaikan mas Aby, tapi Arumi harus segera mengirim tugas ini, jadi maaf kalau Arumi tidak sopan." Arumi yang di tatap Abyan langsung menunduk.
__ADS_1
"Saya hanya ingin bilang bahwa ayah dan bunda kesini."
"Hah? bunda sama ayah disini? kenapa mas Aby tidak bilang dari tadi" ucap Arumi buru-buru keluar.
"Arumi" panggilnya namun istri nya itu sudah keluar kamar.
Belum selesai Abyan mengatakan bahwa ayah dan bunda nya akan datang nanti maksudnya.
Arumi masuk lagi ke dalam kamar nya dengan wajah sedikit di tekuk.
"Ada bunda dan ayah?" tanya Abyan menahan tawanya
"Mas Aby sengaja kan? mau ngerjain Arumi yah? ayo jujur."
"Saya kan belum selesai bicaranya tapi kamu malah pergi."
"Ih bohong, pasti mau ngeprank Arumi kan? ayo ngaku?" Arumi mendekati Abyan dan tanpa sadar menggelitik Abyan.
"Arumi hentikan! haha geli."
"Mas Aby ngaku dulu." Abyan menarik tangan Arumi membuat Arumi hilang keseimbangan dan tubuh Arumi menimpa tubuh kekar Aby.
Mata mereka bertemu dan hidung mereka bersentuhan, hampir saja bibir mereka juga akan bersentuhan.
"Mas Aby, mbak Arumi," panggil Almira yang langsung membuka pintu kamar.
"Al hanya mau bilang orang tua mbak Arumi ada di depan." Almira yang tertawa langsung pergi meninggalkan kamar kakaknya.
"Cepat bangun dari tubuh saya, kamu berat."
Arumi sadar dengan dirinya yang masih di atas tubuh Abyan.
"Ah maaf mas." Cepat Arumi menjauh dari tubuh Abyan.
"A-arumi keluar mau menemui ayah dan bunda." Arumi sampai gelagapan saat ini jantung nya berdebar.
Assikk jantung berdebar debar berdetak tak menentu jiahahah.
Arumi cepat keluar dari kamar untuk menemui ayah dan bunda nya, diikuti Aby di belakangnya yang juga akan menemui mertuanya.
Di ruang tamu sudah ada banyak orang abah sekeluarga termasuk Affan dan istrinya, Arumi terhenti melihat mereka semua.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Abyan.
"I-iya mas." Jadinya mereka berdampingan berjalan ke arah keluarga nya.
__ADS_1
Mereka berdua menyalami ayah dan bunda lalu Abyan duduk di dekat ayah, karena Arumi sudah menempel pada bundanya.
"Apa kedatangan ayah dan bunda mengganggu kalian?" tanya nya tersenyum.
"Apa maksud ayah? tentu saja tidak," jawab Abyan.
"Apa sudah ada tanda-tanda nya junior Arumi?" tanya bunda.
"Tahun depan baru pendaftaran untuk junior bun di kampus," jawabnya polos tentu saja membuat semua yang disana tertawa kecuali Abyan.
"Maksud bunda kamu, tandanya ada benih di dalam perut kamu nak."
"Tidak perlu terburu-buru ayah, kami masih ingin berdua dulu." Kini Abyan yang menjawab.
"Mau isi gimana, di kamar aja pakaian nya lengkap." batin Abyan.
"Tidak apa kalau kalian ingin berdua dulu, asal jangan di tunda-tunda."
"Iya abah"
"Karena semuanya ada disini, sekalian Aby mau bicara sesuatu penting" Arumi melirik Abyan.
Semuanya menatap Abyan, menunggu apa yang akan di bicarakan.
"Aby memutuskan untuk tinggal di rumah yang sudah lama Aby siapkan, memang untuk di tinggali bersama istri Aby."
"Kenapa tidak disini saja nak?" tanya ummi.
"Tidak, kenapa tidak tinggal sama bunda saja."
"Aby dan Arumi harus belajar mandiri ummi, bunda." Sambil menatap istrinya yang sedari tadi menatap nya.
Abyan tahu Arumi pasti terkejut dengan keputusan nya yang tiba-tiba.
"Kenapa mas Aby gak nanya aku dulu" batin Arumi
"Nanti kita bahas ini" maksud dari tatapan Abyan
"Jika itu keputusan kamu, abah juga tidak bisa mencegah nya."
"Ayah juga terserah sama kamu, karena Arumi sekarang adalah tanggung jawab kamu. Pesan ayah hanya jangan pernah menyakiti Arumi, apalagi jika kamu sudah bosan, tolong di kembalikan dengan baik kerumah ayah."
"Aby tidak bisa berjanji untuk tidak membuat Arumi menangis ayah, namun Aby akan menjaga Arumi agar tidak pernah menyakiti nya insyaa Allah." Ucap Abyan bersungguh-sungguh.
Karena Arumi adalah istrinya, tidak mungkin ia berniat akan menyakiti istri nya sendiri pikirnya.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang
Annyeong love