
Masa libur Arumi masih panjang, ia hanya berdiam di dalam rumah tanpa mau keluar atau sekedar main kerumah orang tuanya. Arumi hanya melayani suaminya dan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain nya.
"Sayang, apa sebaiknya kita nginap di rumah bunda atau ke pondok pesantren saja."
"Arumi mau disini saja mas, lagi gak pengen kemana-mana." Jawabnya sambil berbaring di ranjang, ia hanya melihat suaminya yang akan berangkat ke kampus untuk mengajar.
Arumi berlari ke dalam kamar mandi saat merasa dirinya akan memuntahkan isi perutnya.
Uwekkk.. uweekkk...
Abyan membantu memijat bagian belakang leher Arumi. "Sayang, kita ke rumah sakit ya?"
"Arumi gak apa mas, ini hanya morning sickness. Sudah biasa bagi beberapa ibu hamil." Ucapnya di bantu keluar dari kamar mandi oleh Abyan.
"Tapi mas khawatir sama kamu, kita ke pondok aja ya disana kan banyak orang."
"Terserah mas saja," jawabnya memiringkan badannya di tempat tidur sambil memejamkan matanya.
"Sayang, jangan nakal ya. Ibu kamu merasakan sakit kalau kamu nakal." Abyan mengusap perut Arumi sesekali sambil mengecup kening istrinya itu.
"Kita ke pesantren sekarang ya, mas antar. Lagi pula lusa sudah acara pernikahan Widya dan Najib."
"Astaghfirullah." Arumi terkejut, ia lupa jika pernikahan sahabatnya itu dua hari lagi.
"Kenapa?" Ucap Abyan khawatir, ia takut Arumi merasakan sakit di bagian perutnya.
"Ayo kalau mau ke pondok, Arumi juga harus membantu persiapan pernikahan mas Najib dan Widya."
"Kamu harus banyak istirahat, mas tidak mengizinkan kamu untuk melakukan apapun di pondok. Biar mas menyuruh salah satu santri agar bisa memantau kamu."
"Apaan sih mas, Arumi cuma mau bantu aja bukan mau kerja kuli."
__ADS_1
"Tetap saja nanti kamu kecapean, anak kita akan sakit jika kamu tetap melakukan sesuatu."
"Kalau gitu mas saja yang mengandung, biar Arumi yang bekerja."
Abyan terkekeh mendengar nya. "Mana bisa sayang, kamu ini calon dokter, tapi bicara mu seperti anak yang masih di bangku sekolah dasar."
"Oh maksudnya Arumi seperti anak kecil?"
"Bukan gitu, maksud mas ucapan kamu sangat lucu." Abyan mengatakan nya sambil tersenyum, agar istrinya tidak marah karena sudah mengatakan seperti anak kecil.
...******...
Abyan dan Arumi sudah sampai di pondok pesantren, Abyan menggandeng tangan Arumi agar istrinya tidak tertinggal. Banyak santri yang berteriak melihat pasangan itu bergandengan. Mereka merasa gus dan ning nya sangat serasi.
"Assalamu'alaikum," ucap Abyan dan Arumi ketika sampai di ndalem.
"Wa'alaikum salam."
Abyan mengantar Arumi ke dalam sebelum dirinya pamit untuk mengajar. Abah dan ummi juga Almira bertanya, kenapa Arumi tidak kuliah? Arumi menjelaskan semuanya sampai dirinya di DO sementara.
Ummi dan Almira saling memandang. "Suami kamu bilang kalau kamu hanya boleh duduk di sini dan jika sudah lelah di suruh berbaring ke kamar."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Arumi dan orang di ndalem menatap seseorang yang datang.
"Ada apa Rina?" Tanya nya saat melihat santri putri ke ndalem.
"Mohon maaf ummi, saya di izinkan gus Abyan untuk mendampingi ning Arumi, selama beliau masih mengajar di kampus."
Lagi-lagi mereka semua saling pandang. "Ummi, Arumi mau bantuin."
__ADS_1
"Tapi gus Abyan juga menyuruh saya untuk melarang ning Arumi melakukan apapun."
Ummi dan Almira hanya tersenyum, ternyata Abyan juga bisa sepeduli itu dengan istrinya yang sedang menagndung.
"Kamu dengar nak, suami kamu menyuruh kamu diam saja tanpa melakukan pekerjaan apapun."
"Rani, kamu bisa diajak kerja sama kan? Bagaimana jika kamu berbohong saja, lagi pula saya bosan kalau hanya berdiam tanpa melakukan pekerjaan apapun."
"Kenapa mbak malah menyuruh nya untuk berbohong? Dosa loh mbak, apalagi sama suami."
"Bagaimana jika kamu ummi kasi pekerjaan lain, kamu tetap bisa bekerja tapi hanya berdiam diri disini."
"Apa ummi?"
"Tunggu sebentar," ucap ummi Dalilah, yang langsung berdiri akan mengambil sesuatu menuju kamarnya.
Tak lama ummi keluar membawa selembar kertas dan juga beberapa perlengkapan lain untuk menggambar.
"Untuk apa ummi?" Tanya Almira.
"Mbak mu ini, bukan hanya pintar ilmu di kedokteran, tapi juga pintar menggambar atau mendesign pakaian."
"Yang benar mbak?"
"Hanya bisa sedikit, masih terus belajar lagi al."
"Wah, bakal jadi designer dan dokter bedah nih mbak Arumi."
"Aamiin, insyaa Allah al. Biar seperti mas-mas kamu yang sudah menjadi design interior."
"Aamiin...." Semua nya meng amin kan apa yang di ucapkan Arumi. Rina yang tadi di tugaskan untuk mendampingi Arumi, benar-benar hanya berada di dekat Arumi. Berbeda dengan ummi dan Almira yang mempersiapkan barang-barang nya untuk seserahan.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
See you...