
Di sebuah kamar, kini telah dihias cantik ala pengantin, beserta orang di dalamnya yang kini telah hampir siap di hias.
"Udah selesai belum mbak?" tanya nya pada tukang rias.
"Sebentar lagi buk, putri ibu sudah cantik, jadi di poles dikit saja sudah sangat cantik," jawabnya.
"Masyaa Allah nak, kamu cantik sekali. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang istri." Memuji anaknya yang cantik, kemudian perias juga pamit.
"Bunda, zy gugup bun." Orang itu adalah Arumi, yang hari ini akan menikah dengan Abyan.
"Sudah biasa seperti itu zy, nanti juga setelah akad pasti lega."
Tok tok
"Arumi, bunda, Widya boleh masuk?"
"Masuk lah nak." Widya masuk melihat Arumi sangat cantik berbalut gaun pengantin ala melayu, kerudung sederhana namun sangat elegan di pakai, cocok dengan riasan yang simple.
"Masyaa Allah mi, kamu sangat cantik," puji Widya melihat Arumi.
"Ini karena make up Wid, kalau gak juga biasa aja," jawab Arumi.
"Tapi hari-hari juga kamu cantik, cuma karena sekarang di rias jadi makin cantik masyaa Allah."
"Bunda, Arumi, sebentar lagi kita akan turun, tamunya di bawah udah pada datang, mempelai pria juga segera sampai." Ayah dan bunda disamping untuk membawa Arumi ke tempat duduk.
Widya di belakang sendiri, karena mengajak Zahra tidak bisa, alasannya tidak enak badan.
"Aku makin gugup Wid, diskoan nih jantung coba nih." Arumi membawa tangan Widya agar menyentuh dadanya, yang saat ini berdegup kencang.
"Udah biasa kali mi, kan gak pernah, jadi udah biasa gugup bagi pengantin mah, berdebar gitu ngerti aku walaupun belum pernah menikah."
"Semoga kamu bisa nyusul secepatnya Wid, siapapun jodoh kamu nanti, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk sahabat ku yang cantik ini." Arumi mencubit hidung Widya.
"Terima kasih mi, semoga gus Abyan jodoh terbaik untuk kamu hingga ke jannah."
"Aamiin." Nemeluk Arumi ia sedih tidak dapat menyusul sahabat nya segera, karena ustadz yang dia harapkan sudah memiliki calon menurut nya.
"Sabar Wid, aku tau apa yang kamu pikirkan, kalau memang jodoh gak akan kemana."
"Huaa aku mau cari yang lebih ganteng dari ustadz, biar dia nyesel ninggalin aku."
"Kok malah sedih nak, ingat! cari suami itu bukan hanya dilihat dari tampang nya, cari yang bisa nerima segala kekurangan kita, perhatian dan bisa mengerti keadaan kita."
"Iya, tapi ganteng juga penting bun."
"Yang utama agamanya nak, baik, bertanggung jawab dalam arti dapat mencukupi kebutuhan kamu dan berprilaku baik, ganteng iya sih bonus, ayah untung ganteng kalau gak-
__ADS_1
"Kalau gak apa bun?" tanya ayah yang baru saja masuk ke kamar, beliau sudah mengucap salam namun tidak ada sautan.
"Eh ayah."
"Kalau gak ganteng gak mau? berarti ayah ganteng dong?"
"Ganteng banget lah, makanya bunda mau." Bunda langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Oh gitu, yaudah lah kalau gak mau."
"Tapi kan sekarang mau yah."
"Tetap saja, kalau misalnya ayah jelek, bunda gak mau." Arumi dan Widya melihat perdebatan kecil itu tertawa, mereka berdoa semoga mereka bisa langgeng seperti ayah Salman dan bunda Faza.
"Kenapa kita jadi berdebat bun?"
"Lah ayah tanya bunda, terus bunda tanya siapa?"
"Ayah kesini tadi mau ajak kalian turun, mempelai pria sudah datang dan siap untuk akad," ucap ayah membuat Arumi jadi gemetar dan gugup kembali.
"Zy, ayo bunda dan ayah antar ke tempat duduk dekat Abyan."
"Zy gugup banget bun, gimana kalau nanti disana, zy malah ngompol." Karena Arumi serasa ingin mengompol.
"Ya sudah, biar bunda antar ke kamar mandi dulu ayo."
"Zy santai aja, dibawah cuma sekitar ratusan anak pondok aja kok, sama kenalan dekat ayah, tidak semua orang ada." Arumi melongo mendengar nya.
"A-apa? ratusan yah? Arumi gak mau turun bisa kan yah?"
"Kalau kamu gak turun, siapa yang nikah mi?" ucap Widya
"Bisa aja sih cuma tradisi nya, mempelai pria harus melihat."
"Sekarang ubah tradisi itu yah, zy mau di kamar aja."
"Seperti nya ada yang gak sabar nih, mau nunggu di kamar aja." Mendengar itu Arumi hanya mendengus mengerucut bibirnya.
"Sudah, ayo ayah gak enak meninggalkan tamu terlalu lama." Setelah itu mereka turun untuk menuju tempat dimana akan dilaksanakan akad.
Semua orang menatap ke arah Arumi, banyak yang memuji kecantikan bak bidadari itu, namun karena Arumi terlalu gugup ia hanya menunduk tidak berani mendongak, sampai tak terasa ia sudah sampai di samping Abyan.
Arumi menahan rasa tangisnya saat Abyan mengaji di dekat nya, ia tidak tau perasaan apa ini? rasa sakit atau bahagia.
"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti Arumi zyakana ramadhani alal mahri 250748.22 riyal saudi wamajmueat min 'adawat alsalat, hallan."
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu biha, wallahu waliyut taufiq."
__ADS_1
Dada Arumi seperti di hantam batu besar, ia meneteskan air mata nya, ia mematung mendengar Abyan mengucapkan dengan lantang.
Saat ini Arumi telah sah menjadi istri Abyan?
"Zy sayang" ucap bunda membuyarkan lamunannya.
Air mata bunda sudah meleleh, Arumi tidak sanggup untuk tidak memeluk bundanya.
"Sayang jangan nangis dong, udah cantik gini masa nangis"
"Zy udah jadi seorang istri bun"
"Iya nak, semoga menjadi istri yang shalihah dan menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak mu kelak," ucap bunda mengecup keningnya.
"Zy," panggil ayah.
Arumi dan bunda menoleh, Arumi memeluk ayahnya itu kembali menangis.
"Jangan nangis nak, semoga kamu bisa menjadi istri yang taat pada suami kamu." Arumi mengangguk.
Ayah menyerahkan tangan Arumi pada Abyan, namun Arumi kembali menarik nya.
"Kenapa nak? biar Abyan memasangkan cincin di jari kamu," ucap ummi tersenyum pada Arumi.
Arumi kembali mengulurkan tangannya, Abyan langsung memasangkan cincin di jari manis Arumi, lalu setelah itu ia cepat menarik tangannya.
Kini Arumi yang akan memasangkan cincin di jari Abyan, namun ia ragu.
"Ayo nak, pasangkan di jari suami kamu," sokong bunda.
Arumi secepat kilat memasangkan itu agar tidak lama memegang tangan Abyan, namun percuma.
Karena ia harus mengecup tangan Abyan, dan Abyan yang juga mendoakan istri nya.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." setelah itu Abyan mengecup kepala Arumi.
Arumi terkesiap, saat sudah tak terasa tangan Abyan di kepalanya Arumi dengan cepat memundurkan wajahnya, namun Abyan kembali menangkup wajahnya dan mengecup kening Arumi.
Arumi terkejut.
Berbeda dengan orang yang berada disana, sangat kesenangan dan gemas dengan pengantin baru ini.
"Sekarang kamu adalah tanggung jawab saya Arumi," bisik Abyan.
Jiahahahha babang Abyan mau dung othor nya.
Selalu dukung othor bebu sayang
__ADS_1
Annyeong love.