
Mira menaruh paper bag belanjaan nya di atas meja, ia mendudukkan dirinya karena merasa lelah. Kevin mengikuti nya dan menutup pintu untuk ia bicara berdua dengan Mira. Kevin merasa bersalah tidak pernah memberitahu Mira sebelumnya.
"Mira nanti malam mau balik lagi ke pesantren, besok baru Mira kesini lagi. Mira harus menemui Mina, karena tadi pagi belum sempat bicara kalau pindah kesini." Mira tersenyum dan mengambil ponselnya. Kevin mengambil ponsel yang di pegang Mira dan kembali meletakkan nya di meja.
"Saya mau ngomong, ini penting." Mira menatap wajah Kevin.
"Sepenting itukah sekarang? Apa sebelumnya tidak kepikiran mau memberitahu?" Tanya Mira membuat dokter Kevin merasa bersalah menutupi nya dari Mira.
"Saya tidak bermaksud seperti itu mir, saya juga tidak mau menyalahkan semua saudara kamu. Tapi mereka juga mengatakan tidak perlu membahas hal ini sama kamu." Mira memejamkan matanya terasa sesak, tidak pernah ia rasakan sesak di dalam hatinya begitu sakit.
"Saya memang sudah pernah menikah."
Deg...
Mira menatap wajah Kevin, tidak menyangka bahwa ia akan menikah dengan seorang duda.
"Kenapa? Kenapa baru cerita sekarang?"
"Saya takut kamu menolak menikah dengan saya." Kevin memegang tangan Mira, Mira melihat tangan nya yang di genggam oleh Kevin.
"Saya minta maaf, tapi sebenarnya saya juga belum bercerai." Mira terkejut dan cepat melepaskan tangan nya dari genggaman dokter Kevin.
"Mas," Mira merasa sangat di bohongi saat ini, ia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menetes.
"Mir, kenapa kamu nangis?" Kevin ingin menyentuh wajah Mira, tapi dengan cepat Mira menghindar.
"Masih tanya kenapa Mira nangis? Mira disini sudah jadi pelakor, istri kamu tinggal dimana? Mira mau kesana, Mira mau minta maaf karena sudah menikah dengan suaminya. Kalau bisa kita secepatnya pisah."
"Dengar penjelasan saya dulu, mir. Kamu salah paham."
"Salah paham apa? Mas sudah punya anak? Bukan hanya istri aja?" Mira memejamkan matanya, ia harus kembali ke pesantren dan bertanya pada semua kakak angkat nya.
"Kenapa tidak ada yang memberitahu Mira, kalau mas sudah menikah." Kevin memeluk Mira yang sedang menangis.
__ADS_1
"Kamu jahat banget mas, kenapa gak ada bilang sama Mira kalau mas udah nikah. Mira jadi wanita paling jahat sekarang."
"Kamu salah paham Mira, kalau kamu tetap seperti ini akan saya perkenalkan dengan istri saya." Mira nampak berpikir apakah ia mampu melihat istri dari suaminya.
"Mira takut, Mira pelakor." Mira menangis di pelukan Kevin.
"Mira, kamu akan tahu kalau kamu sudah menemuinya. Tapi tolong berhenti menangis, saya tidak mau kamu sedih seperti ini."
"Besok, karena nanti malam Mira mau pulang aja ke pesantren."
"Tapi Mira-
"Sekali ini Mira mau mas ngertiin, Mira belum siap jadi madu."
"Tapi kamu tidak dimadu, mir. Tolong disini saja, saya takut ummi dan abah tidak mengizinkan kamu kembali."
"Bukannya bagus seperti itu? Ini pasti sudah doa dari istri pertama kamu."
"Kenapa kamu bohong mas, kenapa kamu jahat? Mira memang seorang yatim piatu, tapi tidak seharusnya kamu perlakukan Mira seperti ini."
"Mira, saya tidak menyakiti kamu. Tolong jangan ke pesantren dulu, kita selesaikan ini berdua, kita harus ketemu dengan istri saya."
"Sekarang, Mira harus bertemu sekarang. Mira merasa bersalah jadi madu nya." Kevin menghela nafas panjang, lalu mengangguk setuju.
"Sekarang juga kita berangkat." Kevin beranjak dari duduknya, Mira menatap Kevin yang ingin mempertemukan dirinya dan istri pertama.
"Beneran sekarang mas?" Tanya nya sambil mengelap air matanya.
"Ayo! Biar semuanya jelas dan cepat selesai."
"Kamu tadi beli apa? Biasanya kalau Vanya langsung di cobain, kenapa disimpan aja?" Kevin memegang paper bag pakaian itu.
"Nanti aja pulang dari rumah istri kamu." Kevin meletakkan kembali paper bag nya.
__ADS_1
"Ayo cepat! Nanti keburu malam, bisa-bisa kamu makin gak berani ke rumah dia." Mira mengikuti Kevin berjalan keluar, disana masih ada orang tua nya dan Vanya.
"Kalian mau kemana?" Tanya mama Kevin.
"Ke rumah Nia, ma." Orang tua nya dan Vanya saling pandang.
"Vin, tapi-
"Mira yang mau kesana kok ma, Mira mau minta maaf kalau jadi pelakor."
"Nak, bukan seperti itu. Maksud mama kamu yakin?"
"Yakin ma, ini buktinya Mira mau ikut kesana."
"Kak Mira kuat banget, Vanya tunggu nanti kita coba baju bareng." Mira tersenyum mengangguk pada Vanya.
"Kevin dan Mira pamit dulu, nanti keburu malam." Mereka mengangguk, dokter Kevin dan Mira berangkat untuk menemui istri pertamanya. Mira sedikit gemetar ingin bertemu dengan istri pertama Kevin.
"Mas, Mira gugup banget. Istri kamu belum tahu kalau kamu nikah lagi?" Tanya Mira dan Kevin menggelengkan kepalanya.
"Mira jadi takut dia marah dan jambak rambut, atau Mira akan ditampar?" Ucapnya membuat Kevin hanya melirik Mira.
Mereka sampai di rumah Nia, istri pertama Kevin.
"Mas," ucapnya melirik Kevin. Kevin mengangguk dan mengajaknya untuk turun.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1