
"Bagaimana mas? Apa khayra menolak atau menerima Akbar?"
Abyan hanya mengedikkan bahu, Arumi langsung mengartikan bahwa Akbar ditolak.
"Kasihan Akbar, di tolak dua kali."
"Siapa yang di tolak, orang Akbar di terima sama khayra."
"Tapi tadi mas begini." Mencontohkan Abyan yang mengedikkan bahu.
Abyan tersenyum melihat istrinya.
"Mas kalau ditanya malah diam, habis itu tersenyum gak jelas."
"Arumi keluar dulu ya, kayaknya Arumi sedikit merasa lapar." Arumi tertawa ringan merasa dirinya lapar lagi.
"Biar mas aja yang ambilkan, kamu biar disini aja."
"Gak apa mas, biar ada gerak nya juga."
"Yasudah mas temani kamu makan."
"Mas capek mending tiduran aja, Arumi bisa kok ngambil sendiri."
"Gak apa cuma kedapur aja, mas kan kuat."
"Baiklah si paling kuat." Abyan tersenyum mendengar ucapan Arumi.
Abyan mengantar Arumi untuk mencari makanan di dapur.
"Mau makan apa, biar mas yang masakin?" Karena dilihat sudah tidak ada sisaan makanan.
__ADS_1
"Ada kok mas, itu tinggal sayur. Arumi makan sayur aja."
"Udah gak apa, biar mas bantu masakin."
"Ada apa kalian di dapur?"
"Arumi lapar bun, nyari makanan udah gak ada."
"Kalian tunggu aja diluar, biar bunda yang masakin."
"Arumi juga bisa kok bun, bunda ambil aja yang dibutuhkan."
"Tidak masalah, kalian tunggu diluar. Aby bawa istri kamu keluar! Tidak akan lama, bunda akan segera membawanya keluar."
Abyan juga tidak membantah lagi, ia membawa istrinya untuk menunggu diluar.
"Arumi kan bisa masak, harus nya mas tadi tidak mengantar Arumi. Arumi masih bisa melakukan nya sendiri."
"Sayang, sudahlah iya mas minta maaf. Mas khawatir kalau kamu sendirian, begitu juga dengan bunda."
"Mas maklumi itu, kamu kan sedang hamil. Jadi sudah biasa jika kamu sering ingin makan, karena untuk dua orang juga.
"Ada yang bertanya tentang kamu tadi di rumah nya Farid."
"Siapa mas?"
"Farid sama Almira. Karena kamu tidak ada kesana. Mas dan Widya yang menjawab pertanyaan Farid dan Almira. Disana Najib malah bertanya pada Almira kenapa tidak menanyakannya, Al bilang karena dia sudah melihatnya. Mas juga bosan dengan mereka yang ribut padahal tujuan mas untuk mengkhitbah khayra untuk Akbar, terus mas tanya sudah selesai? Baru mereka berhenti." Arumi tersenyum Najib minta di tanyai terus, padahal orang juga sudah melihatnya.
"Mas Najib memang seperti itu dari dulu ya? Waktu ngajar Arumi saja, dulu selalu bercanda nya yang agak terlalu terlewat."
"Iya memang gaya nya seperti itu, jadi orang juga tahu kalau itu Najib. Mereka mengenal tingkah Najib yang seperti itu."
__ADS_1
"Ngomongin apa sih, kok serius banget. Masakan nya sudah siap."
Abyan langsung berdiri untuk mengambil makanan di tangan mertuanya.
"Makasih ya Bun, bau nya sedap Arumi langsung makan ya." Bunda Faza mengangguk.
"Jangan lupa baca doa."
"Iya mas."
Setelah baca doa, Arumi langsung melahap makanan yang sudah di masakin bunda.
"Segar banget Bun, hangat gini enak. Makasih Bun."
"Iya, kalian lanjut aja disini. Bunda mau kembali ke kamar."
"Anisa sudah tidur Bun?"
"Tadi bunda lihat seperti nya sudah tidur, bunda kan ngasih jadwal dari sekolah hingga malam, waktu bermain hanya boleh sebentar saja.
"Bagus lah Bun kalau Anisa juga mengikuti yang bunda arahkan."
"Yasudah bunda masuk." Abyan dan Arumi mengangguk.
"Mas Aby mau? Enak banget masakan bunda."
"Boleh, coba suapkan sedikit." Arumi menyuapi suaminya, dan memang terasa enak bikinan mertuanya sama juga dengan biasa Arumi masakan untuk nya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
__ADS_1
IG : @istimariellaahmad98
See you...