Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Mengantar Widya


__ADS_3

Widya sudah sampai di depan rumahnya, bapak dan ibu nya ada di kursi teras sedang bersantai malam minum teh.


Mereka melihat Widya datang hendak bertanya, kenapa pulang cepat dari pesantren, mereka tidak akan khawatir jika disana. Harusnya menginap saja, karena sudah lama tidak ke pesantren.


Namun di urungkan, karena melihat seorang laki-laki turun dari motor nya.


"Pak, Widya dengan siapa?" tanya ibu yang melihat seorang laki-laki bersama anaknya.


"Iya buk, bapak juga lihat. Biar bapak yang marahi dia," ucapnya berdiri.


"Tunggu dulu pak, nanti mereka juga kesini." Akhirnya bapak kembali duduk, pura-pura tidak melihat mereka dan tetap mengobrol.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Widya, kamu pulang dengan-


"Ustadz Najib yah? wah terima kasih telah mengantar anak ibu." Ucapan bapak terpotong oleh ibu yang langsung memotong nya cepat, karena mengenal orang yang mengantarkan anaknya.


"Iya ibu, bapak, maaf saya mengantar Widya," ucap Najib melirik Widya.


"Justru saya berterima kasih ustadz," ucap bapak ramah. Membuat Widya tercengang.


"Oh my god, ini bapak gue kesambet apaan?" batin Widya.


"Widya, ajak masuk ustadz Najib nya, malah bengong aja."


"Ah iya ibu, ustadz Najib nya mau langsung pulang katanya," ucap Widya.


Ia sengaja agar Najib tidak berlama-lama di rumah nya.


"Sayang sekali ustadz, padahal bapak masih ingin mengobrol dengan ustadz."


"Saya belum mau pulang kok pak, saya juga masih mau mengobrol dengan bapak dan ibu," melirik Widya yang mengernyitkan dahinya, ustad Najib hanya tersenyum.


"Ayo masuk ustadz," ajak bapak.


"Mari pak."


"Bikin minum Wid buat tamu."


"Iya pak," ucap Widya. Lalu berlalu menuju dapur.


"Ibu juga ke dapur pak." Di balas anggukan kepala oleh bapak.


"Widya merepotkan ustadz, sampai ustadz sendiri yang mengantar nya."


"Tidak masalah pak, tadi ning Arumi yang akan mengantarkan dengan Abyan, tapi karena saya sedang tidak ada kerjaan, makanya saya yang mengantarnya."

__ADS_1


"Terima kasih ustadz sudah mau mengantar Widya."


Najib tersenyum, "Panggil saya Najib saja pak, tidak perlu dengan embel-embel ustadz."


Bapak juga membalas senyuman nya, "Baiklah, ustadz eh Najib maksud saya, berarti sekarang anda yang mengurus pesantren dengan gus Abyan?"


"Saya bersama Abyan dan Affan pak, masih di bawah naungan abah, sekaligus kerja sampingan pak."


"Kerja sampingan seperti apa nak? mengajar di tempat lain, jadi dosen seperti gus Abyan?"


Najib kembali tersenyum, "Kalau kerja sampingan saya hanya satu, kalau Abyan dua."


"Masyaa Allah, kalian sangat pekerja keras sekali, beruntung yang menjadi pasangan kalian," ucap bapak tersenyum.


"Insyaa Allah pak, saya selalu berdo'a semoga yang jadi pasangan Najib nantinya bisa menerima semuanya, apalagi saya hanya anak angkat di pesantren."


"Tidak perlu sungkan untuk menganggap bapak sebagai orang tua kamu juga, lagi pula abah dengan ummi sangat baik sekali, mereka pasti sudah menganggap kamu sebagai anak kandungnya."


"Alhamdulillah, abah dan ummi beserta ketiga anaknya memang menganggap saya seperti keluarga nya sendiri pak," ucap Najib tersenyum pada bapak.


...******...


"Kamu ada hubungan kan, sama ustadz Najib?" tanya ibu tersenyum.


"Ibu kalau nebak suka-


"Ibu gitu loh," ucap ibu dengan bangganya.


"Suka salah," lanjut Widya tertawa.


Ibu langsung mengerucutkan bibirnya.


"Ibu jangan seperti anak muda."


"Lah, emang ibu masih muda, iri bilang kawan," ucapnya dengan nada mengejek.


"Siapa yang kawan ibu? Widya ini anak ibu, ingat umur."


"Umur saja yang lebih tua dari kamu, tapi wajah masih terlihat sepantaran dan jiwa yang tetap muda."


"Astaghfirullah, bapak sama ibu memang cocok deh, suka aneh kadang."


"Kalau gak cocok, gak ada kamu dong."


"Iya deh Widya kalah."


"ibu," ucapnya bergelayut manja pada ibu.


"Perasaan ibu gak enak nih."

__ADS_1


"Widya kan baru pulang," ucapnya lembut.


"Kalau ada maunya, lembutnya ngalahin jalanan licin."


"Lalu, mau ibu gendong?" lanjutnya


"Jalanan licin gak lembut dong ibu."


"Oh iya juga."


"Widya hanya ingin ibu yang mengantar ke depan, dan Widya langsung ke kamar."


"Ya ampun lupa minumnya belum di bawa ke depan, kamu cepat bawa, ibu mau temui calon mantu." Ibu langsung pergi meninggalkan Widya yang memanggil nya dari dapur.


"Widya kenapa bu? berteriak begitu."


"Biasa pak, tes vocal suaranya biar makin bagus."


"Memangnya, Widya mau ikut kompetisi?" tanya bapak.


"Hanya untuk menakut-nakuti orang dari rumah pak, suaranya biar makin strong," ucap ibu terkekeh.


Widya juga keluar, membawa nampannya dari dapur, dengan bibir manyunnya.


"Sudah jangan seperti itu, nanti mantu ibu jadi gak mau sama kamu."


"Siapa mantu ibu?" tanya bapak.


"Yang sekarang bersama kita lah pak." Najib hanya tersenyum canggung di sebut mantunya, berbeda dengan Widya yang merasa aneh pada ibu dan bapaknya, mengapa mereka malah mendukung ustadz Najib.


"Bersyukur kalau ustadz Najib mau sama Widya, kalau tidak?"


"Pasti mau lah pak, iya kan ustadz?"


"Ibu," Widya malu sekali pada Najib.


"Pasti bapak, ibu," jawabnya tersenyum. Lalu menyadari jawaban nya, ia melirik Widya yang menunduk.


"Masyaa Allah, harus mengabari abah dan ummi ini." Bapak dan ibu terlanjur mendengar jawaban Najib, Najib juga tidak bisa lagi mengatakan tidak, pada orang tua Widya.


"Kenapa jadi seperti ini, ustadz Najib kan sudah punya calon," batin Widya.


"Aku tidak masalah jika semua tahu, tapi bagaimana jika Widya tidak menyukai nya dan malah membenciku."


Saling sibuk dengan pikirannya masing-masing, mereka diam dengan mendengar obrolan ibu dan bapak.


Susah sih gak bisa baca pikiran, dan tidak mengerti perasaan orang a.k.a gak peka.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2