
"Arumi."
"Yusuf," ucap Arumi dan Widya
Mereka terkejut saat Yusuf menemui mereka, tepatnya Arumi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Yusuf mendekat ke arah mereka.
"Arumi, kita perlu bicara berdua." Ucapnya sembari menatap Widya sebagai kode agar meninggalkan Yusuf dan Arumi.
"Maaf suf aku gak bisa."
"Arumi tolong!" Yusuf sangat memohon agar bisa berbicara dengan Arumi.
"Tolong juga ya Yusuf, kamu jangan maksa!"
"Aku bicara sama Arumi Wid, bukan kamu."
"Eh suf, kita memang berteman. Tapi sekarang kamu punya istri dan Arumi punya suami, jaga batasan. Agar tidak terjadi timbulnya fitnah aku harus tetap ada di dekat kalian jika ingin mengobrol untuk menemani Arumi." Ucap Widya yang tidak mau meninggalkan Arumi hanya berdua dengan Yusuf.
"Baiklah kamu tetap disini." Akhirnya Yusuf pasrah dengan tetap ada Widya disitu.
"Arumi, aku cinta sama kamu, aku mau kita bersama mi" ungkapnya.
"Apa maksud perkataan kamu Yusuf? tarik ucapan kamu."
"Aku tidak akan menarik ucapanku, aku akan melepas Zahra asal kamu mau sama aku mi." Yusuf memang dari Arumi baru masuk pondok pesantren, ia sudah sangat menyukai Arumi.
"Suf apaan sih, kamu itu udah punya istri suf sahabat kita, istighfar."
"Ini semua salah abah, abah yang melamar Zahra padahal aku mengharapkan kamu mi." Arumi dan Widya terkejut.
"Jangan bicara omong kosong suf." Arumi tidak ingin menyalahkan mertuanya.
"Aku yang menyuruh abah melamar kamu mi, tapi abah malah melamar Zahra untukku dan melamar kamu untuk gus Abyan."
"Mungkin dari kesalahan itu, kita memang ditakdirkan tidak berjodoh suf." Sebenarnya Arumi syok, ternyata saat Yusuf mengatakan akan melamarnya waktu itu benar, hanya saja tidak jelas.
"Tapi aku cintanya sama kamu mi, bukan sama Zahra."
"Sadar kamu suf, Arumi istri orang jangan sembarangan ngomong cinta." Widya menyela.
__ADS_1
"Apa kamu mengatakan pada abah, kalau sebenarnya aku yang akan kamu khitbah waktu itu?"
Yusuf menggeleng. "Aku hanya mengatakan pada abah kalau aku ingin menikah, lalu Abah yang menawarkan untuk melamar, tanpa bertanya. Aku juga tidak memberitahukan kalau itu kamu, menurut ku abah sudah tahu, jadi aku tidak menyebutkan namanya."
Arumi dan Widya saling bertatapan, mereka mengerti sekarang kesalahan sebenarnya tidak sepenuhnya abah, tapi juga Yusuf.
"Tapi disini kamu juga bersalah, kamu jangan nyalahin abah," ucap Arumi.
"Kenapa mi? apa karena beliau mertua kamu, iya?"
"Iya kenapa? abah memang mertuaku, jadi apalagi yang mau kamu bicarakan? sudah selesai? kalau sudah aku dan Widya akan pergi." Arumi beranjak dari duduknya.
"Arumi." Tangan Arumi lagi-lagi Yusuf mencekal nya.
"Yusuf, apa yang kamu lakukan?"
"Lepaskan tangan Arumi suf." Widya mencoba melepaskan tangan Yusuf dari Arumi.
"Tidak! sebelum Arumi mau menikah denganku."
"Kamu sudah gila suf," ucap Arumi.
"Aku memang sudah gila, karena kamu mi."
"Lepasin tangan kamu suf, aku tidak mau terjadi fitnah."
"Lepas," Arumi memberontak.
"LEPASKAN TANGAN ISTRI SAYA....!" Teriak dengan nada dingin nya.
Yusuf, Arumi dan Widya beralih ke arah orang itu.
"Mas Aby," ucap Arumi.
"Saya bilang lepaskan tangan kamu dari istri saya." Abyan yang terlihat sudah memanas.
Yusuf sedikit mengendorkan cekalan nya, dan Arumi buru-buru mengambil kesempatan itu menarik tangannya dan menjauh.
Melihat Abyan yang berjalan sambil menatap nya dingin, Arumi menunduk. Ia gemetar akibat tangannya yang dicekal dan gemetar setelah kedatangan suaminya.
Arumi takut suaminya itu mengira dirinya dekat dengan lelaki lain selain Abyan.
"Widya, tolong bawa Arumi ke mobil." Arumi dan Widya langsung ke mobil Abyan.
"Apa yang membuat kamu mendekati istri saya?" tanya Abyan setelah istrinya jauh.
__ADS_1
Abyan yang baru saja selesai mengajar, lalu mencari keberadaan istrinya untuk menanyakan sudah akan pulang, atau masih ada kelas.
Namun ia tak sengaja melihat istrinya di tahan seseorang.
Abyan belum mengetahui siapa? ia mendengar pembicaraan mereka sebelum akhirnya mendekat dan tak menyangka, ternyata orang yang sama dengan waktu mereka ke acara pernikahan sebelum mereka sah menikah.
"Saya mencintai Arumi, harusnya saya yang menikah dengannya bukan anda gus."
"Lalu kenapa baru sekarang kamu mengatakan akan menikahi istri saya yang jelas-jelas sudah punya suami."
"Itu karena kesalahan abah yang salah melamar untuk saya."
"Apa saya harus percaya sama kamu? dari pada orang tua saya?"
"Tapi itu faktanya gus, abah yang melamar kan Zahra untuk saya, lalu malah Arumi untuk gus Abyan."
"Bukankah itu sudah pas? untuk apa di permasalahkan kalau kita sudah mempunyai pasangan masing-masing."
"Masalah untuk saya, karena Arumi milik saya."
"Arumi istri saya, jadi dia milik saya. Saya tidak peduli dengan yang kamu katakan, tapi jauhi istri saya mulai sekarang!" Setelah mengatakan itu Abyan berbalik meninggalkan Yusuf.
"Saya tidak akan menjauhi Arumi." Membuat Abyan menghentikan langkahnya.
"Saya akan merebut Arumi dari anda gus," teriaknya saat Abyan kembali berjalan lagi menuju mobil dimana ia memarkir nya.
Abyan pergi dengan tangan yang mengepal kuat.
Widya melihat Abyan mendekat langsung menyuruh Arumi untuk bersiap masuk mobil.
Widya takut sahabat nya di marahi Abyan, Arumi juga seperti itu ia melupakan tangannya yang membiru.
Arumi dan Abyan sudah berada di dalam mobil.
"Mas Aby," ucap Arumi melirik suaminya yang sibuk memasang seat belt.
Tanpa ada jawaban dari Abyan membuat Arumi menghadap kaca mobil, ia mengerti Abyan pasti marah.
Arumi mencoba memasang seat belt nya, namun sedikit meringis karena pergelangan tangan nya.
Abyan melirik Arumi yang kesusahan sambil meneteskan air mata nya.
Arumi menangis karena Abyan tidak menjawab nya, ia menangis tanpa bersuara.
Dibantu dong gus gimana sih belajar sini sama othor, masalah begini saja masa harus othor turun tangan.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang
Annyeong love